Kabupaten Klaten
Masuk API Award Kategori Cendera Mata: Gerabah Melikan Bertahan Sejak 1901, Ciri Khas Putaran Miring
Produk gerabah yang dihasilkan beragam. Mulai dari peralatan makan, perlengkapan dapur, hingga hiasan.
Editor: Delta Lidina
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, dikenal sebagai sentra penghasil gerabah. Tradisi membuat gerabah di desa ini sudah ada sejak tahun 1901 dan masih terus bertahan hingga sekarang.
Waris Hartono atau akrab disapa Lek Waris (45), pengrajin gerabah setempat, menyebutkan saat ini ada lebih dari 200 pelaku usaha yang masih aktif memproduksi gerabah di Desa Melikan.
“Secara umum gerabah di Desa Melikan itu sudah berjalan sejak 1901 sampai sekarang,” ungkapnya.
Produk gerabah yang dihasilkan beragam. Mulai dari peralatan makan, perlengkapan dapur, hingga hiasan.
Finishing-nya pun bervariasi, ada yang dibiarkan natural dengan warna hitam kecokelatan atau terracotta, ada juga yang diberi cover berupa cat, tempelan kulit telur, pelepah, hingga rotan.
Baca juga: Pemkab Klaten Ajak Warga Dukung Gerabah Melikan di API Awards 2025
Salah satu ciri khas dari gerabah Melikan adalah teknik pembuatan menggunakan putaran miring.
Keunikan yang membawanya masuk sebagai 10 nominasi terbaik kategori cindera mata Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards 2025.
Dijelaskan Lek Waris, alat tradisional ini khusus didesain untuk memudahkan kaum ibu membuat gerabah sambil mengenakan jarik atau kebaya.
“Putaran miring itu sebenarnya alat untuk membuat gerabah tapi didesain khusus untuk kaum ibu."
"Alhamdulillah sudah terdaftar HAKI pada 2022,” jelas Lek Waris.
Proses pembuatan gerabah di Desa Melikan masih mempertahankan cara tradisional. Tahapannya dimulai dari pengadaan bahan baku, penggilingan tanah, pembentukan, finishing awal, pengeringan, hingga pembakaran.
Satu kali produksi membutuhkan waktu 15 hingga 20 hari. Menurut Lek Waris, durasi panjang itu menjadi tantangan tersendiri bagi pengrajin.
Meski begitu, produk gerabah Melikan tetap diminati. Harga jualnya pun bervariasi, mulai Rp2 ribu untuk produk sederhana seperti lepek atau tempat sambal, hingga Rp2,5 juta untuk guci dengan sentuhan seni.
Dengan sejarah panjang lebih dari seabad, teknik unik, serta dukungan dari pemerintah daerah, gerabah Melikan tetap bertahan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Harapan saya ke depan, gerabah ini semakin bisa diterima di kalangan umum dan lebih produktif,” kata Lek Wari. (*)
Sumber: Tribun Solo
| Festival Candi Kembar hingga Parade Sepeda Internasional, KICF 2026 Bidik Ribuan Peserta |
|
|---|
| IVCA Rally 2026 di Klaten Libatkan Puluhan Negara, Angkat Kampanye Ramah Lingkungan |
|
|---|
| Bukan Sekadar Gowes, KICF 2026 Usung Edukasi, Budaya, hingga Wisata Desa Klaten |
|
|---|
| Rangkaian KICF 2026, dari Konferensi Dunia hingga Rally Sepeda Internasional di Prambanan |
|
|---|
| Klaten Jadi Tuan Rumah ICHC 2026, Hadirkan 20 Pembicara Dunia dan 250 Peserta dari Berbagai Negara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/Pengrajin-gerabah-Klaten-menggunakan-alat-putaran-miring.jpg)