TRIBUNNEWSMAKER.COM - Berikut ini jawaban terbaik dari soal 'Apa alasan Bapak/Ibu guru memilih tugas tersebut sebagai pengalaman belajar yang paling bermakna?'
Soal 'Apa alasan Bapak/Ibu guru memilih tugas tersebut sebagai pengalaman belajar yang paling bermakna?' dapat Anda temukan dalam Platform Merdeka Mengajar atau PMM.
Soal dalam Platform Merdeka Mengajar ini ditujukan untuk Guru Penggerak di Indonesia.
Ketika dihadapkan dengan soal dalam Platform Merdeka Mengajar atau PMM, Anda perlu berpikir kritis.
Dengan berpikir kritis, Anda akan dengan mudah memberikan jawaban terbaik yang ada dalam pikiran Anda.
Jika Anda kesulitan dalam mengerjakan soal tersebut, simaklah penjelasan dalam artikel ini.
Artikel ini akan memberikan jawaban secara lengkap dan detail terkait pertanyaan tersebut.
Baca juga: Sebutkan Fitur di PMM yang Terdapat Artikel & Video Pembelajaran Terpusat! Jawaban Merdeka Mengajar
Selain itu Anda juga bisa mengembangkan jawaban Anda sendiri sesuai dengan pola pikir Anda.
Dengan demikian, Anda tak akan kesulitan saat dihadapkan dengan soal tersebut.
Namun, alangkah baiknya Anda dapat mengerjakan soal tersebut secara mandiri terlebih dahulu.
Bacalah ulasan berikut ini hingga tuntas!
Baca juga: Contoh Pelibatan Murid dalam Projek, Jawaban Post Test Modul 5 Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Soal:
Apa alasan Bapak/Ibu guru memilih tugas tersebut sebagai pengalaman belajar yang paling bermakna?
Jawaban:
Jawaban pertanyaan aksi nyata disajikan dalam bentuk uraian.
Masing-masing Bapak/Ibu guru memiliki jawaban berbeda sesuai pengalaman mereka sebagai pendidik di lapangan.
Berikut ini jawaban pertanyaan di atas, sebagaimana dikutip TribunNewsmaker.com dari rise.smeru.or.id/ pada Selasa, (27/8/2024):
Pengalaman saya selama mengajar yang paling berkesan ialah ketika saya mencoba menenangkan siswa dengan cara sedikit keras.
Hasilnya memang ampuh, siswa-siswa menjadi tenang dan duduk di bangku masing-masing.
Namun, ternyata terdapat sebuah kenyataan berbeda dari apa yang saya bayangkan.
Siswa yang tenang di kelas bukan berarti memerhatikan penjelasan saya. Mereka justru asyik dengan kegiatan masing-masing.
Baca juga: Jawaban Modul 3.3 Guru Penggerak, Pertanyaan Pemantik: Siapa yang Memegang Kendali Pembelajaran?
Ini terbukti saat saya memberi penguatan materi berupa proyek, para siswa sama sekali tidak dapat mengerjakannya.
Saya pun mencoba memotivasi ulang mereka dan melakukan bimbingan personal.
Pengalaman tersebut membuat saya berintrospeksi. Saya pun memutar otak untuk mencari cara agar siswa dapat belajar dengan maksimal dan bermakna.
Karena pembelajaran yang bermakna bukan tercermin dari kelas yang tenang, melainkan dari adanya komunikasi dua arah oleh siswa dan guru.
Pembelajaran yang bermakna dapat dilaksanakan dengan berbagai cara agar siswa mampu fokus terhadap materi yang diajarkan.
Pembelajaran yang bermakna bisa tetap dilakukan meski kadang kelas sedikit ramai.
Ini artinya, guru harus memiliki kemampuan penguasaan kelas, yaitu mampu mengkondisikan kelas jadi efektif untuk belajar.
Dengan begitu, siswa dapat memperoleh pembelajaran secara efektif, efisien, dan bermakna.
Setelah kejadian itu, saya lalu memvariasikan cara menenangkan siswa tanpa menggunakan nada marah. Saya mengganti pendekatan dengan berusaha memberikan pengertian kepada siswa-siswa di kelas.
Saya berujar “Hayo anak-anak pilih Bu Guru marah-marah apa bersabar?”. Tentu mereka memilih saya bersabar.
Saya lalu mencoba membuat mereka mengerti tentang tugas yang harus mereka kerjakan secara bertahap dan berulang-ulang.
Dengan cara ini, siswa tidak merasa tertekan, namun benar-benar memahami apa yang harus mereka kerjakan.
Pendekatan saya ini mungkin cocok diterapkan di kelas yang saya ajar, yaitu kelas 1 SD, tetapi belum tentu cocok untuk kelas lain.
Semoga artikel ini membantu!
Semoga beruntung!
Sumber: rise.smeru.or.id/
(TribunNewsmaker.com/TribunBogor)