Virus Corona

Mengapa Wanita Hamil Dilarang Jadi Pendonor Plasma Konvalesen? Ini Penjelasan Ahli

Editor: galuh palupi
Seorang penyintas Covid 19 mendonorkan plasma konvalesen di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Lampung, Jalan Sam Ratulangi, Penengahan, Tanjungkarang Barat, Jumat (25/6/2021). UTD PMI Lampung menyebutkan, ketersediaan stok plasma konvalesen di Lampung kosong dan berupaya memenuhi kebutuhan plasma konvalesen di UTD PMI Lampung seiring tingginya permintaan guna menekan angka kematian akibat Covid 19.

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Plasma konvalesen menjadi hal yang banyak dicari ketika kasus Covid-19 kian melonjak.

Donor darah plasma konvalesen dilakukan oleh penyintas Covid-19 yang dipercaya telah memiliki antibodi terhadap virus.

Antibodi tersebut dapat membantu penderita Covid untuk sembuh.

Seorang penyintas Covid 19 mendonorkan plasma konvalesen di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Lampung, Jalan Sam Ratulangi, Penengahan, Tanjungkarang Barat, Jumat (25/6/2021). UTD PMI Lampung menyebutkan, ketersediaan stok plasma konvalesen di Lampung kosong dan berupaya memenuhi kebutuhan plasma konvalesen di UTD PMI Lampung seiring tingginya permintaan guna menekan angka kematian akibat Covid 19. (TRIBUN LAMPUNG/TRIBUN LAMPUNG/Deni Saputra)

Namun, tak semua penyintas bisa menjadi pendonor darah plasma konvalesen.

Satu golongan yang tak diperbolehkan adalah wanita hamil.

Bukan tanpa alasan jika wanita hamil dilarang untuk mendonorkan plasma konvalesen.

Ahli Terapi Plasma Konvalesen (TPK) Dr dr Theresia Monica Rahardjo SpAn KIC MSi mengatakan, pendonor lebih diutamakan laki-laki atau wanita yang single.

Baca juga: TIPS Cepat Sembuh Pasien Covid-19 yang Isoman, Konsumsi 2 Vitamin dan Mineral Ini, Lihat Dosisnya

"Tidak boleh wanita yang sudah hamil melahirkan atau keguguran karena demi keamanan dan keselamatan penerima plasma," dr Monica dalam perbincanganpya bersama Tribun Network, Jumat (16/7/2021).

Dr Monica menerangkan, wanita yang hamil, melahirkan, dan keguguran memiliki salah satu faktor yang bisa menyebabkan reaksi alergi pada penerimanya, reaksi alergi berat pada paru-paru yakni faktor HLA.

"Rumit jika dijelaskan. Tapi memang terapi diberikan oleh pendonor yang diutamakan laki-laki," ujarnya.

Halaman
1234