Breaking News:

Kunci Jawaban

Soal & Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka Halaman 60 61 62 63, Plot Hikayat

Kunci jawaban jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 halaman 60, 61, 62, 63, membandingkan karakterisasi dan plot dalam teks Hikayat si Miskin.

Tayang:
Editor: Sinta Manila
Basbahanajar Youtube Channel
Membandingkan karakterisasi dan plot dalam teks Hikayat si Miskin. 

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Inilah kunci jawaban jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 SMA/SMK Kurikulum Merdeka halaman 60, 61, 62, 63. berikut, Pembahasan soal tentang teks narasi berbentuk hikayat.

Para siswa harus memiliki jawaban sendiri terlebih dahulu setelah itu mencocokan jawaban dengan materi kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 SMA/SMK Kurikulum Merdeka halaman 60, 61, 62, 63.

Pertanyaan di atas merupakan materi Buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK Kelas X Bab 3 Menyusuri Nilai dalam Cerita Lintas Zaman.

Siswa diminta membandingkan karakterisasi dan plot dalam teks Hikayat si Miskin.

Simak pembahasan kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 SMA/SMK Kurikulum Merdeka halaman 60, 61, 62, 63 selengkapnya berikut ini.

Baca juga: Soal & Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 SMA, Halaman 59 Kurikulum Merdeka, Tokoh Hikayat

B. Membandingkan Karakterisasi dan Plot pada Hikayat dan Cerpen

KUNCI JAWABAN Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka Halaman 60 61 62 63, Hikayat si Miskin.
KUNCI JAWABAN Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka Halaman 60 61 62 63, Hikayat si Miskin. (Buku Bahasa Indonesia Kelas 10 Kurikulum Merdeka)

Hikayat si Miskin

Asalnya raja kayangan dan jadi demikian karena disumpahi oleh Batara Indera. Terlantar di negeri Antah Berantah dan keduanya sangat dibenci orang. Setiap kali mereka mengemis di pasar dan kampung mereka dipukuli dan diusir hingga ke hutan. Oleh yang demikian, tinggallah dua suami-istri itu di hutan memakan batang kayu dan buah-buahan.

Hatta beberapa lamanya maka istri si Miskin itu pun hamillah tiga bulan lamanya. Maka istrinya menangis hendak makan buah mempelam yang ada di dalam taman raja itu. Maka suaminya itu pun terketukkan hatinya tatkala ia di Keinderaan menjadi raja tiada ia mau beranak. Maka sekarang telah mudhorot. Maka baharulah hendak beranak seraya berkata kepada istrinya, “Ayo, hai Adinda. Tuan hendak membunuh kakandalah rupanya ini. Tiadakah tuan tahu akan hal kita yang sudah lalu itu? Jangankan hendak meminta barang suatu, hampir kepada kampung orang tiada boleh.”

Setelah didengar oleh istrinya kata suaminya demikian itu maka makinlah sangat ia menangis. Maka kata suaminya, “Diamlah tuan, jangan menangis! Berilah kakanda pergi mencaharikan tuan buah mempelam itu, jikalau dapat oleh kakanda akan buah mempelam itu kakanda berikan pada tuan.”

Maka istrinya itu pun diamlah. Maka suaminya itu pun pergilah ke pasar mencahari buah mempelam itu. Setelah sampai di orang berjualan buah mempelam maka si Miskin itu pun berhentilah di sana. Hendak pun dimintanya takut ia akan dipalu orang. Maka kata orang yang berjualan buah mempelam, “Hai miskin. Apa kehendakmu?”

Maka sahut si Miskin, “Jikalau ada belas dan kasihan serta rahim tuan akan hamba orang miskin hamba ini minta diberikan yang sudah terbuang itu. Hamba hendak memohonkan buah mempelam tuan yang sudah busuk itu barang sebiji sahaja tuan.”

Maka terlalu belas hati sekalian orang pasar itu yang mendengar kata si Miskin. Seperti hancurlah rasa hatinya. Maka ada yang memberi buah mempelam, ada yang memberikan nasi, ada yang memberikan kain baju, ada yang memberikan buahbuahan. Maka si Miskin itu pun heranlah akan dirinya oleh sebab diberi orang pasar itu berbagai-bagai jenis pemberian. Adapun akan dahulunya jangankan diberinya barang suatu hampir pun tiada boleh. Habislah dilemparnya dengan kayu dan batu. Setelah sudah ia berpikir dalam hatinya demikian itu maka ia pun kembalilah ke dalam hutan mendapatkan istrinya.

Maka katanya, “Inilah Tuan, buah mempelam dan segala buah-buahan dan makan-makanan dan kain baju. Itupun diinjakkannyalah istrinya seraya menceriterakan hal ihwalnya tatkala ia di pasar itu. Maka istrinya pun menangis tiada mau makan jikalau bukan buah mempelam yang di dalam taman raja itu. “Biarlah aku mati sekali.”

Maka terlalulah sebal hati suaminya itu melihatkan akan kelaku an istrinya itu seperti orang yang hendak mati. Rupanya tiada lah berdaya lagi. Maka suaminya itu pun pergilah menghadap Maharaja Indera Dewa itu. Maka baginda itu pun sedang ramai di hadap oleh segala raja-raja. Maka si Miskin datanglah. Lalu masuk ke dalam sekali.

Halaman 1/3
Tags:
kunci jawabanBahasa IndonesiaKelas 10
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved