Breaking News:

Berita Viral

Mendebarkan: Kisah Anak Perempuan 4 Tahun Dalam Tragedi Penembakan di Bondi

Ungkapan Pilu Anak Perempuan Berusia 4 Tahun Pasca Insiden Mematikan di Bondi.

Tayang:
news.com.au
Ungkapan Pilu Anak Perempuan Berusia 4 Tahun Pasca Insiden Mematikan di Bondi. 

Ungkapan Pilu Anak Perempuan Berusia 4 Tahun Pasca Insiden Mematikan di Bondi.

Tribunnewsmaker - Seorang ibu tiga anak yang selamat dari serangan bersenjata di Bondi menceritakan pengalaman traumatis yang ia alami saat berusaha melindungi putrinya yang berusia empat tahun. Setelah kejadian tersebut, sang anak mengucapkan kalimat sederhana namun sangat menyentuh hati, yang menggambarkan bagaimana kepolosan anak kecil bisa berubah akibat peristiwa mengerikan.

Baca juga: Pelaku Penembakan Brown University Masih Buron, FBI Perluas Operasi Pencarian

Chana mati-matian berusaha menahan putrinya
Chana mati-matian berusaha menahan putrinya (news.com.au)

Berikut kisah mendebarkan anak perempuan 4 tahun dalam insiden penembakan di Bondi

Perempuan bernama Chana, berusia 41 tahun, menghadiri acara Chanukah by the Sea di Archer Park pada 14 Desember bersama putrinya dan keponakannya. Acara tersebut dihadiri oleh puluhan keluarga Yahudi dan berlangsung dalam suasana ceria. Anak-anak bermain bersama, mengikuti kegiatan seperti melukis wajah, panjat tebing, dan mengunjungi kebun binatang mini. Salah satu anak yang turut hadir adalah Matilda Bee, bocah 10 tahun yang kemudian menjadi salah satu korban dalam insiden tersebut.

Beberapa menit sebelum kejadian, suasana masih terlihat damai. Sebuah video merekam putri Chana yang berusia empat tahun, dengan wajah dihias cat warna-warni dan mengenakan gaun ungu, sedang bermain gembira bersama seekor kelinci. Video itu direkam sekitar pukul 18.39.

Namun, hanya berselang sebelas menit, suasana berubah drastis. Chana dan keluarga lainnya mulai mendengar suara keras yang awalnya mereka kira kembang api. “Tapi suaranya terlalu dekat dan terlalu kuat,” ujar Chana. Tak lama kemudian, kepanikan melanda saat orang-orang menyadari bahwa telah terjadi serangan bersenjata. Banyak keluarga berusaha menyelamatkan diri dan mencari perlindungan.

Chana menceritakan bagaimana ia melihat seseorang terluka dan menyadari bahwa situasi tersebut sangat berbahaya. Ia segera memeluk putrinya dan berusaha melindunginya sambil tetap berusaha tenang. Dalam rekaman yang kemudian beredar, Chana terlihat bersama sejumlah keluarga lain bersembunyi di area taman, menunduk dan saling menenangkan satu sama lain.

Di tengah situasi mencekam itu, putri kecilnya beberapa kali mencoba mengangkat kepala, tidak sepenuhnya memahami bahaya yang sedang terjadi. Chana mengaku sempat panik, tetapi kemudian menyadari bahwa ia harus tetap tenang agar putrinya tidak semakin ketakutan.

“Dia bilang mulutnya kotor, lalu bertanya apakah riasan wajahnya masih bagus,” kata Chana. Meski riasan tersebut sudah berantakan, ia berusaha menenangkan anaknya. Ketika sang anak berkata bahwa tempat itu tidak aman, Chana mengiyakan, sambil meyakinkannya bahwa mereka akan baik-baik saja.

Chana mengatakan kejadian tersebut terasa berlangsung sangat lama. Ia merasakan ketakutan yang luar biasa dan hanya bisa memikirkan keselamatan putrinya. Dalam kondisi itu, ia berusaha berbicara dengan anaknya seperti biasa, mengungkapkan kasih sayang, dan menciptakan rasa aman di tengah kekacauan.

Ia juga sempat menelepon suaminya, yang berada tidak jauh dari lokasi bersama dua anak mereka yang lain. Chana tidak berpamitan, melainkan hanya menyampaikan bahwa mereka masih berada di lokasi dan meminta suaminya segera menghubungi pihak berwenang.

Di sekitar mereka, sejumlah orang terdengar berdoa. Chana pun memilih untuk berdoa bersama putrinya dengan doa-doa sederhana yang biasa mereka ucapkan, berharap dapat memberi ketenangan di tengah ketakutan.

Insiden tersebut akhirnya berakhir setelah aparat keamanan mengambil alih situasi. Chana, putrinya, dan keponakannya selamat, meskipun trauma mendalam masih membekas. Setelah keadaan relatif aman, sang anak sempat merasa sedih karena riasan wajahnya rusak, hingga seorang teman membantu mengecat ulang wajahnya.

Namun, pada hari berikutnya, saat keluarga itu mulai mencerna apa yang telah terjadi, putri Chana mengucapkan enam kata yang membuat sang ibu terdiam.

“Keesokan harinya dia berkata, ‘Aku tidak butuh riasan wajah lagi,’” ujar Chana.

Bagi Chana, kalimat sederhana itu mencerminkan hilangnya sebagian kepolosan anaknya akibat pengalaman traumatis yang mereka alami. “Dia masih hidup, kami semua selamat,” katanya, “tetapi ada bagian dari masa kecilnya yang berubah selamanya.”

Chana, yang berprofesi sebagai psikolog forensik dan klinis, mengaku kini merasakan langsung dampak kekerasan yang selama ini hanya ia tangani secara profesional. Dalam beberapa hari setelah kejadian, ia menghadiri beberapa pemakaman dan menyaksikan betapa besar luka yang ditinggalkan pada komunitas mereka.

“Kami selamat,” katanya, “tetapi banyak keluarga yang kehilangan orang tercinta. Dan luka itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih.”

Tribunnewsmaker | News.com.au | Aleyda Salsa Sabillawati

Tags:
berita viralkorbanTragedi Berdarah
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved