Kabupaten Klaten
Setelah Raih Juara 1 API, Kampung Siluman Belum Dibuka untuk Wisata
Kampung Siluman di lereng Merapi yang meraih Juara 1 Anugerah Pesona Indonesia (API) masih belum dibuka sebagai destinasi wisata.
Editor: Delta Lidina
TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Kampung Siluman di lereng Merapi yang meraih Juara 1 Anugerah Pesona Indonesia (API) masih belum dibuka sebagai destinasi wisata karena warga dan pengelola menilai kesiapan sumber daya manusia serta konsep pengelolaan belum matang.
Kampung Siluman kini mulai dikenal publik setelah meraih penghargaan Anugerah Pesona Indonesia (API). Namun di balik penghargaan tersebut, warga justru memilih berhati-hati sebelum membuka kawasan itu sebagai destinasi wisata.
Hal itu menjadi salah satu alasan panitia mengundang Bupati Klaten dan sejumlah pemangku kepentingan dalam kegiatan Mapak Suran #6. Mereka berharap memperoleh masukan mengenai arah pengembangan kawasan tersebut ke depan.
Ketua Panitia Mapak Suran #6 – Kirab Pager Banyu Djenarto mengaku hingga saat ini pihaknya masih mencari model pengelolaan yang tepat.
"Kemarin Kampung Siluman mendapat Anugerah Pesona Indonesia, juara 1. Tetapi kami sebagai pemanfaat Kampung Siluman ini tidak tahu arahnya dan setelah menjadi juara ini mau diapain kita juga belum tahu," ujarnya.
Baca juga: Main ke Hutan hingga Tanam Pohon, Cara Kampung Siluman Tularkan Peduli Lingkungan ke Generasi Muda
Menurut dia, konservasi tetap harus menjadi prioritas apabila kawasan tersebut nantinya dikembangkan sebagai tujuan wisata.
"Harapannya tetap kalau mau mengambil keuntungan dari situ misalnya mau di-setting wisata ya harus ada pembeda dengan kanan kiri kita. Jangan semua dijadikan jalur trekking kemudian tanaman kita tidak lagi terjaga lingkungannya," katanya.
Ia mengusulkan agar jalur wisata dibatasi dan didampingi pemandu sehingga aktivitas pengunjung tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.
"Harus ada pemandu bisa menjelaskan dan jalurnya sudah disetujui dan disepakati itu supaya tidak kerusakannya tidak melebar ke mana-mana," jelasnya.
Menurut Djenarto, sekitar 90 persen warga setempat masih bergantung pada Kampung Siluman, terutama sebagai sumber pakan ternak.
"Karena warga tergantung pada Kampung Siluman. Jadi wargaku itu 90 persen tergantung dengan Kampung Siluman, khususnya untuk pakan ternak, rumputnya itu tergantung pada Kampung Siluman, sehingga mau menjaga," terangnya.
Meski sudah meraih penghargaan nasional, ia memastikan kawasan tersebut belum dibuka untuk kunjungan wisata massal.
"Di sini belum, belum ada kunjungan wisata karena memang belum kita buka untuk wisata karena kami merasa belum siap. Kami masih mencari-cari pola yang tepat," pungkasnya. (TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo)
Sumber: Tribun Solo
| Main ke Hutan hingga Tanam Pohon, Cara Kampung Siluman Tularkan Peduli Lingkungan ke Generasi Muda |
|
|---|
| Kirab Pager Banyu ke-6 Kampung Siluman Klaten, Bupati Hamenang Sebut Bukan Sekadar Tradisi Suran |
|
|---|
| Datangi TPS Barenglor yang Viral, Bupati Klaten Temukan Sampah Berserakan hingga ke Jalan |
|
|---|
| Jaga Stabilitas Harga hingga Raih TPID Award, Bupati Hamenang Sebut Kolaborasi Jadi Kata Kunci |
|
|---|
| Muhammad Islamuddin Al Akbar Juara Lomba Desain Logo, Karyanya Jadi Simbol Resmi HUT ke-222 Klaten |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/Ketua-Mapak-Suran-6-Kirab-Pager-Banyu-Djenarto.jpg)