TINGKAH Putri Candrawathi Saat Diperiksa Buat LPSK Bingung, Istri Sambo Nangis: 'Malu Mbak, Malu'
30 hari Brigadir J tewas, Putri Candrawathi masih enggan buka suara. Istri Ferdy Sambo malah nangis dan mengaku malu.
Editor: octaviamonalisa
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo tak kunjung berikan keterangan yang jelas terkait kasus kematian Brigadir J.
30 hari berlalu, hingga kini motif Ferdy Sambo menghabisi ajudannya, Brigadir J masih mengudang teka-teki.
Pasalnya Putri Candrawathi yang menjadi saksi pun hingga kini belum memberikan kesaksian yang jelas.
Malahan tingkah Putri Candrawathi saat diperiksa justri membuat tim LPSK bingung.
Bagaimana tidak, belum sempat bercerita apapun,istri Ferdy Sambo ini sudah menangis dan mengatakan jika ia merasa malu.
Hal ini diungkap oleh ketua LPSK saat tim-nya mendatangi Putri Candrawathi untuk meminta asesmen psikologi di kediamannya, Kompleks Pertambangan, Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Baca juga: Makanya Nyawanya Jadi Hilang Keluarga Curiga, Niat Baik Brigadir J ke Putri Buat Sambo Tega Habisi
Baca juga: POTRET Akrab Brigadir J & Putri Candrawathi, Istri Sambo Senyum Selfie Bareng Para Ajudan Suaminya

Sebanyak 5 orang LPSK tiba menemui Putri Candrawathi di rumahnya pukul 10.20 WIB.
LPSK menjemput karena tim pengacara mengaku kliennya masih trauma sehingga tak mungkin ke kantor LPSK.
Sebenarnya, LPSK tak masalah di mana pun meminta asesmen psikologi Putri Candrawathi asal sebagai pemohon mau memberikan keterangan.
Hasil asesmen psikologi ini menjadi pertimbangan LPSK untuk menerima atau menolak permohonan perlindungan untuk Putri Candrawathi.
Karena punya batas waktu 30 hari kerja.
Setelah tiga jam, LPSK keluar dari rumah pribadi Ferdy Sambo sekitar pukul 13.30 WIB.
Tapi hasilnya dianggap tak signifikan.
Belakangan terungkap, Putri Candrawathi tak memberikan keterangan utuh karena mengaku malu memberi keterangan kepada tim psikolog LPSK.
"Malu Mba, malu," ucap Putri Candrawathi seperti ditirukan Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi menyoal hasil yang didapat tim LPSK saat ditemui di LPSK, Rabu (10/8/2022).

Tim asesmen psikologi LPSK, sambung Edwin Partogi, sempat bertanya apa yang membuat Putri Candrawathi malu mengungkapkan.
"Malunya kenapa, kita enggak tahu," sambung Edwin Partogi.
LPSK menyatakan, terlepas status hukum dan permohonan perlidungan, Putri Candrawathi memang membutuhkan penanganan medis dari psikiater.
Menurut Edwin Partogi, penanganan medis atas kondisi Putri Candrawathi ini bisa didapat tanpa perlu permohonan perlindungannya disetujui.
Ia pun menyarankan pihak keluarga lekas mengambil langkah untuk layanan psikologis, konseling, atau psikiater secara pribadi untuk Putri Candrawathi.
"Ibu P dan keluarga punya kemampuan.
Enggak perlu pakai layanan LPSK juga itu selesai lah," tutur dia.
Malamnya Menangis
Dugaan laporan pelecehan dan pengancaman Brigadir J ini menjadi warna di balik kematian Brigadir J yang dihabisi oleh ajudan lain atas perintah Ferdy Sambo.
Bahkan, saat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan Ferdy Sambo sebagai tersangka pembunuhan berencana Brigadir J pada Selasa malam, tak terungkap motifnya.
"Masih dilakukan pendalaman terhadap saksi termasuk ibu PC (Putri Candrawathi)," terang Listyo diplomatis saat ditanya soal motif.
Jauh sebelum itu, kuasa hukum sempat menyinggung soal parfum Putri Candrawathi yang dipakai Brigadir J yang mana itu dianggap perbuatan lancang.
Sementara kuasa hukum Ferdy Sambo menyebut tindakan jenderal bintang dua mantan Kadiv Propam itu tak lebih melindungi martabat keluarga.
Belakangan, Menko Polhukam Mahfud MD membocorkan motif yang membuat Ferdy Sambo menghabisi nyawa Brigadir J terkait urusan orang dewasa.
"Mungkin sensitif hanya boleh didengar oleh orang dewasa," kata Mahfud dalam konferensi pers di Kemenko Polhukam tak lama setelah pengumuman Ferdy Sambo sebagai tersangka.

Menurut Mahfud MD, terpenting saat ini Polri sudah membuka kasus pembunuhan berencana ini secara terang benderang.
"Biar nanti dikonstruksi polisi apa motifnya, kan sudah banyak di tengah masyarakat," kata dia lagi.
Terselip cerita, saat pengumuman Ferdy Sambo sebagai tersangka, rumahnya digeledah Timsus Polri bentukan Kapolri. Tapi Putri Candrawathi tak menyaksikan.
Putri Candrawathi memilih berada di dalam dan terus menangis disaksikan seorang Polwan, pengacara dan empat petugas Bareskrim Polri.
Cerita itu muncul dari mulut Yosef, Ketua RT 07/RW 02 Kompleks Pertambangan, Duren Tiga, Jakarta Selatan, kepada wartawan pada Rabu (10/8/2022).
Dia tahu betul kondisi Putri Candrawathi karena sebagai pemangku wilayah, dilibatkan untuk menyaksikan penggeledahan.
Penggeledahan di rumah Ferdy Sambo berlangsung dari pukul 15.00 WIB sampai Rabu dini hari.
Baca juga: POTRET Rumah Ferdy Sambo yang Dihuni Brigadir J Saat Hidup, 2 Tahun Suami Putri Cuek Tak Lapor RT
"Sampai terakhir jam 01.00 saya," kata Yosef.
Kediaman Yosef di Jalan Saguling IV, hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah Ferdy Sambo.
Yosef melihat Timsus Polri menggeledah menyeluruh semua ruangan dan setiap sudut rumah.
"Saya ikut ke setiap ruangan. Saya masuk ada Ibu Putri, ada pengacara, Polwan satu, Bareskrim ada empat orang," ungkap Yosef.
Ia memastikan Putri Candrawathi terus menangis di dalam kamar dan tidak ikut menyaksikan jalannya proses penggeledahan.
"Katanya sih, dia (Putri Candrawathi) menangis terus.
Jadi susah begitu ya.
Ibu di kamar saja, agak syok begitu, menangis.
Pengacara bilang dia nangis gitu saja," tutur Yosef.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJakarta.com dengan judul Putri Candrawati Ucap ''Malu Mba, Malu'' Disinggung Soal Perbuatan Brigadir J, Malamnya Menangis