Wisata Alam
Cuma 45 Menit dari Temanggung, Ada Wisata Air Secantik Ini, Bisa Camping dengan View Gunung Sindoro
Inilah wisata alam menawan di Temanggung, Jawa Tengah. Jaraknya dari pusat Kabupaten Temanggung sekitar 21 km dengan waktu tempuh sekira 45 menit.
Editor: Febriana
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Berwisata ke Temanggung, Jawa Tengah tak lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke destinasi berikut ini.
Wisatawan akan disuguhi pemandangan air dan gunung yang indah sekaligus menyejukkan.
Jaraknya dari pusat Kabupaten Temanggung sekitar 21 kilometer dengan waktu tempuh sekira 45 menit.
Ya, itulah Embung Kledung yang merupakan salah satu alternatif tempat wisata yang bisa kamu kunjungi saat liburan.
Embung ini tak hanya terdiri dari kolam besar untuk menampung air hujan.
Namun, juga menyuguhkan indahnya panorama alam. Adapun keunikan Embung Kledung adalah letaknya yang berada di antara Gunung Sumbing dan Sindoro.
Alhasil, panorama kedua gunung itu bisa disaksikan sekaligus dari Embung Kledung yang membuatnya makin indah.
Terdapat beberapa spot foto Instagramable di Embung Kledung yang memiliki latar belakang Gunung Sumbing dan Sindoro.
Embung Kledung tepatnya berada di Desa Kledung, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Jaraknya dari pusat Kabupaten Temanggung adalah sekitar 21 kilometer (km) dengan waktu tempuh kurang-lebih 45 menit.
Jika ingin datang ke Embung Kledung, maka kamu harus memperhatikan jam bukanya terlebih dahulu.
Embung Kledung buka 24 jam. Namun, ada dua jenis jam buka di sini, yakni untuk wisata biasa (non-camping) dan untuk camping.

Baca juga: Cuma 1,5 Jam dari Jakarta, Ini 5 Tempat Ngabuburit Sekalian Liburan di Bogor, Adem Nunggu Buka Puasa
Untuk kunjungan wisata di Embung Kledung tanpa camping, maka jam bukanya adalah pukul 05.30 WIB sampai 18.00 WIB.
Harga tiket masuk untuk non camping juga berbeda dan lebih murah, yakni hanya Rp 7.000 per orang.
Wisatawan bisa berkeliling embung sembari menyaksikan panorama indah, juga berfoto di spot-spot foto.
Cuma 1 Menit dari Alun-alun Tegal, Ada Wisata Sejarah Seestetik Ini, Disebut 'Adiknya' Lawang Sewu
Jika membahas wisata di Kabupaten Tegal, pemandian air panas Guci mungkin menjadi tempat pertama yang terlintas di pikiran.
Namun ternyata, Tegal masih mempunyai banyak tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah kembaran Lawang Sewu berikut ini.
Ditinjau dari Google Maps, jaraknya sekitar 550 meter dari Alun-alun Tegal atau sekira 1 menit perjalanan.
Ya, itulah Gedung Semarang Cheriboon Stroomtram Maatschappij (SCS) atau yang lebih dikenal dengan nama Gedung Birao Tegal.
Gedung peninggalan Belanda tersebut sebenarnya sudah ada sejak 1913.
Tetapi menjadi viral setelah adanya penataan di sekitar kawasan gedung oleh Pemerintah Kota Tegal.
Kawasan yang dulunya dikenal kumuh sekarang menjadi elegan dan tertata.
Bahkan oleh masyarakat gedung tersebut disebut sebagai adiknya Lawang Sewu Semarang.
Mereka pun meyebutnya dengan nama Lawang Satus.
Lokasi Gedung Birao Tegal tersebut berada di jantung kota, tepatnya di Jalan Pancasila Kota Tegal.
Namun nampaknya banyak masyarakat yang belum mengetahui sejarah dari Gedung Birao Tegal.
Sejarawan Pantura, Wijanarto mengatakan, bangunan bersejarah yang dikenal dengan nama Gedung Birao tersebut merupakan kantor perusahaan kereta api yang bernama Semarang Cheriboon Stroomtram Maatschappij (SCS).
Izin trayeknya melayani jalur dari Semarang menuju Cirebon, melawati Pekalongan dan Tegal.
Baca juga: Kafe Seestetik Ini Ternyata Cuma 47 Menit dari Gerbang Tol Boyolali, dari Klaten Tak Sampai 2 Jam

SCS pun pada zamannya sejajar dengan perusahaan-perusahaan kereta api lainnya, seperti Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan Staatssporwegen (SS).
"Nah kantornya kemudian didirikan di Tegal, diresmikan pada 1913. Yang menarik, lanskap bangunannya itu merupakan pengaruh kawin mawin antara bangunan Eropa dan bangunan tropis di wilayah nusantara," kata Wijanarto kepada tribunjateng.com, Senin (28/6/2021).
Wijanarto menjelaskan, Gedung Birao Tegal merupakan hasil karya arsitektur indis bernama Henri MacLaine Pont.
Dia memadukan gaya arsitektur Eropa dan arsitektur Nusantara yang kini dikenal dengan nama arsitektur indis.
Karya-karya dari Henri MacLaine Pont di antaranya Gedung Birao, Stasiun Tegal, Kampus ITB Ganesha, Stasiun Poncol Semarang, dan Gereja Puhsarang di Kabupaten Kediri.
Wijanarto mengatakan, bangunan berciri lingkungan tropis tersebut memiliki beberapa keunikan.
Seperti di bagian bawah kantor yang memiliki rongga-rongga udara, bagian atasnya tinggi, serta mempunyai ventilasi dan jenda yang mengatur sirkulasi udara.
"Jadi Henri MacLaine Pont ini salah satu tokoh arsitektur yang sejajar dengan Thomas Karsten. Mereka memiliki keahlian mengadopsi ciri nusantara dengan ciri Eropa. Lahirlah apa yang disebut arsitektur indis," jelasnya.
Baca juga: Tak Sampai Sejam dari Gerbang Tol Boyolali, Ada Wisata Bunga Seindah Ini, Tiket Masuk Cuma Rp5 Ribu

Gedung Birao dari Masa ke Masa
Gedung Birao yang kini sering dijadikan background foto oleh masyarakat, rupanya pernah difungsikan untuk berbagai kepentingan. Bahkan pernah menjadi perkantoran dan digunakan sebagai kampus universitas di Kota Tegal.
Wijanarto mengatakan, pada masa penjajahan Jepang, SCS digunakan untuk kantor pemerintahan militer.
Karena lokasinya dekat dengan stasiun kereta api yang dulu sangat diperhitungkan sebagai moda transportasi.
Pada masa revolusi kemerdekaan 1945, Kantor Birao menjadi tempat favorit untuk pengibaran bendera merah putih.
Lalu, menurut Wijanarto, pernah juga menjadi kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), kantor dinas pekerjaan umum (PU), dan kantor keuangan.
Kemudian sebelum dikosongkan seperti saat ini, Gedung Birao difungsikan sebagai kampus Universitas Pancasakti (UPS) Kota Tegal.
"Yang menarik bahwa Kantor Birao itu pernah menjadi saksi perubahan dinamika politik di Kota Tegal. Pada pemerintahan Zakir, pernah terjadi aksi reformasi di sekitar Kantor Birao. Yang notabenenya banyak mahasiswa UPS menjadi reformis," ujarnya.
Sebagai sejarawan di Pantura Barat Jawa Tengah, Wijanarto mendukung, PT KAI untuk memanfaatkan Gedung Birao menjadi museum sejarah.
Ia menilai perlu ada museum sejarah yang hidup.
Artinya tidak hanya menggambarkan sejarah transportasi kereta api.
Namun juga perlu menyertakan dinamika morfologis di Kota Tegal.
"Saya berharap PT KAI yang menjadi pemangku bisa menjadikannya sama seperti Lawang Sewu. Menghadirkan biorama, potret-potret, dan memberikan bukti kesan kelampauan dan sejarah perkembangan kereta api di bawah perusahaan NIS," pungkasnya.
(TribunNewsmaker.com)(Kompas.com)(TribunJateng.com)