Iran vs AS
Trump Dinilai Plin-plan Hadapi Iran, Sempat Marah hingga Beri Ancaman, Kini Setuju Gencatan Senjata
Trump dinilai plin-plan hadapi Iran, sempat marah hingga beri ancaman, kini setuju gencatan senjata.
Editor: Listusista Anggeng Rasmi
Ringkasan Berita:
- Sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Iran dinilai plin-plan.
- Sempat marah dan mengancam, Trump secara tiba-tiba mengubah sikapnya hanya dalam hitungan waktu yang sangat singkat.
- urang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ia tentukan sendiri pada Selasa malam (7/4/2026), ia justru memilih menangguhkan ancaman serangan terhadap Iran.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Iran kembali menjadi sorotan tajam di tengah dinamika geopolitik yang semakin memanas.
Dalam beberapa pekan terakhir, pernyataan dan kebijakan yang ia keluarkan dinilai publik menunjukkan ketidakkonsistenan yang cukup mencolok.
Situasi semakin menarik ketika Trump secara tiba-tiba mengubah sikapnya hanya dalam hitungan waktu yang sangat singkat.
Kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ia tentukan sendiri pada Selasa malam (7/4/2026), ia justru memilih menangguhkan ancaman serangan terhadap Iran.
Keputusan mendadak ini kontras dengan retorika keras yang sebelumnya berulang kali ia sampaikan kepada publik.
Bahkan, Trump sempat melontarkan pernyataan ekstrem yang menggambarkan potensi kehancuran besar.
Ia menyebut bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika tidak tercapai kesepakatan dengan pihak Iran.
Melalui platform Truth Social, Trump kemudian mengumumkan bahwa rencana pemboman dan serangan akan ditunda selama dua minggu.
Penundaan tersebut disertai syarat bahwa Teheran harus membuka kembali jalur strategis di Selat Hormuz.
Selat ini memiliki peran vital dalam perekonomian global karena menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia.
Menanggapi hal tersebut, Iran menyatakan menerima gencatan senjata sementara dan membuka kembali akses pelayaran selama periode dua minggu, meski banyak pihak menilai langkah ini hanyalah bagian dari pola kebijakan Trump yang kerap berubah-ubah.
Baca juga: Iran Gempur Habis-habisan Fasilitas Energi Arab Saudi, Perusahaan AS Jadi Sasaran Utama
Sikap Trump
Selama berminggu-minggu sebelumnya, diketahui Trump kerap mencampurkan ancaman militer dengan pernyataan optimistis soal negosiasi dengan Iran, bahkan dalam satu pernyataan yang sama.
Terlihat pada 21 Maret 2026, Trump mengancam akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam.
Namun, hanya 12 jam sebelum tenggat, ia justru mengumumkan adanya sebuah percakapan produktif dan menunda serangan selama lima hari.
Beberapa hari kemudian, tepatnya 26 Maret, Trump kembali mengancam dengan nada keras:
“Mereka sebaiknya segera serius, sebelum terlambat, karena begitu itu terjadi, TIDAK ADA JALAN KEMBALI, dan itu tidak akan menyenangkan!” bunyi Trump dalam ancamannya.
Meski demikian, pada hari yang sama ia kembali memperpanjang tenggat waktu hingga 10 hari, sembari menyebut ada negosiasi terkait konflik AS-Israel Vs Iran yang berjalan sangat baik.
Lantas pada 30 Maret 2026, Trump menyebut kemungkinan tercapainya kesepakatan, namun di saat yang sama mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran.
“Kami akan mengakhiri ‘kunjungan’ kami yang menyenangkan di Iran dengan meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg mereka (dan mungkin juga semua pabrik desalinasi!),” ujar Trump.
Ancaman terus meningkat mendekati tenggat waktu yang ditetapkan Trump.
Dalam unggahan yang disinyalir penuh amarah, Trump menulis:
“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, kalian ba***gan gila, atau kalian akan hidup di Neraka.”
Sehari sebelum tenggat, Trump bahkan menyatakan:
“Seluruh negara itu bisa direbut dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam.”
Dan pada hari Selasa (7/4/2026) Trump mengancam dengan mengatakan “seluruh peradaban akan mati malam ini,”
Baca juga: Donald Trump Ancam Ratakan Iran, Tuntut Selat Hormuz Segera Dibuka Atau Akan Diserang Membabi Buta
Trump Setuju Gencatan Senjata
Hingga akhirnya Trump menyatakan telah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran pada Selasa (7/4/2026).
Keputusan ini diambil dengan syarat utama bahwa Teheran bersedia membuka kembali jalur penting Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut juga mendapat persetujuan dari Israel, sebagaimana disampaikan oleh seorang pejabat Gedung Putih, mengutip CNN, Rabu (8/4/2026).
Hal ini menandai adanya upaya deeskalasi di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.
Langkah menuju gencatan senjata ini tidak lepas dari peran diplomasi internasional.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebelumnya mengusulkan penghentian sementara konflik guna memberikan ruang bagi negosiasi antara Washington dan Teheran.
Usulan tersebut tampaknya menjadi salah satu faktor pendorong tercapainya kesepakatan awal ini.
Namun, situasi di lapangan masih jauh dari stabil.
Sejumlah negara Teluk dilaporkan tengah berupaya mencegat serangan rudal dan pesawat tak berawak dalam satu jam terakhir.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata diumumkan, ancaman militer masih belum sepenuhnya mereda.
Iran Klaim Kemenangan
Di sisi lain, Iran justru mengklaim berada di posisi unggul.
Dalam pernyataan resmi, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut bahwa mereka telah meraih kemenangan besar dalam konflik ini.
Bahkan, Iran mengklaim telah berhasil memaksa AS menerima rencana 10 poin, mengutip The Guardian.
Di mana poin-poin tersebut diajukan oleh Teheran sebagai bagian dari penyelesaian konflik.
(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.