Breaking News:

5 FAKTA Herry Wirawan Rudapaksa Santriwati, Doktrin Korban & Sogok Keluarga, Alasan Tak Minta Aborsi

Terkuak sederet fakta baru terkait kelakuan bejat Herry Wirawan, guru yang merudapaksa 21 santriwati.

Editor: ninda iswara
Istimewa
Herry Wirawan, guru ngaji bejat yang rudapaksa 12 santriwati di bawah umur hingga hamil, ini fakta barunya 

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Terkuak sederet fakta baru terkait kelakuan bejat Herry Wirawan, guru yang merudapaksa 21 santriwati.

Mengetahui para santriwati hamil karena ulahnya, guru bejat di Pesantren Manarul Huda Antapani ini tak meminta mereka untuk aborsi.

Alasan Herry Wirawan tak meminta korban untuk aborsi pun buat geram.

Aksi bejat guru tersebut dilakukan sejak 2016 di Pesantren Manarul Huda dan di Madani Boarding School di Cibiru.

Jumlah korbannya 21 santri, delapan di antaranya hamil.

TribunJabar.id merangkum beberapa fakta baru mengenai perilaku biadab Herry Wirawan. Ini dia faktanya:

1. Alasan tak minta korbannya untuk aborsi: Duit!

Ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan, tentang kasus Herry Wirawan, harus dilihat lebih detail hubungan antara pelaku dan korban.

Baca juga: Bejat Sekali! Istri Ridwan Kamil Ngamuk, Guru Pesantren Rudapaksa 12 Santri, 8 Melahirkan, 2 Hamil

Baca juga: WAJAH Oknum Guru Pesantren Rudapaksa 12 Santriwati, Janjikan Ini ke Korban, Kemenag Tutup Sekolah

Tampang oknum guru dan ustaz yang rudapaksa 12 santriwati
Tampang oknum guru dan ustaz yang rudapaksa 12 santriwati (Istimewa)

"Masalah ini sebaiknya tak dilihat dari sisi pelaku-korban saja. Dalam kasus oknum guru bejat Herry Wirawan, misalnya, ada dua pertanyaan yang belum terjawab. Pertama, mengapa dia tidak meminta para santri mengaborsi janin mereka," kata Reza Indragiri Amriel saat dihubungi pada Sabtu (12/12/2021).

Selama ini, kata dia, dalam banyak kasus pencabulan baik anak maupun dewasa, pelaku kerap meminta korban untuk aborsi. Sebut saja kasus Bripda Randy.

"Padahal, lazimnya, kriminal berusaha menghilangkan barang bukti. Kedua, apakah selama bertahun-tahun para santri tidak mengadu kepada orang tua mereka," kata Reza.

Salah satu fakta persidangan menyebutkan, anak-anak yang dilahirkan oleh santriwati di bawah umur ini diakui sebagai anak yatim piatu.

Kemudian, oleh Herry Wirawan, dijadikan alasan untuk mencari duit kepala sejumlah pihak.

"Dan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk para korban juga diambil pelaku. Salah satu saksi memberikan keterangan bahwa ponpes mendapatkan dana BOS yang penggunananya tidak jelas, serta para korban dipaksa dan dipekerjakan sebagai kuli bangunan saat membangun gedung pesantren di daerah Cibiru," ucap Diah Kurniasari, Ketua P2TP2A Kabupaten Garut.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved