Breaking News:

Tak Punya Smartphone, Siswa SMP Ini Rela Datang ke Sekolah Tiap Hari, Belajar Sendiri di Kelas

Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) rela datang ke sekolah setiap hari untuk belajar secara offline.

Ilustrasi canva/tribunkaltim
Ilustrasi penggunaan smartphone. 

Seorang Guru di Magelang datangi muridnya satu per satu untuk melakukan kegiatan belajar mengajar.

Dampak pandemi Covid-19, pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi pilihan yang diambil oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Kegiatan pembelajaran jarak jauh ini guna menyiasati agar kegiatan belajar-mengajar tetap bisa terlaksana di tengah pandemi Covid-19 atau virus corona.

Dengan mengandalkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, ketidakhadiran secara fisik di ruang sekolah bisa digantikan dengan interaksi melalui internet.

Gegara Corona Anak Belajar Online di Rumah, Orangtua Curhat: Rebutan HP Hingga Panik Internet Lemot

 

Meski demikian, kenyataan yang terjadi saat pelaksanaan PJJ ternyata tidak semudah yang dicanangkan.

Seperti diungkapkan oleh akun @efenerr yang mengunggah cerita temannya yang berprofesi sebagai guru SD di Magelang, Jawa Tengah.

Dalam twitnya, @efenerr menyebut temannya ini melakukan kunjungan dan pembelajaran luring ke rumah siswa-siswanya, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk diadakannya pembelajaran daring secara ideal.

Dilakukan saat MPLS

Saat dikonfirmasi terkait unggahan tersebut, Ifan Mustika Rinaldi, guru kelas VI SD Negeri Growong, Kecamatan Tempuran, Magelang, Jawa Tengah, mengatakan, kunjungan ke rumah siswa itu dilakukan selama tiga hari saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

"Hari pertama kami cuma nge-share video-video pengenalan lingkungan sekolah dan profil guru. Selanjutnya pada hari ketiga, bagi siswa-siswa yang tidak punya HP, kami kunjungi satu-satu. Khusus untuk yang kelas satu saja," kata Ifan dilansir dari Kompas.com (18/7/2020).

Ifan, guru SD N Growong, Tempuran, Magelang. Ia bersama rekan-rekannya melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah dan profil guru di rumah siswa karena sulitnya sinyal untuk melaksanakan hal tersebut secara daring.
Ifan, guru SD N Growong, Tempuran, Magelang. Ia bersama rekan-rekannya melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah dan profil guru di rumah siswa karena sulitnya sinyal untuk melaksanakan hal tersebut secara daring. (ISTIMEWA)

Tidak hanya Ifan seorang, kunjungan ini juga dilakukan oleh guru-guru di SD N Growong yang totalnya berjumlah delapan orang.

Sementara untuk jumlah siswa kelas 1 ada 12 orang, dan secara total jumlah siswa di SDN Growong ada 108 orang.

"Karena rumahnya (siswa) kan berjauhan. Desa kami itu ada empat dusun, jadi gurunya dibagi untuk tiap-tiap dusun. Karena jalannya yang mungkin agak susah, jadi bersama-sama, dua-dua gitu. Memang aksesnya agak sulit," kata Ifan.

Daring dianggap tidak efektif
Ifan menyebut bahwa pembelajaran daring sebenarnya tidak ideal, terutama bagi siswa yang masih duduk di kelas satu.

"Kelas satu belum bisa apa-apa, belum bisa nulis, (tulis) namanya sendiri saja belum bisa. Orangtua juga kesulitan, karena mereka bekerja. Akhirnya anak main sendiri," kata Ifan.

Untuk siswa di tingkat yang lebih atas, karena pembelajaran daring tidak memungkinkan, maka siswa hanya diberikan tugas yang nantinya diambil oleh orangtua di sekolah.

Ifan, guru SD N Growong, Tempuran, Magelang. Ia bersama rekan-rekannya melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah dan profil guru di rumah siswa karena sulitnya sinyal untuk melaksanakan hal tersebut secara daring.
Ifan, guru SD N Growong, Tempuran, Magelang. Ia bersama rekan-rekannya melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah dan profil guru di rumah siswa karena sulitnya sinyal untuk melaksanakan hal tersebut secara daring. (ISTIMEWA)

"Kalau tugas-tugas saja, itu namanya bukan pembelajaran. Kami bingung juga ini sebagai guru di daerah terpencil. Kalau Jakarta kan enak, mau Zoom mau apa bisa, lha kami? di sini HP Android saja belum punya," kata Ifan.

Kendala utama menurutnya adalah minimnya sinyal telekomunikasi di daerah tempatnya mengajar.

Sekolah tempat Ifan mengajar terletak di daerah pegunungan, sehingga akses untuk sinyal komunikasi terbilang sulit.

"Kadang-kadang orang tua menghubungi saya 'Maaf pak guru, saya harus naik gunung biar dapat sinyal', atau 'Maaf pak guru saya harus pergi ke kebun biar dapat sinyal'. Maka mereka yang punya WA itu mengirimkannya (tugas) kadang-kadang malam hari, saat orang lain sudah pulang, atau minta tolong tetangganya yang punya HP untuk mengirimkan, lama-lama kan enggak enak juga," kata Ifan.

Materi pelajaran disesuaikan

Sesuai dengan anjuran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ifan mengatakan bahwa di masa pandemi ini beban pelajaran kepada siswa dikurangi.

"Yang tadinya belajar delapan jam sekarang kami kurangi menjadi empat atau tiga jam pelajaran, dengan satu jam pelajaran itu 35 menit. Kami juga memotong materi-materi pelajaran, sehingga hanya yang penting-penting saja yang disampaikan," kata Ifan.

Cara penyampaian materi juga bervariasi, untuk guru yang sudah sepuh menyampaikan tugas lewat Lembar Kerja Siswa (LKS), untuk guru-guru yang masih agak muda biasanya menggunakan fitur voice note, screenshot materi pelajaran, atau video. 

Untuk pembelajaran menggunakan aplikasi seperti Zoom, Google Meet, atau Google Classroom, untuk saat ini menurut Ifan tidak akan mungkin bisa dilaksanakan di daerah tempatnya mengajar.

"Indonesia itu tidak hanya Jakarta, ini pulau Jawa tapi kondisinya seperti ini. Apalagi di Papua, Nusa Tenggara? Teman-teman saya di Kupang, Maluku, bagaimana itu? Apakah bisa pembelajaran seperti ini, lewat Microsoft 365, atau Zoom?," kata Ifan. 

Kerinduan anak-anak jadi sumber semangat

Mengingat pandemi virus corona nampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat, Ifan hanya bisa berharap paling tidak guru-guru diizinkan untuk mengadakan pembelajaran dengan siswa kelas I secara tatap muka.

"Sebagai pondasi dari kelas-kelas berikutnya kan kelas satu. Harus bisa baca, tulis, dan berhitung," kata Ifan.

Ia mengungkapkan bahwa siswa-siswanya sering menanyakan kapan mereka bisa kembali ke sekolah, mereka sudah rindu bisa belajar dan berjumpa lagi dengan kawan dan guru-gurunya.

Selain itu, ia juga bercerita bahwa siswa-siswanya tidak keberatan bila harus memakai masker selama jam pelajaran, asal bisa kembali ke sekolah.

"Itu sudah merupakan nilai positif bagi saya, bagi kami sebagai guru. Anak-anak itu rindu dengan sekolahnya itu hebat sekali. Kalau anak-anak bisa rindu itu maka pembelajaran kami berhasil, tapi kalau anak-anak tidak rindu maka pembelajaran kami tidak berhasil," kata Ifan. (Tribunnewsmaker/*)

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunjakarta.com dengan judul Keluarganya Tak Punya Smartphone, Siswa Ini Datang ke Sekolah Tiap Hari dan Belajar Sendiri di Kelas dan TribunJateng.com dengan judul Kisah Siswa SMP di Rembang Tidak Punya Smartphone Tetap Bersekolah Meski Sendirian di Kelas 

dan di Tribunnews Tak Memiliki Smartphone, Siswa SMP di Rembang Ini Datang ke Sekolah Tiap Hari & Belajar Sendiri

Ikuti kami di
Editor: Listusista Anggeng Rasmi
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved