Berita Viral
Pemimpin Iran Ali Khamenei Tewas, Abbas Araghchi Surati PBB, Protes Tindakan AS & Israel: Pengecut!
Pemimpin Iran Ali Khamenei tewas, Abbas Araghchi surati PBB, protes tindakan AS dan Israel: Pengecut!
Editor: Listusista Anggeng Rasmi
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Iran mengambil langkah diplomatik tegas menyusul tewasnya Ali Khamenei.
- Abbas Araghchi, secara resmi mengirimkan surat protes keras kepada Antonio Guterres selaku Sekretaris Jenderal PBB serta kepada Dewan Keamanan PBB.
- Araghchi menyatakan Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab penuh atas serangan 28 Februari.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pemerintah Iran mengambil langkah diplomatik tegas menyusul tewasnya Pemimpin Agungnya, Ayatollah Seyed Ali Khamenei.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara resmi mengirimkan surat protes keras kepada Antonio Guterres selaku Sekretaris Jenderal PBB serta kepada Dewan Keamanan PBB.
Surat yang dikirim pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat itu berisi tudingan langsung terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Araghchi menyatakan kedua negara tersebut bertanggung jawab penuh atas serangan 28 Februari yang menewaskan tokoh tertinggi Iran itu.
Bagi Teheran, insiden tersebut bukan sekadar operasi militer biasa.
Iran menilainya sebagai bentuk terorisme negara yang dilakukan secara sistematis.
"Serangan ini membawa konsekuensi yang sangat dalam dan luas."
"Tanggung jawab penuh atas dampak yang terjadi sepenuhnya berada di tangan para pelaku," tegas Araghchi dalam pernyataan resminya yang dikutip dari WANA News.
Dalam suratnya, Araghchi juga menilai serangan itu merupakan pelanggaran nyata terhadap Pasal 2 (4) Piagam PBB.
Baca juga: Donald Trump Ungkap Alasan Kenapa Keukeuh Serang Iran hingga Tewaskan Ali Khamenei, Bela Rakyat!
Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut telah mencederai prinsip kesetaraan kedaulatan negara serta imunitas kepala negara yang dilindungi hukum internasional.
Menurutnya, dunia tidak boleh membiarkan preseden semacam ini terjadi tanpa respons tegas.
"Menargetkan pejabat tertinggi negara yang merdeka adalah tindakan pengecut dan tidak dapat dibenarkan."
"Ini menciptakan preseden buruk dan berbahaya dalam diplomasi serta kedaulatan bangsa-bangsa di dunia," tambahnya.
Serangan Israel Meluas hingga Lebanon
Militer Israel dilaporkan meluncurkan gelombang serangan udara besar-besaran ke pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Senin (2/3/2026) dini hari.
Langkah ini diambil Israel sebagai respons atas hujan rudal dan drone yang dilepaskan kelompok Hizbullah ke wilayah mereka.
Hizbullah mengklaim serangan tersebut merupakan aksi balas dendam atas tewasnya Khamenei.
Eskalasi ini menandai babak baru konflik yang kian meluas, menyeret Lebanon kembali ke pusaran perang regional.
Mengutip Reuters, saksi mata melaporkan setidaknya ada belasan ledakan hebat yang menggetarkan ibu kota Lebanon tersebut.
Serangan yang dimulai sekitar pukul 02.40 waktu setempat itu menyasar distrik Dahiyeh, basis pertahanan kuat Hizbullah.
Suasana mencekam menyelimuti kota saat ribuan warga berusaha menyelamatkan diri.
Baca juga: Sosok Pihak yang Berkuasa Berdasar Konstitusi di Iran Usai Ali Khamenei Tewas, Pemimpinnya Terungkap
Jalan-jalan utama Beirut seketika macet total oleh kendaraan penduduk yang mengungsi, sementara sebagian lainnya terpaksa melarikan diri dengan berjalan kaki di bawah bayang-bayang kepulan asap hitam.
Kepala Staf Umum IDF, Eyal Zamir, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam atas keterlibatan Hizbullah dalam konflik ini.
"Hizbullah telah membuka front pertempuran melawan Israel semalam."
"Mereka memikul tanggung jawab penuh atas segala bentuk eskalasi yang terjadi saat ini," tegas Zamir dalam keterangan resminya.
Hingga berita ini diturunkan, militer Israel telah memerintahkan evakuasi massal bagi warga di lebih dari 50 desa di wilayah selatan dan timur Lebanon.
Hal ini mengisyaratkan bahwa serangan udara kemungkinan akan terus berlanjut dan bahkan meluas ke operasi darat.
Konflik yang awalnya terpusat pada ketegangan Israel-Iran kini resmi merembet ke Lebanon, memicu kekhawatiran dunia internasional akan terjadinya perang terbuka yang jauh lebih besar di kawasan Mediterania.
Donald Trump Ungkap Alasan Kenapa Keukeuh Serang Iran hingga Tewaskan Ali Khamenei
- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menjadi sorotan dunia.
Pada Senin (2/3/2026), ia mengunggah video pidato terbarunya melalui media sosial miliknya, Truth Social, terkait serangan militer terhadap Iran.
Dalam pidato tersebut, Trump membeberkan lima tujuan utama di balik operasi perang yang diberi nama ‘Epic Fury’, yang mulai dijalankan sejak Sabtu (28/2/2026).
Operasi ini disebutnya sebagai langkah strategis demi menjaga kepentingan nasional Amerika Serikat.
Pidato tersebut memuat pernyataan keras, mulai dari dalih melindungi rakyat Amerika hingga seruan perubahan rezim di Iran.
Baca juga: Sosok Pria yang Tunjuk & Teriaki Polisi saat Demo di Mabes Polri, Identitas Terungkap: Mahasiswa PNJ
Trump menegaskan bahwa langkah militer yang diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai respons atas situasi yang menurutnya mengancam stabilitas dan keamanan global.
Ia juga menekankan bahwa pemerintahannya tidak akan ragu mengambil tindakan tegas jika kepentingan Amerika dinilai berada dalam bahaya.
Berikut lima poin utama yang disampaikan Trump dalam pidatonya:
1. Melindungi Rakyat Amerika
Trump menegaskan bahwa operasi militer dilakukan demi melindungi warga negaranya dari ancaman Iran.
Ia menyebut rezim Iran sebagai kelompok yang berbahaya dan mengancam keamanan nasional AS.
“Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman nyata dari rezim Iran,” tegas Trump dalam pidatonya.
2. Menghancurkan Kemampuan Militer Iran
Dalam pidato tersebut, Trump menyampaikan komitmen untuk menghancurkan infrastruktur militer Iran, khususnya sektor persenjataan.
Pernyataan itu mengindikasikan operasi militer tidak hanya bersifat terbatas, tetapi menyasar kemampuan pertahanan strategis Iran.
“Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka ke tanah. Semuanya akan dilenyapkan sepenuhnya. Kami akan memusnahkan angkatan laut mereka,” ujarnya.
3. Mencegah Iran Memiliki Senjata Nuklir
Trump juga menjadikan isu program nuklir Iran sebagai alasan penyerangan.
Isu nuklir selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan utama antara Washington dan Teheran di berbagai forum internasional.
“Ini adalah pesan yang sangat sederhana: mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” katanya.
4. Menghentikan Proksi Teroris
Trump juga menyebut keberadaan kelompok proksi Iran di kawasan Timur Tengah sebagai ancaman bagi stabilitas regional maupun global.
Pernyataan tersebut merujuk pada kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini dituding memiliki kedekatan dengan pemerintah Iran.
“Kami akan memastikan bahwa proksi teroris di kawasan tersebut tidak lagi dapat mengguncang stabilitas kawasan atau dunia dan menyerang pasukan kami,” ujarnya.
5. Seruan Perubahan Rezim
Dalam pidato itu, Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan mereka.
“Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan kalian. Itu akan menjadi milik kalian untuk diambil. Ini mungkin akan menjadi satu-satunya kesempatan kalian selama beberapa generasi,” kata Trump.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi bahwa tujuan operasi militer tidak hanya terbatas pada isu keamanan, melainkan juga menyentuh aspek politik dalam negeri Iran.
Terlebih, serangan AS bersama Israel telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Hingga kini, situasi di Timur Tengah masih berkembang dan memicu kekhawatiran komunitas internasional akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas. Pemerintah Iran sendiri belum memberikan pernyataan resmi terbaru terkait isi pidato tersebut.
Bisa Sampai Lebaran
Sebelumnya, Trump, mengatakan, perang melawan Iran bisa berlangsung sampai setidaknya selama 4 minggu. Sejak serangan pertama pada pekan kedua Ramadan, Sabtu (28/2/2026), artinya konflik bersenjata itu bisa berlangsung sampai momen Lebaran, yang diperkirakan akan jatuh pada Jumat (20/3/2026).
Serangan rudal AS bersama Israel yang menyasar Teheran pada Sabtu lalu dinilai tak menghormati umat Muslim karena dilakukan saat bulan suci Ramadan.
Masyarakat Iran yang mayoritas Muslim sedang khidmat beribadah pada momen yang hanya sebulan dalam setahun itu.
Jika perhitungan Trump terjadi, lagi-lagi, momen berharga umat Muslim, hari raya Idulfitri yang seharusnya menjadi ajang saling memaafkan dan berkumpul keluarga, akan diselimuti suasana mencekam perang.
"Prosesnya selalu memakan waktu empat minggu. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat minggu. Prosesnya selalu sekitar empat minggu, jadi sekalipun negara ini kuat dan luas, akan memakan waktu empat minggu atau kurang," kata Trump kepada Daily Mail, Minggu (1/3/2026).
Trump mengaku terbuka dengan kemungkinan perundingan dengan Iran, namun tidak dalam waktu dekat.
"Mereka ingin, mereka ingin bicara, tapi aku sudah bilang seharusnya kalian bicara minggu lalu, bukan minggu ini," lanjut Trump.
Dalam beberapa kali pidatonya, tujuan AS menyerang demi menghapuskan ancaman program nuklir dari Iran.
Khamenei Gugur
Diberitakan sebelumnya, serangan gabungan AS dan Israel menumbangkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Wafatnya Khamenei disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, IRIB, dan media pemerintah Iran, IRNA, pada Minggu pagi (1/3/2026) waktu Iran.
Pemerintah juga telah menetapkan 40 hari berkabung.
Tidak ada penjelasan lebih lanjut soal kabar duka tersebut. Khamenei hanya disebutkan wafat pada Sabtu pagi (28/2/2026).
"Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, gugur sebagai syahid setelah serangan yang dilakukan oleh rezim Zionis dan Amerika Serikat pada Sabtu pagi.
Kabinet telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta libur nasional selama 7 hari menyusul gugurnya Pemimpin Revolusi tersebut," dikutip dari IRNA.
(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews.com/Whiesa/Tribunjakarta.com)