Breaking News:

JIKA Tak Ada Fakir Miskin di Tempat Tinggal, Bagaimana Hukum Mengalihkan Zakat? Ini Penjelasannya

Menjelang Hari Raya Idul Fitri atau lebaran, ada sebuah amalan yang juga bisa dilakukan yakni membayar zakat fitrah.

TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Ilustrasi membayar zakat fitrah dialihkan ke tempat lain. 

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Inilah hukum mengalihkan zakat ke tempat lain jika di lokasi tempat tinggal tak ada fakir miskin.

Hukum membayar zakat fitrah dengan mengalihkan ke tempat lain ini dijelaskan oleh Ustaz Abdul Somad.

Seperti yang diketahui, umat muslim berkewajiban untuk membayar zakat setelah menunaikan puasa Ramadhan.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri atau lebaran, ada sebuah amalan yang juga bisa dilakukan yakni membayar zakat fitrah.

Membayar zakat menjelang hari raya Idul Fitrah disebut dengan zakat fitrah.

Lantas, bagaimana cara membayar zakat jika tak ada fakir miskin di sekitar tempat tinggal?

Bolehkah mengalihkan zakat ke tempat lain?

Begini penjelasan Ustaz Abdul Somad yang dibagikan melalui Tanya Jawab Ustadz Abdul Somad.

Baca juga: NIAT Zakat Fitrah Bagi Diri Sendiri & Keluarga yang Wajib Dilakukan Umat Islam Jelang Idul Fitri

Baca juga: CARA Bayar Zakat Fitrah Secara Online, Ini Besarannya hingga Bacaan Niat Lengkap, Bisa Pakai Uang

Ilustrasi
Ilustrasi (realsimple.com/500px.com)
Mengalihkan Zakat
Berdasarkan Fatwa Syekh ‘Athiyyah Shaqar, berikut ini hukum dan ketentuan mengalihkan zakat fitrah.
Pertanyaan:
Saya tinggal di suatu tempat, taraf hidup masyarakatnya baik, jarang sekali ada fakir miskin yang berhak menerima zakat.
Apakah boleh saya bayarkan zakat kepada kerabat saya yang membutuhkan dan mereka tinggal di tempat lain?
Jawaban:
Diriwayatkan oleh sekelompok ahli hadits bahwa ketika Rasulullah Saw mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah Saw berkata kepadanya, “Jika mereka taat kepadaku, maka ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah Swt mewajibkan zakat kepada mereka dalam harta mereka.
Diambil dari orang-orang yang mampu diantara mereka dan diserahkan kepada orang-orang yang fakir diantara mereka”.
Abu Daud dan Ibnu Majah meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain bahwa ia diangkat menjadi amil zakat, ketika ia kembali, ia ditanya, “Dimanakah hasil zakat?”.
Ia menjawab, “Apakah untuk harta kamu mengutusku? Kami mengambilnya sesuai seperti yang kami lakukan pada masa Rasulullah Saw dan kami membaginya seperti kami membagikannya dulu”.
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan, ia nyatakan sebagai hadits hasan, bahwa Abu Juhaifah berkata,
“Seorang amil zakat pada masa Rasulullah Saw datang kepada kami. Ia mengambil zakat dari orang-orang yang mampu diantara kami dan ia membagikannya kepada orang-orang fakir diantara kami”.
Berdasarkan riwayat-riwayat ini para fuqaha’ (ahli Fiqh) berdalil bahwa zakat dibagikan kepada orang-orang fakir di negeri bersangkutan.
Mereka berbeda pendapat tentang hukum mengalihkan zakat ke negeri lain setelah mereka ber-Ijma’ bahwa boleh hukumnya mengalihkan zakat ke negeri lain jika negeri tempat pengutipan zakat tersebut tidak membutuhkannya.
Menurut Mazhab Hanafi
Makruh mengalihkan zakat.
Kecuali jika pengalihan tersebut kepada kerabat yang membutuhkan,
karena dalam hal itu terkandung menyambung silaturahim, atau kepada kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan daripada para fakir di negeri tempat pemungutan zakat, atau pengalihan tersebut mengandung maslahat bagi kaum muslimin, atau dari Darulharb ke Dar Islam, atau pengalihan tersebut untuk para penuntut ilmu, atau zakat tersebut dibayarkan sebelum masanya diwajibkan, artinya dibayarkan sebelum masa Haul.
Maka dalam semua kondisi ini tidak dimakruhkan mengalihkan zakat.
Menurut Mazhab Syafi’i
Tidak boleh mengalihkan zakat dari suatu negeri ke negeri lain, wajib dibagi ke negeri tempat zakat tersebut dipungut dari muzakki yang telah sampai Haul.
Jika tidak ada mustahik zakat, maka dialihkan ke negeri yang di negeri tersebut terdapat mustahik zakat.
Dalil mereka dalam masalah ini adalah hadits Mu’adz diatas.
Seperti yang disebutkan Abu ‘Ubaid bahwa Mu’adz datang dari Yaman setelah Rasulullah Saw meninggal dunia, Umar mengembalikannya.
Ketika Mu’adz mengirimkan sebagian harta zakat, Umar tidak menerimanya.
Umar menolaknya lebih dari satu kali meskipun Mu’adz menjelaskan bahwa tidak ada mustahik zakat yang mengambilnya.
Menurut Mazhab Maliki
Tdak mengalihkan zakat ke negeri lain, kecuali jika sangat dibutuhkan,
maka Imam mengambil zakat tersebut dan menyerahkannya kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Ini berdasarkan pemikiran dan ijtihad, seperti yang mereka nyatakan.
Menurut Mazhab Hanbali
Tak boleh mengalihkan zakat ke negeri lain yang jaraknya sejauh jarak Qashar shalat.
Zakat dibagikan di negeri zakat tersebut dikutip dan negeri sekitarnya yang berada di bawah jarak Qashar shalat.
Ibnu Qudamah al-Hanbali berkata, “Jika seseorang menentang pendapat ini dan ia mengalihkan zakatnya, zakatnya tetap sah menurut pendapat mayoritas ulama.
Jika seseorang tinggal di suatu tempat dan hartanya di tempat lain, maka zakatnya dibagi di negeri tempat hartanya berada, karena para mustahik di tempat tersebut melihatnya.
Jika hartanya berada di beberapa tempat, maka zakatnya ditunaikan di setiap negeri tempat harta tersebut berada.
Ini berlaku pada zakat Mal. Sedangkan zakat Fitrah dibagi di tempat orang-orang yang berzakat, karena zakat tersebut adalah zakat dirinya, bukan zakat hartanya.
Berdasarkan ini saya nyatakan kepada penanya, jika ada mustahik zakat di tempat ia tinggal, maka zakat dibagikan kepada mustahik yang ada di tempat tersebut, demikian menurut jumhur fuqaha’.
Tidak boleh dialihkan ke kerabatnya yang membutuhkan.
Sedangkan Abu Hanifah membolehkan pengalihan zakat disebabkan alas an tersebut, diantaranya adalah untuk silaturahim atau sangat membutuhkan, menurut Abu Hanifah itu boleh dilakukan, ia melihat kepada maslahat yang kuat”.
(Al-Mughni karya Ibnu Qudamah, juz. II, hal. 531 – 532 dan Nail al-Authar karya asy-Syaukani, juz.IV, hal. 161).
CARA Bayar Zakat Fitrah Secara Online, Ini Besarannya hingga Bacaan Niat Lengkap

- Inilah cara membayar zakat fitrah lengkap dengan besaran yang diberikan.

Seperti yang diketahui, membayar zakat fitrah merupakan ibadah yang dilakukan umat muslim di bulan Ramadhan.

Umat islam wajib untuk membayar zakat fitrah bagi yang mampu.

Dikutip dari baznas.go.id, membayar zakat fitrah merupakan rukun Islam yang ke-4 dan hukumnya wajib bagi yang mampu, wajib baik laki-laki maupun perempuan, besar maupun kecil, tua maupun muda.

Zakat merupakan amalan yang dapat mensucikan diri setelah menunaikan ibadah di bulan Ramadhan.

Dalam membayar zakat, kita juga seharusnya mengetahui jumlah besaran yang harus dibayarkan.

Baca juga: KAPAN Waktu Membayar Zakat Fitrah Ramadhan 2022? Ini Bacaan Niatnya untuk Diri Sendiri & Keluarga

Baca juga: JANGAN Lupa untuk Membayar Zakat Fitrah, Ini Besaran & Bacaan Niat untuk Diri Sendiri serta Keluarga

Zakat fitrah
Zakat fitrah (TribunStyle.com)
Halaman
1234
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved