"Waktu itu awal-awal sukses, kalau punya banyak uang, tugas saya pertama membahagiakan, membantu keluargaku, masak bantu keluarga enggak boleh, dijaluki (dimintain) nota mas," ucap Soimah.
"Lha masak aku bantu saudara-saudara pakai nota. Jadi enggak percaya, 'masak bantu saudara segini besarnya, 'yo sak karepku to," lanjutnya.
Baca juga: Lesti Kejora Dibanting hingga Dicekik Rizky Billar, Soimah Ikut Ngamuk Tak Terima: Kecewa Banget!
Bukan hanya sekali itu saja pengalaman tidak mengenakan dari petugas pajak dialami Soimah.
Alhasil ia selalu menyimpan bukti nota dari apapun pengeluarannya, yang membuatnya selalu bertengkar dengan sang suami yang bertugas mengumpulkan dan mencatatnya.
Beli rumah
Soimah juga pernah membeli rumah seharga Rp 430 juta, yang juga dicurigai oleh oknum petugas pajak.
Soimah menyebut oknum pajak yang didatanginya tidak percaya rumah tersebut harganya demikian.
"Udah lunas lah Rp 430 juta, ke notaris, enggak deal dari perpajakan, karena enggak percaya, rumah di situ harusnya Rp 650 juta, menurut pajak," kata Soimah.
"Tapi kan aku tuku Rp 430 juta. Jadi dikira saya menurunkan harga, padahal deal-deal-an ada, nota ada. 'Enggak mungkin, masak Soimah beli rumah Rp 430 juta', emang ada ukurannya Soimah harus beli rumah harga berapa miliar gitu?" imbuhnya.
Hal ini membuatnya merasa diperlakukan sebagai koruptor. Padahal ia mengingat perjalanan kariernya panjang dengan jerih payah.
Pendoponya dihargai Rp 50 miliar
Baca juga: BUKAN Kado Mewah, Soimah Malah Bawa Ini saat Jenguk Rayyanza Anak Nagita Slavina, Raffi Ahmad Ngakak
Soimah sempat membangun sebuah pendopo untuk mewadahi para rekan senimannya.
Oknum pajak sempat memeriksa secara langsung pendoponya selama tujuh jam.
Bukan hanya itu saja, pendoponya yang belum rampung ditaksir dengan nilai Rp 50 miliar.
"Ini tuh orang pajak atau tukang? Kok ngukur jam 10.00 pagi sampai 05.00 sore, arep ngopo (mau ngapain). Akhirnya pendopo itu di-appraisal hampir Rp 50 miliar, padahal saya bikin aja belum tahu total habisnya berapa," tuturnya.