Breaking News:

Tanya Jawab Islam

HUKUM Membeli Mobil atau Motor Secara Kredit, Apakah Termasuk Riba? Simak Penjelasan Buya Yahya

Buya Yahya beri penjelasan mengenai hukum membeli mobil atau motor secara kredit.

YouTube Al-Bahjah TV
Pendakwah Buya Yahya. 

Dalam ajaran Islam, umat Muslim dianjurkan untuk berinfaq dan bersedekah.

Infaq dan sedekah merupakan bentuk amal ibadah yang sangat dicintai Allah SWT.

Dengan melakukan infaq dan sedekah, kamu akan mendapatkan pahala yang tak terkira.

Selain itu, amalan infaq dan sedekah juga bisa menghapus dosa-dosa.

Sementara itu, di sisi lain, terkadang manusia juga dihadapkan dengan masalah utang.

Sebagian orang mungkin pernah dihadapkan pada kondisi dimana harus segera membayar utang, namun juga ingin infaq ke keluarga.

Baca juga: Bagaimana Hukum Tak Sengaja Menemukan Segepok Uang di Jalan? Begini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat

Baca juga: Benarkah Orang Meninggal Bisa Mendengar Percakapan Orang yang Masih Hidup? Ini Kata Buya Yahya

Ustaz Adi Hidayat.
Ustaz Adi Hidayat. (YouTube Adi Hidayat Official)

Lantas, mana yang lebih didahulukan, membayar utang riba dulu atau berinfaq ke keluarga?

Ustaz Adi Hidayat pun menegaskan membayar utang hukumnya wajib.

Hukum terkait utang piutang itu tertuang di Al-quran Surah Al Baqarah ayat 282-283.

"Dalam hal ini kita akan lihat membayar utang itu hukumnya wajib.

Karena itu ketika kita akan berutang dalam keadaan tertentu kita mesti petakan dulu dari kemampuan bagaimana kita mengembalikannya, bagaimana kita membuat perjanjian, dan sebagainya," ujar Ustaz Adi Hidayat seperti dikutip dari video yang diunggah di YouTube Adi Hidayat Official, 5 Februari 2021 lalu.

"Membayar utang hukumnya wajib, apalagi ini riba yang harus dibebaskan yang harus terlepaskan dari keadaan riba," ungkap Ustaz Adi Hidayat.

"Sedangkan bersedekah ke keluarga, keluarga dibagi dua yaitu istri dan anak-anak ini yang disebut dengan nafkah,

yang kedua ada di luar keluarga pokok kita," tutur Ustaz Adi Hidayat.

Ustaz Adi Hidayat menyebut infaq dibagi menjadi dua yakni wajib dan sunnah.

Bersifat wajib bagi keluarga pokok yang kemudian diartikan sebagai nafkah.

Sedangkan, yang bersifat sunnah ditujukan untuk mereka di luar keluarga pokok.

"Contoh bekerja dapat Rp 5 juta per bulan, dia cukupkan nafkah wajib bagi keluarganya, terpakai Rp 3 juta, ada lebihnya Rp 2 juta,

kemudian dihadapkan pada suatu keadaan ada kewajiban untuk membayar utang lalu ada keinginan untuk berinfaq yang sunnah," kata Ustaz Adi Hidayat.

"Orangtua masuk pada infaq sunnah, kemudian kerabat, anak yatim, orang miskin, ini sifatnya sunnah, tapi sangat ditekankan yang bagian orangtua," sambungnya.

Ustaz Adi Hidayat pun menegaskan ada baiknya mendahulukan membayar utang karena hal itu bersifat wajib.

Meski begitu, Ustaz Adi Hidayat menyebut ada pengecualian jika kita dihadapkan pada sesuatu yang mendesak.

"Kalau bertemu dengan yang (bersifat) wajib, maka ini (utang) yang didahulukan.

Kecuali ada hal mendesak, orangtua sangat butuh, terus ada Rp 1 juta, kita bagi dua (untuk bayar utang dan infaq)," pungkasnya.

Berikut video lengkapnya:

(TribunnewsMaker.com/Tiara Susma)

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved