Kabupaten Klaten
Yaa Qawiyyu Kiai Ageng Gribig: Apem, Doa, dan Warisan Budaya Sakral dari Jatinom
Ribuan warga memadati lokasi sebagai wujud cinta pada tradisi yang tidak lekang oleh zaman.
Editor: Delta LP
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN - Di balik lemparan kue apem yang meriah di Jatinom, tersimpan sebuah warisan budaya sakral yang telah dijaga lintas generasi selama lebih dari empat abad.
Tradisi Yaa Qawiyyu, yang digelar setiap bulan Sapar, bukan hanya soal keramaian, tetapi menyimpan nilai-nilai spiritual, doa, dan filosofi luhur yang berasal dari sosok ulama besar, Kiai Ageng Gribig.
Tahun ini, prosesi Saparan Yaa Qawiyyu kembali digelar masyarakat Jatinom pada Jumat Pahing, 8 Agustus 2025 atau bertepatan dengan 13 Sapar 1959 Dal dalam kalender Jawa.
Ribuan warga memadati lokasi sebagai wujud cinta pada tradisi yang tidak lekang oleh zaman.
Menurut keterangan KRT Moh. Daryanta Rekso Hastonodipuro, tradisi ini bermula dari peristiwa sepulangnya Kiai Ageng Gribig dari Tanah Suci pada tahun 1619 M.
Usai melaksanakan Salat Jumat dan berdzikir, beliau membagikan oleh-oleh berupa apem kepada para santri dan tamu.
Namun, karena jumlahnya tidak cukup, sang istri, Nyai Ageng (Raden Ayu Mas Winongan), segera membuat apem hangat untuk memenuhi kebutuhan jamuan majelis tersebut.
Sejak saat itu, pemberian apem menjadi simbol penting dalam tradisi Yaa Qawiyyu sebagai wujud syukur, pengampunan, dan berbagi berkah kepada sesama.
Apem Lebih dari Sekadar Kue
Bukan tanpa alasan apem dipilih sebagai lambang utama dalam tradisi ini.
Kue berbentuk bundar yang terbuat dari tepung beras dan parutan kelapa itu memuat makna yang dalam.
Dalam bahasa Arab, “apem” berasal dari kata al-‘afwu atau ‘afwun, yang berarti ampunan. Melalui apem, masyarakat diajak untuk memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sekaligus menjadikan momen ini sebagai ajang refleksi dan memperkuat tali silaturahmi.
Baca juga: Bupati Klaten Hamenang Ikut Kirab Gunungan Apem Yaa Qawiyyu, Tradisi Warisan Kiai Ageng Gribig
Bentuk bulat pada apem pun bukan sekadar estetika, ia menjadi simbol persatuan dan kebulatan tekad, agar masyarakat hidup dalam harmoni, tanpa perpecahan.
Gunungan apem yang disusun bertingkat, dengan pola 4-2-4-4-3, memiliki makna spiritual tersendiri.
Sumber: Tribun Solo
| 5 UPZ Klaten Raih Penghargaan 2025, Bupati Hamenang: Peran Zakat 'Tangan Kiri' Bantu Warga Klaten |
|
|---|
| Daya Tarik Kirab Gunungan 2 Km di Festival Candi Kembar 2026, Angkat Makara Sebagai Simbol Pelindung |
|
|---|
| Festival Candi Kembar hingga Parade Sepeda Internasional, KICF 2026 Bidik Ribuan Peserta |
|
|---|
| IVCA Rally 2026 di Klaten Libatkan Puluhan Negara, Angkat Kampanye Ramah Lingkungan |
|
|---|
| Bukan Sekadar Gowes, KICF 2026 Usung Edukasi, Budaya, hingga Wisata Desa Klaten |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/Tradisi-Gunungan-Apem-Yaa-Qawiyyu-Lanang-dan-Wadon.jpg)