Breaking News:

Keunggulan Telegram Aplikasi Saingan WhatsApp, Punya Fitur Secret Chat & Jaminan Perlindungan Data

Mengenal lebih jauh Telegram, aplikasi saingan WhatsApp. Punya fitur unggulan Secret Chat dan jaminan perlindungan data penggunanya.

callbell.eu
Aplikasi Telegram. 

Pesan yang dikirim melalui ruang obrolan ini secara otomatis sudah dilindungi enkripsi end-to-end sehingga tidak ada siapapun yang bisa mengintip percakapan pengguna, selain pengguna itu sendiri.

Pesan di Secret Chat juga hanya bisa dibaca oleh perangkat yang juga digunakan untuk mengirimkan pesan saja.

Artinya, apabila pindah ke perangkat lain meskipun menggunakan akun yang sama, isi chat tetap tidak bisa dibaca.

Di samping itu, secret chat juga dilengkapi dengan fitur screenshot alerts di mana pengguna akan diberi tahu apabila lawan bicanya melakukan tangkap layar dari obrolannya.

Telegram juga dibekali dengan fitur stiker yang beragam untuk menambah keseruang pengguna ketika menggunakan Telegram.

Telegram memiliki pencarian GIF animasi, editor foto canggih, dan platform stiker publik.

Jaminan Perlindungan Data

Dari sejak berdiri, Durov bersaudara selalu menjunjung tinggi pentingnya perlindungan data pribadi pengguna.

Sebagaimana dihimpun dari blog resminya, Telegram berkomitmen untuk melindungi percakapan pribadi pengguna dari pihak ketiga (pemerintah, perusahaan, dan sebagainya) serta dari para pengiklan.

Oleh karena itu, Telegram tidak berafiliasi kepada perusahaan teknologi mana pun di dunia.

"Kami tidak menggunakan data Anda untuk penargetan iklan, kami tidak menjualnya kepada orang lain, dan kami bukan bagian dari 'keluarga perusahaan' mafia mana pun," tulis Telegram.

Tampilan awal Secret Chat di Telegram.
Tampilan awal Secret Chat di Telegram. (Telegram Messenger LLP, screenshot by Robin van der Vliet)

Dari sisi enkripsi, Telegram menggunakan sistem enkripsi yang berbeda dengan WhatsApp. Aplikasi ini menggunakan sistem enkripsi MTProto yang dikembangkannya sendiri.

Telegram mengklaim bahwa protokol ini lebih tangguh dan anti-bobol.

Namun, enkripsi ini hanya berlaku pada fitur Secret Chat saja.

Sedangkan untuk percakapan pribadi atau grup, Telegram menggunakan metode distributed infrastructure. 

Skema ini memungkinkan data percakapan pengguna yang ada di Cloud disimpan di berbagai data center yang tersebar di seluruh dunia.

Karena disimpan di berbagai belahan dunia, hukum yang melindungi data ini pun berbeda-beda pula, tergantung dari negara di mana data center itu berada.

Dengan sistem distributed infrastructure, membuat para pihak yang menginginkan Telegram untuk membuka data penggunanya terhalang regulasi, hingga akhirnya memilih menyerah.

"Hingga hari ini, kami telah mengungkapkan 0 byte data pengguna kepada pihak ketiga, termasuk pemerintah," tulis Telegram.

Seperti WhatsApp, Telegram juga memiliki fitur keamanan verifikasi dua langkah untuk mencegah orang lain dengan mudah masuk ke akun Telegram pengguna.

Aplikasi gratis tapi bersiap cari profit

Aplikasi Telegram bisa diunduh secara gratis oleh pengguna, baik di iOS maupun Android.

Namun, akhir tahun lalu, Pavel Durov selaku pendiri sekaligus CEO Telegram mengumumkan bahwa aplikasi buatannya itu akan mencari profit mulai tahun 2021.

Pavel tidak mendetailkan kapan tepatnya Telegram akan mulai mencari profit.

Namun, Pavel membeberkan beberapa skenario yang kemungkinan besar akan digunakan Telegram dalam mencari keuntungan.

Adapun skenario mencari profit ala Telegram yakni dengan menambah fitur baru untuk pengguna premium.

Lalu, Telegram juga akan memperkenalkan platform iklannya sendiri yang ditujukan untuk channel, bukan chat one-to-one.

Selain itu, Telegram juga berencana mengeluarkan stiker premium dengan fitur ekspresif tambahan.

Durov juga menegaskan bahwa pengguna non-premium akan tetap bisa menikmati layanan Telegram seperti biasanya secara gratis, selamanya.

"Semua fitur yang saat ini gratis, akan tetap gratis," lanjut Durov.

Kebijakan mencari untung ini digulirkan Telegram untuk mendukung pertumbuhan aplikasi yang saat ini memiliki hampir 500 juta pengguna aktif tersebut.

“Sebuah proyek sebesar kami (Telegram) membutuhkan setidaknya beberapa ratus juta dolar per tahun agar dapat terus berjalan,” kata Durov.

Stretagi monetisasi di atas disebut Durov sebagai "Telegram Way" untuk tetap independen dan setia pada value mereka.

Selain itu, Durov juga mengatakan tidak akan menjual Telegram kepada pihak mana pun.

(Kompas.com/Galuh Putri Riyanto)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal Telegram, Aplikasi Chat yang Dilirik sebagai Pengganti WhatsApp"

Ikuti kami di
Editor: Vega Dhini Lestari
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved