Breaking News:

Sensor Cahaya Smartphone Berpotensi Memata-matai Pengguna, 'Menguping' Gerakan untuk Kumpulkan Data

Sensor cahaya ini kemudian akan menyesuaikan kecerahannya, jika sedang dalam kondisi pengaturan penyesuaian otomatis.

Editor: Sinta Manila
Ilustrasi canva/tribunkaltim
Ilustrasi penggunaan smartphone. 

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Dalam ponsel pintar yang kita gunakan ada sensor cahaya yang digunakan oleh ponsel untuk mendeteksi tingkat cahaya di lingkungan sekitarnya.

Sayangnya, perangkat elektronik ini juga dapat menjadi media bagi peretas untuk memata-matai penggunanya.

Hal ini bahkan sudah diteliti oleh para ahli, yang mana ada potensi peretasan lewat sensor cahaya.

Baca juga: Kakek Tua Temukan Gua yang Memancarkan Cahaya Kuning saat Naik Gunung, Dia Justru Terancam Hukuman

Kamera ponsel kerap dianggap sebagai ancaman keamanan karena dapat merekam aktivitas pengguna.

Namun, studi dari peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) Amerika Serikat mengungkap, peretas ternyata dapat memanfaatkan sensor cahaya ponsel untuk melacak dan merekonstruksi aktivitas pengguna.

Layar ponsel dapat mematai-matai

Dilansir dari Forbesambient light sensors atau sensor cahaya sekitar digunakan oleh ponsel untuk mendeteksi tingkat cahaya di lingkungan sekitarnya.

Sensor cahaya ini kemudian akan menyesuaikan kecerahannya, jika sedang dalam kondisi pengaturan penyesuaian otomatis.

Meski fitur ponsel lain memerlukan izin pengguna agar aplikasi dapat diakses, seperti kamera atau mikrofon, sensor cahaya biasanya tidak memerlukannya.

"Sensor cahaya sekitar harus selalu aktif agar berfungsi dan secara tradisional dianggap berisiko rendah," kata para peneliti.

Gambar berpiksel yang direkonstruksi dari gerakan tangan pada tablet Android. Peneliti menemukan, sensor cahaya sekitar pada ponsel bisa memata-matai pengguna dan merekam gambar aktivitasnya.
Gambar berpiksel yang direkonstruksi dari gerakan tangan pada tablet Android. Peneliti menemukan, sensor cahaya sekitar pada ponsel bisa memata-matai pengguna dan merekam gambar aktivitasnya. (Science Advances/Yang Liu dkk)

Dengan menggabungkan tampilan layar ponsel cerdas yang merupakan komponen aktif, serta sensor cahaya sekitar yang bersifat pasif, para peneliti menyadari bahwa pengambilan gambar di depan layar dapat dilakukan tanpa menggunakan kamera perangkat.

Kondisi inilah yang diyakini para peneliti dalam studi yang terbit pada jurnal Science Advances, Rabu (10/1/2024), dapat dieksploitasi.

Dipimpin oleh Yang Liu, tim di MIT mengembangkan algoritma yang mampu menggunakan variasi yang ditangkap sensor cahaya untuk merekonstruksi gambar interaksi sentuhan seseorang dengan ponselnya.

Mereka menguji algoritma tersebut pada tablet Android dengan berbagai skenario, termasuk mendudukkan boneka di depan layar dan menggunakan manekin, potongan karton, atau tangan manusia untuk menyentuhnya.

Dari sana, peneliti menemukan bahwa dalam kondisi apa pun, data sensor cahaya dapat digunakan untuk menangkap interaksi dengan layar dan membuat gambar dari interaksi tersebut.

Ilustrasi penggunaan smartphone.
Ilustrasi penggunaan smartphone. (Ilustrasi canva/tribunkaltim)

Hasil foto sangat buram

Sensor cahaya sekitar atau ambient light sensors dapat menangkap gambar interaksi sentuhan pengguna pada layar ponsel tanpa kamera.

Sensor-sensor tersebut juga dapat menguping gerakan biasa, seperti menggulir dan menggeser layar.

Bukan hanya itu, sensor pun mampu menangkap bagaimana pengguna berinteraksi dengan ponsel saat menonton video.

Misalnya, aplikasi dengan akses asli ke layar, termasuk pemutar video dan browser, dapat memata-matai pengguna untuk mengumpulkan data tanpa izin.

"Ancaman privasi pencitraan ini belum pernah ditunjukkan sebelumnya," ungkap Liu, dikutip dari IFL Science, Sabtu (20/1/2024).

Meski tampak menyeramkan, pengguna ponsel pintar tak perlu khawatir, karena ancaman peretasan dengan cara ini masih jauh dari kenyataan.

Menurut peneliti, kecepatan pengambilan gambar dalam penelitian ini adalah satu frame setiap 3,3 menit.

Artinya, pengambilan gambar terbilang cukup lambat, sehingga siapa pun yang mencoba "memata-matai" akan kesulitan mengikuti interaksi ponsel secara real-time.

Bahkan, jika peretas berhasil memata-matai dan mendapatkan gambar, hasilnya berpotensi sangat buram.

Memotret pakai smartphone
Memotret pakai smartphone (Kolase YouTube & The West Australian)

Langkah untuk mengurangi risiko

Namun demikian, dikutip dari laman MIT, para peneliti menemukan cara yang dapat membantu mengurangi sejumlah potensi risiko.

Tim menyarankan dua langkah mitigasi perangkat lunak untuk penyedia sistem operasi, yakni memperketat izin serta mengurangi presisi dan kecepatan sensor.

Pertama, para peneliti merekomendasikan untuk membatasi akses ke sensor cahaya sekitar dengan mengizinkan pengguna menyetujui atau menolak permintaan tersebut dari aplikasi.

Untuk lebih mencegah ancaman privasi, tim juga mengusulkan untuk membatasi kemampuan sensor.

Dengan mengurangi presisi dan kecepatan komponen-komponen ini, kemampuan sensor dalam menggali informasi pribadi akan berkurang.

Sementara itu, dari sisi perangkat keras, sensor cahaya sekitar tidak boleh menghadap langsung ke pengguna di perangkat pintar apa pun.

Sebagai gantinya, menurut peneliti, perlu ditempatkan di sisi yang tidak akan menangkap interaksi sentuhan signifikan.

Artikel diolah dari kompas.com

Sumber: Kompas.com
Tags:
TribunEvergreensensor cahayaponsel
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved