Berita Viral
Peran Fabiola Eks Istri Reza SMASH Terlibat Sindikat Kripto, Rayu Ratusan Korban Lewat Video Call
Terungkap peran Fabiola Eks Istri Reza SMASH yang terlibat sindikat Kripto, rayu ratusan korban dengan Video Call.
Editor: Listusista Anggeng Rasmi
Ringkasan Berita:
- Fabiola Elizabeth, yang dikenal sebagai mantan artis sekaligus mantan istri dari Reza SMASH terlibat kasus penipuan.
- Polisi mengungkap bahwa perempuan tersebut memiliki peran penting dalam menjalankan strategi sindikat untuk menjerat para korban.
- Ia mendekati korbannya, kemudian diarahkan masuk ke platform investasi kripto palsu yang telah disiapkan oleh jaringan tersebut.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus penipuan daring internasional bermodus pig butchering yang berhasil diungkap aparat kepolisian di wilayah Solo Raya terus menjadi perhatian publik.
Jaringan kejahatan siber ini diketahui telah beroperasi secara sistematis dan menyasar banyak korban dengan iming-iming investasi menguntungkan.
Salah satu nama yang mencuat dalam pengungkapan kasus tersebut adalah Fabiola Elizabeth, yang dikenal sebagai mantan artis sekaligus mantan istri dari Reza SMASH.
Keterlibatan Fabiola membuat kasus ini semakin menyita perhatian karena sosoknya pernah dikenal di dunia hiburan Tanah Air.
Polisi mengungkap bahwa perempuan tersebut memiliki peran penting dalam menjalankan strategi sindikat untuk menjerat para korban.
Berdasarkan hasil penyelidikan, sindikat ini diduga telah beroperasi selama hampir satu tahun dengan menggunakan berbagai cara untuk membangun kepercayaan calon korban.
Para pelaku memanfaatkan media sosial dan komunikasi pribadi untuk mendekati target secara perlahan sebelum menawarkan investasi yang tampak meyakinkan.
Dalam struktur jaringan tersebut, Fabiola disebut memiliki tugas khusus yang berkaitan dengan pencitraan dan pendekatan kepada korban.
Kehadirannya dianggap mampu memberikan kesan kredibel sehingga target lebih mudah percaya terhadap tawaran investasi yang diberikan.
Setelah korban merasa nyaman dan yakin, mereka kemudian diarahkan untuk menanamkan dana dalam platform perdagangan kripto yang ternyata tidak nyata.
Baca juga: Siapa Fabiola Elizabeth? Mantan Artis yang Jadi Umpan Love Scamming di Kota Solo, Gaet 133 Korban
Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Himawan Sutanto Saragih, menjelaskan bahwa peran Fabiola sangat penting dalam skema tersebut.
Menurutnya, mantan artis itu dijadikan figur yang mampu menarik perhatian sekaligus membangun rasa aman bagi para calon korban.
"Modelnya dari mantan artis," ungkap Himawan, dikutip dari Kompas.com, Senin (1/6/2026).
Dengan memanfaatkan figur publik, sindikat berharap korban tidak akan curiga terhadap aktivitas yang mereka tawarkan.
Setelah kepercayaan berhasil dibangun, korban kemudian diarahkan masuk ke platform investasi kripto palsu yang telah disiapkan oleh jaringan tersebut.
Pengungkapan kasus ini menjadi bukti bahwa pelaku kejahatan siber kini menggunakan metode yang semakin kompleks dan terorganisir.
Polisi masih terus mendalami peran masing-masing anggota jaringan serta menelusuri kemungkinan adanya korban lain yang belum melapor.
Peran Fabiola
Tugas Fabiola dalam sindikat ini tergolong sangat aktif dalam berkomunikasi.
Ia tidak hanya menyediakan foto-foto pribadi untuk dikirimkan kepada calon korban.
Lebih dari itu, Fabiola juga bertugas melayani panggilan video secara langsung demi meyakinkan targetnya.
Mengenai sistem kerja penipuan, polisi menjelaskan bahwa sindikat menggunakan metode pig butchering.
Metode ini mengandalkan pendekatan emosional yang dibangun dalam jangka waktu tertentu.
Baca juga: Sosok Eks Artis Terlibat Sindikat Scam Rp 41,1 M di Solo Raya, Bujuk Investasi, Korban 133 Warga AS
Hubungan asmara atau kedekatan personal menjadi senjata utama sebelum korban diminta menanamkan modal.
Perkenalan awal dengan target biasanya dimulai melalui aplikasi kencan daring.
Beberapa aplikasi yang digunakan meliputi Tinder, Puf, dan Boo, serta media sosial Facebook.
Ketika korban mulai merespons, percakapan langsung dipindahkan ke aplikasi pesan pribadi yang lebih intim.
Di dalam aplikasi pesan pribadi inilah komunikasi intensif terus dilakukan.
Pelaku berupaya membuat korban merasa sangat dekat dan menaruh kepercayaan penuh.
"Untuk memperkuat tipu daya, para pelaku menggunakan identitas palsu saat membuat akun media sosial," ungkap Himawan.
Skenario penipuan diperkuat dengan penyediaan materi foto dan video perempuan.
Fabiola bertugas mengisi kebutuhan visual yang persuasif tersebut.
Panggilan video langsung yang dilakukannya terbukti ampuh membuat korban yakin dan bersedia mengirimkan dana ke platform yang disiapkan.
Manajemen sindikat ini diketahui berjalan sangat rapi dan profesional.
Ada pembagian tugas yang jelas untuk setiap anggota dalam struktur organisasi mereka.
"Penyidik mengungkap bahwa sindikat ini bekerja secara terstruktur dengan pembagian tugas yang jelas mulai dari leader, model, marketing, hingga asisten marketing," kata Himawan.
Polda Jawa Tengah sejauh ini telah menetapkan total 39 orang sebagai tersangka.
Para tersangka merupakan gabungan dari warga negara Indonesia, Nepal, dan Myanmar.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 33 tersangka bertindak sebagai tim marketing.
Tim marketing ini bertugas mencari dan menjaring korban di aplikasi kencan dengan akun palsu.
Begitu korban masuk jebakan, marketing mengarahkan mereka untuk berinvestasi.
Korban diminta mengakses situs perdagangan kripto coverts.net dengan tautan www.livetradingcrypto.com yang sudah dimanipulasi.
Semua dana yang dikirimkan oleh korban otomatis masuk ke rekening jaringan sindikat.
Uang tersebut langsung dikunci dan dipastikan tidak akan bisa ditarik kembali oleh pemiliknya.
Pengelolaan teknis dan finansial ini diatur langsung oleh pemimpin kelompok.
"Peran leader menyediakan perangkat komunikasi, memberikan arahan taktis jika target telah ditetapkan, membantu operasional marketing, serta memegang kendali penuh terhadap platform trading agar dana yang telah disetorkan korban dikunci dan tidak dapat ditarik kembali," ungkap Himawan.
Aktivitas ilegal kelompok ini terdeteksi berjalan sejak Juli 2025 hingga Mei 2026.
Selama beroperasi, mereka selalu berpindah-pindah tempat kerja.
Tercatat ada empat kantor berbeda yang sempat digunakan sebelum akhirnya digerebek di Solo Raya.
Keuntungan yang diraup dari penipuan ini mencapai angka yang sangat besar.
Sindikat internasional tersebut berhasil mengumpulkan 2.327.625,85 dollar AS atau berkisar Rp41,1 miliar.
Korban yang tercatat dalam data kepolisian sedikitnya mencapai 133 orang.
Mayoritas dari korban penipuan investasi palsu ini merupakan warga negara Amerika Serikat.
Saat melakukan penggerebekan, aparat kepolisian menyita banyak barang bukti operasional.
Di antaranya adalah 140 unit telepon seluler, 123 unit komputer, dua laptop, 78 monitor, 54 keyboard, empat televisi, serta berkas dokumen.
(TribunNewsmaker.com/ TribunnewsBogor/ Tsaniyah Faidah)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.