Breaking News:

Nasib Aulia Kesuma Setelah Bunuh Suami & Anak Tiri, Kini Hadapi Vonis Mati, Ini Kata Pengacara

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Aulia Kesuma terhadap suami dan anak tirinya, Pupung dan Dana, memasuki babak baru.

Editor: galuh palupi
TribunJakarta.com/Annas Furqon Hakim
Dua terdakwa pembunuhan, Aulia Kesuma dan Geovanni Kelvin, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (10/2/2020) 

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Aulia Kesuma terhadap suami dan anak tirinya, Pupung Sadili dan Dana, memasuki babak baru.  

Pembunuhan keji yang dilakukan pada 23 Agustus 2019 lalu itu telah melalui serangkaian proses hingga kini memasuki tahap persidangan dan vonis terhadap para pelaku.  

Aulia Kesuma dan putra kandungnya, Geovanni Kelvin, divonis bersalah atas peristiwa tragis yang menimpa Pupung dan Dana.

Aulia Kesuma, istri pembakar jenazah Pupung Sadili dan M Adi Pradana, suami dan anak tirinya
Aulia Kesuma, istri pembakar jenazah Pupung Sadili dan M Adi Pradana, suami dan anak tirinya (Tribunnews)

Bahkan, hakim telah memvonis keduanya dengan hukuman mati.

Hal itu membuat pihak Aulia Kesuma mengajukan keberatan.

 Aulia Kesuma Sempat Minta Bantuan Mantan ART untuk Mencari Dukun Guna Menyantet Anak dan Suaminya!

Kuasa Hukum Aulia Kesuma dan Geovanni Kelvin, Firman Candra mengatakan vonis hukuman mati atas kliennya dinilai terlalu sadis.

Di tengah seluruh dunia yang menghapus hukuman mati, vonis terhadap kliennya dinilai bertentangan dengan HAM.

"Kami terus terang sebagai kuasa hukum melihat ini terlalu sadis. Pertama semua negara sudah menghapus yang namanya hukuman mati dan kasus apapun baik pembunuhan, baik tindak pidana korupsi ataupun kasus lain," kata Firman saat ditemui usai sidang putusan kliennya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (15/6/2020).

Ia menuturkan vonis hukuman mati bertentangan dengan deklarasi universal terkait hak asasi manusia (HAM). Vonis tersebut dinilai akan bertentangan dengan deklarasi tersebut.

"Karena semua negara menghapus hukuman mati. Kenapa Indonesia masih bersikeras ada hukuman mati? di deklarasi universal hak asasi manusia semua sudah hampir semua dihapuskan. itu yang akan kita perjuangkan," jelasnya.

Halaman Selanjutnya >

Sumber: Tribunnews.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved