Breaking News:

Ki Manteb Sudarsono Meninggal

Kronologi Meninggalnya Dalang Ki Manteb Soedharsono, Positif Covid-19 hingga Tak Sempat Dibawa ke RS

Kronologi meninggalnya Ki Manteb Sudarsono, sempat dinyatakan positif terpapar Covid-19 hingga tak sempat dibawa ke rumah sakit

TribunJambi.com/ist
Ki Manteb Soedharsono Meninggal Dunia, berikut kronologinya 

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kronologi meninggalnya dalang kondang Ki Manteb Sudarsono.

Sempat dinyatakan positif Covid-19 hingga tak sempat dibawa ke rumah sakit.

Ki Manteb Sudarsono meninggal di kediamannya di Desa Doplang, Karangpandan, Karanganyar, Jumat (2/7/2021).

Ia menghembuskan napas terakhir tepatnya pada pukul 09.45 WIB.

Sebelum wafat, Ki Manteb Sudarsono ternyata sempat menghibur masyarakat lewat pagelaran wayangnya.

Ki Manteb Sudarsono meninggal dunia setelah dinyatakan positif Covid-19.

Ia diketahui positif terpapar virus corona sehari sebelumnya, Kamis (1/7/2021).

Berikut ini kronologi meninggalnya Ki Manteb Sudarsono.

Baca juga: Profil Ki Manteb Sudarsono, Simak Perjalanan Karier Dalang Setan, Tenar dengan Jargon Pancen Oye

Baca juga: 4 Fakta Ki Manteb Sudarsono, Belajar dari 2 Dalang Legendaris hingga Jadi Bintang Iklan Obat

1. Pulang dari Jakarta

Menurut Ade Irawan, Sekretaris Desa Doplang,  Ki Manteb baru pulang dari Jakarta pada Sabtu (26/6/2021). 

Di Jakarta dia sempat menggelar pentas wayang. 

Sepulang dari Jakarta, Ki Manteb ternyata masih menyempatkan pentas live streaming di pendopo pada Minggu (27/6/2021) malam. 

"Waktu pentas itu badannya sudah tidak enak," aku Ade Irawan. 

2. Hasil swab antigen positif

Esoknya atau Senin (28/6/2021), kondisi Ki Manteb semakin tidak baik. 

Oleh pihak keluarga dia dipanggilkan dokter dari Sragen.

Ki Manteb sempat diinfus, namun saat itu kondisinya tidak berangsur membaik. 

Akhirnya pihak keluarga menelpon Mantan Bupati Sragen. 

Mantan Bupati Sragen ini mengirimkan dokter ke rumah Ki Manteb untuk mengecek kondisinya. 

Saat itu KI Manteb dan istri sempat di tes swab antigen. 

"Hasilnya pak Manteb dan ibu positif, tapi sopirnya negatif," aku Ade Irawan. 

3. Tak sempat dibawa ke RS 

Pada Kamis (1/7/2021), kondisi Ki Manteb semakin berat. 

Dia mengalami batuk-batuk, namun dahaknya tidak bisa keluar.

Hal ini disebabkan karena ada riwayat paru-paru yang diidapnya. 

Jumat (2/7/2021) pagi, Ki Manteb semakin sakit karena asupan makanannya yang kurang. 

Pihak keluarga berencana membawa Ki Mantep ke rumah sakit, namun sebelum dibawa nyawa dalang yang dikenal dengan jargon "Oskadon Ancen Oye" ini tak tertolong. 

Ki Manteb mengembuskan nafas terakhirnya pukul 09.45 WIB. 

Rencananya jenazah Ki Manteb akan dimakamkan dengan standar protokol Covid-19 di tempat pemakaman setempat hari ini.

Rekan Ki Manteb, Sugeng Nugroho mengatakan, Ki Manteb sering berobat soal permasalahan paru-parunya.

"Beliau sering berobat soal permasalahan paru-parunya," ujar Sugeng.

Almarhum akan dimakamkan pada hari ini di kediamannya di Dusun Sekiteran, Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar.

Dalam dunia pewayangan, Ki Manteb juga menjabat sebagai penasehat di organisasi Paguyuban Dalang Surakarta.

"Beliau salah satu senior dan guru bagi para dalang di Indonesia," terang Sugeng.

Kiprahnya dalam dunia wayang juga diabadikan dalam buku "Ki Manteb Soedarsono Pemikiran dan Karya Pedalangannya".

Bahkan, Sugeng menyampaikan, dirinya banyak menulis ide dan gagasan Ki Manteb dari balik kisah pewayangan.

"Saya menulis ide dan gagasan beliau dari balik kisah pewayangan," ungkap Sugeng.

Berikut ini profil dan biodata Ki Manteb Soedharsono: 

KI Manteb Soedharsono, dalang kondang yang meninggal dunia karena Covid-19, Jumat (2/7/2021). Berikut ini profilnya.
KI Manteb Soedharsono, dalang kondang yang meninggal dunia karena Covid-19, Jumat (2/7/2021). Berikut ini profilnya. (dok.surya/tribunnews)

1. Putra dalang

Ki Manteb Soedharsono lahir di Palur, Mojolaban, Sukoharjo, 31 Agustus 1948. 

Dikutip dari wikipedia, Manteb Soedharsono adalah putra seorang dalang pula, bernama Ki Hardjo Brahim.

Ia dilahirkan di Dusun Jatimalang, Kelurahan Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Ki Hardjo Brahim adalah seniman tulen yang tidak memiliki pekerjaan lain kecuali mendalang.

Manteb sebagai putra pertama dididik dengan keras agar bisa menjadi dalang tulen seperti dirinya.

Ki Hardjo sering mengajak Manteb ikut mendalang ketika ia mengadakan pertunjukan.

Sementara itu, ibu Manteb yang juga seorang seniman, penabuh gamelan, lebih suka jika putranya itu memiliki pekerjaan sampingan.

Itulah sebabnya, Manteb pun disekolahkan di STM Manahan, Solo.

Namun sejak kecil Manteb sudah laris sebagai dalang sehingga pendidikannya pun terbengkalai.

Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti sekolah untuk mendalami karier mendalang.

2. Berguru ke Ki Narto Sabdo

Untuk meningkatkan keahliannya, Manteb banyak belajar kepada para dalang senior, misalnya kepada dalang legendaris Ki Narto Sabdo pada tahun 1972, dan kepada Ki Sudarman Gondodarsono yang ahli sabet, pada tahun 1974.

Pada tahun '70 dan '80-an, dunia pedalangan wayang kulit dikuasai oleh Ki Narto Sabdo dan Ki Anom Suroto.

Ki Manteb berusaha keras menemukan jati diri untuk bisa tetap eksis dalam kariernya.

Jika Ki Narto mahir dalam seni dramatisasi, sedangkan Ki Anom mahir dalam olah suara, maka Ki Manteb memilih untuk mendalami seni menggerakkan wayang, atau yang disebut dengan istilah sabet.

Ki Manteb mengaku hobi menonton film kung fu yang dibintangi Bruce Lee dan Jackie Chan, untuk kemudian diterapkan dalam pedalangan.

Untuk mendukung keindahan sabet yang dimainkannya, Ki Manteb pun membawa peralatan musik modern ke atas pentas, misalnya tambur, biola, terompet, ataupun simbal.

Pada awalnya hal ini banyak mengundang kritik dari para dalang senior. Namun tidak sedikit pula yang mendukung inovasi Ki Manteb.

Keahlian Ki Manteb dalam olah sabet tidak hanya sekadar adegan bertarung saja, tetapi juga meliputi adegan menari, sedih, gembira, terkejut, mengantuk, dan sebagainya.

Selain itu ia juga menciptakan adegan flashback yang sebelumnya hanya dikenal dalam dunia perfilman dan karya sastra saja.

Ia berpendapat jika ingin menjadi dalang sabet yang mahir, maka harus bisa membuat wayang dengan tangannya sendiri.

Karena keterampilannya dalam memainkan wayang, ia pun dijuluki para penggemarnya sebagai Dalang Setan.

3. Mulai terkenal

Ki Manteb mulai mendalang sejak kecil. Namun, popularitasnya sebagai seniman tingkat nasional mulai diperhitungkan publik sejak ia menggelar pertunjukan Banjaran Bima sebulan sekali selama setahun penuh di Jakarta pada tahun 1987.

Ketika Ki Narto Sabdo meninggal dunia tahun 1985, seorang penggemar beratnya bernama Soedharko Prawiroyudo merasa sangat kehilangan.

Soedharko kemudian bertemu murid Ki Narto, yaitu Ki Manteb yang dianggap memiliki beberapa kemiripan dengan gurunya itu.

Ki Manteb pun diundang untuk mendalang dalam acara khitanan putra Soedharko.

Sejak itu, hubungan Sudarko dengan Ki Manteb semakin akrab.

Sudarko pun bertindak sebagai promotor pergelaran rutin Banjaran Bima di Jakarta yang dipentaskan oleh Ki Manteb.

Pergelaran tersebut diselenggarakan setiap bulan sebanyak 12 episode sejak kelahiran sampai kematian Bima, tokoh Pandawa.

Ki Manteb mengaku, Banjaran Bima merupakan tonggak bersejarah dalam hidupnya. Sejak itu namanya semakin terkenal. Bahkan, pada tahun '90-an, tingkat popularitasnya telah melebihi Ki Anom Suroto, yang juga menjadi kakak angkatnya.

4. Rekor dalang 24 jam

Pada tanggal 4–5 September 2004, Ki Manteb membuat rekor dengan mendalang 24 jam tanpa henti dengan lakon Baratayudha.

Pertunjukannya ini bertempat di RRI Semarang, Jalan A. Yani 144–146 Semarang.

Berkat pementasannya ini, ia mendapatkan rekor MURI pentas wayang kulit terlama.

Dan hebatnya, meskipun telah mendalang selama 24 jam itu, dokter yang memeriksa kesehatan Ki Manteb setelah pentas menyatakan bahwa kondisi Ki Manteb sangat prima.

5. Prestasi

Berikut prestasi yang diraih Ki Manteb Soedharsono:

Pada tahun 1982 Ki Manteb menjadi juara Pakeliran Padat se-Surakarta. Prestasi tersebut membuat namanya mulai menanjak.

Tahun 1995 Ki Manteb mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto berupa Satya Lencana Kebudayaan.

Pada awal tahun 1998 Ki Manteb menggelar pertunjukkan kolosal di Museum Keprajuritan Taman Mini Indonesia Indah, dengan lakon Rama Tambak. Pergelaran yang sukses ini mendapat dukungan dari pakar wayang STSI.

Pada tahun 2004 Ki Manteb memecahkan rekor MURI mendalang selama 24 jam 28 menit tanpa istirahat.

Tahun 2010 penghargaan “Nikkei Asia Prize Award 2010” dalam bidang kebudayaan dianugerahkan kepada Ki Manteb Soedharsono karena kontribusinya yang signifikan bagi kelestarian dan kemajuan kebudayaan Indonesia terutama wayang kulit.

(Surya.co.id)

Sebagian artikel ini telah tayang di Surya.co.id dengan judul Kronologi Ki Manteb Soedharsono Meninggal Dunia setelah Pentas Live Streaming, Belum Sempat ke RS

Baca artikel terkait Ki Manteb Sudarsono lainnya di sini

Sumber: Surya
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved