Iran vs AS
Respon Mojtaba Khamenei Usai Ali Larijani Tewas Dalam Serangan Israel: Bersumpah Balas Dendam
Mojtaba Khamenei murka usai Ali Larijani tewas diserang Israel, Iran ancam balas dendam panas
Editor: Eri Ariyanto
Ringkasan Berita:
- Tewasnya Ali Larijani akibat serangan Israel memicu ketegangan baru di Iran.
- Mojtaba Khamenei merespons dengan pernyataan keras dan sumpah balas dendam.
- Situasi ini memperbesar risiko eskalasi konflik dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabar tewasnya Ali Larijani dalam serangan udara Israel mengguncang panggung politik Iran di tengah konflik yang kian memanas.
Serangan tersebut disebut menargetkan elite strategis Iran dan menewaskan salah satu tokoh kunci keamanan nasional negara itu.
Di tengah situasi genting ini, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei langsung menjadi sorotan publik dunia.
Ia yang baru saja menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran, kini dihadapkan pada ujian besar di awal kepemimpinannya.
Kematian Larijani tak hanya menjadi pukulan telak bagi struktur kekuasaan Iran, tetapi juga memperbesar eskalasi konflik dengan Israel.
Apalagi, serangan ini terjadi di tengah perang terbuka yang telah menelan ribuan korban dan menghancurkan stabilitas kawasan.
Menanggapi peristiwa tersebut, Mojtaba Khamenei disebut mengeluarkan pernyataan keras yang penuh emosi dan kemarahan.
Ia bahkan dikabarkan bersumpah akan membalas darah yang tumpah, menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam.
Pernyataan itu menjadi sinyal kuat bahwa konflik berpotensi memasuki babak yang lebih berbahaya.
Dunia pun kini menanti langkah berikutnya dari Teheran, di tengah kekhawatiran akan pecahnya perang yang lebih luas di Timur Tengah.
Baca juga: Heboh! Donald Trump Disarankan Penasihatnya Untuk Umumkan Kemenangan dan Mundur dari Perang Iran
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan keras kedua sejak naik takhta menggantikan ayahnya bulan Maret 2026 ini.
Dalam pernyataan tertulis yang disiarkan media pemerintah, Mojtaba menegaskan bahwa pembunuhan kepala keamanan Iran berpengaruh, Ali Larijani, adalah bukti nyata ketakutan musuh terhadap kokohnya sistem Islam di Iran.
"Setiap tetes darah memiliki harganya. Para pembunuh kriminal martir ini akan segera membayar harga tersebut," tegas Mojtaba Khamenei.
Ia menambahkan bahwa kematian Larijani justru akan memperkuat 'pohon sistem Islam' yang kini tengah digempur oleh kekuatan asing.
"Mereka yang memusuhi Islam harus tahu bahwa penumpahan darah ini di kaki pohon sistem Islam yang menjulang tinggi hanya akan membuatnya semakin kuat, dan tentu saja setiap darah memiliki harganya, yang akan segera dibayar oleh para pembunuh kriminal para martir ini," kata Mojtaba.
Sinyal Keras dari Selat Hormuz
Di tengah ancaman militer yang kian nyata, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan gambaran mengenai arah kebijakan luar negeri di bawah kepemimpinan Mojtaba.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Araghchi mengisyaratkan bahwa Iran tidak akan begitu saja membuka Selat Hormuz—jalur nadi minyak dunia yang kini mereka tutup.
Araghchi mengusulkan adanya protokol baru bagi kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut.
Ia menekankan bahwa navigasi damai hanya mungkin terjadi jika kepentingan Iran dipertimbangkan dan di bawah kondisi khusus yang ditetapkan Teheran.
Langkah ini diprediksi akan terus menekan harga minyak global ke level tertinggi.
Teka-teki Senjata Nuklir dan Serangan Regional
Mengenai isu sensitif senjata nuklir, Araghchi menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei belum mengeluarkan pendapat resmi terkait legitimasi senjata pemusnah massal.
Namun, ia memperkirakan kebijakan tersebut 'tidak akan berbeda jauh' dari fatwa mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang mengharamkan senjata nuklir pada awal 2000-an.
Terkait serangan yang mengenai wilayah tetangga, Araghchi membela diri dengan menyalahkan militer Amerika Serikat.
Ia mengklaim bahwa dampak serangan di area non-militer terjadi karena pasukan AS sengaja menempatkan diri di dekat kawasan perkotaan.
"Negara-negara regional mungkin merasa terganggu, namun Amerika Serikat-lah yang memicu semua ini," ujar Araghchi.
Ia mengalihkan tanggung jawab atas eskalasi yang merembet ke negara-negara sekitar.
Transparansi di Tengah Transisi Darurat
Transisi kepemimpinan ke tangan Mojtaba Khamenei terjadi di saat yang paling krusial bagi Iran.
Kehilangan tokoh-tokoh kunci seperti Larijani dan menteri intelijen dalam waktu singkat memaksa Teheran untuk menunjukkan sikap yang jauh lebih agresif guna mempertahankan stabilitas domestik dan wibawa di mata internasional.
(TribunNewsmaker.com/WartaKotalive.com)
| Saat Gencatan Senjata Berlaku, Kapal Tanker Iran Ditembaki AS, Trump Kembali Umbar Ancaman Bom |
|
|---|
| Pernyataan Mengejutkan Senator AS, Sebut Trump dan Netanyahu Dalang di Balik Konflik Timur Tengah |
|
|---|
| Iran Sebut Donald Trump Gagal Total, AS Mundur dari Selat Hormuz Namun Akui Berjalan Sesuai Rencana |
|
|---|
| Kontrol Ketat untuk Kapal di Selat Hormuz! Iran Keluarkan Aturan Baru, AS Diminta Tidak Mendekat |
|
|---|
| Pengakuan Mengejutkan Terbaru Iran, Sebut Buka Pintu Negosiasi, Tetap Bersiap Jika Eskalasi Meledak |
|
|---|