Breaking News:

Penjelasan Lengkap Arti Hari Rabu Wekasan 2022 & Apa Hukumnya dalam Agama Islam

Penjelasan lengkap tentang hari Rabu wekasan 2022 dan hukum dalam islam.

Editor: Candra Isriadhi
SURYA.CO.ID
Ilustrasi Rabu wekasan. Penjelasan lengkap tentang hari Rabu wekasan 2022 dan hukum dalam islam. 

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Penjelasan lengkap Rabu wekasan 2022 dan hukum dalam islam.

Sebagian masyarakat pasti ada yang belum paham tentang Rabu wekasan.

Rabu wekasan merupakan tradisi yang dilakukan beberapa masyarakat Indonesia.

Dimana tradisi tersebut dilakukan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Penjelasan mengenai tradisi Rabu wekasan dan hukumnya menurut Islam

Dikutip dari laman Pesantren Tambakberas Jombang, Selasa (20/9/2022), tradisi Rabu wekasan merupakan tradisi yang dilakukan untuk memohon memohon perlindungan kepada Allah Swt dari berbagai macam malapetaka yang akan terjadi pada hari tersebut.

Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura dan lainnya.

Baca juga: Bacaan Doa Awal dan Akhir Tahun Sambut Tahun Baru Islam 2022, Ini Waktu Terbaik Membacanya

Baca juga: NIAT Zakat Fitrah Bagi Diri Sendiri & Keluarga yang Wajib Dilakukan Umat Islam Jelang Idul Fitri

Rabu wekasan 2022 jatuh tanggal berapa? Simak penjelasan dan hukumnya menurut Islam.
Rabu wekasan 2022 jatuh tanggal berapa? Simak penjelasan dan hukumnya menurut Islam. (SURYA.CO.ID)

Traidis Rabu wekasan itu diisi dengan sejumlah kegiatan mulai dari shalat tolak bala, berdoa dengan doa-doa khusus, minum air jimat dan selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.

Lantas, bagaimana hukum atau pandangan Islam atas tradisi Rabu wekasan ini?

Masih dikutip dari Pesantren Tambakberas, berikut penjelasannya yang Tribunnews.com kutip secara lengkap:

Untuk menyikapi masalah tradisi Rabu wekasan ini, kita perlu meninjau dari berbagai sudut pandang.

Pertama, rekomendasi sebagian ulama sufi (waliyullah) tersebut didasari pada ilham. Ilham adalah bisikan hati yang datangnya dari Allah (semacam “inspirasi” bagi masyarakat umum). Menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh, ilham tidak dapat menjadi dasar hukum. Ilham tidak bisa melahirkan hukum wajib, sunnah, makruh, mubah, atau haram.

Kedua, ilham yang diterima para ulama tersebut tidak dalam rangka menghukumi melainkan hanya informasi dari “alam ghaib”. Jadi, anjuran beliau-beliau tidak mengikat karena tidak berkaitan dengan hukum Syariat.

Ketiga, ilham yang diterima seorang wali tidak boleh diamalkan oleh orang lain (apalagi orang awam) sebelum dicocokkan dengan al-Qur’an dan Hadits. Jika sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits, maka ilham tersebut dapat dipastikan kebenarannya. Jika bertentangan, maka ilham tersebut harus ditinggalkan.

Halaman
123
Sumber: Surya
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved