Breaking News:

Kabupaten Klaten

Sentuhan Seni Dongkrak Harga Gerabah Melikan Hingga 5 Kali Lipat

Hampir semua pengrajin di Melikan sudah mengikuti jejak Lek Waris dengan memberi motif carving, ukiran, hingga lukisan.

Tayang:
Editor: Delta Lidina
TribunSolo/Zharfan
PRODUK LOKAL KLATEN - Salah satu usaha pembuatan gerabah di Kabupaten Klaten yang terkenal, berasal dari Dukuh Pagerjurang, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Rabu (7/5/2025). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo

TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Gerabah Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten, kini tak hanya dikenal sebagai peralatan rumah tangga. Sentuhan seni menjadikan produk tradisional ini naik kelas dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

Waris Hartono atau akrab disapa Lek Waris (45), pengrajin setempat, mengaku sejak 2015 mulai fokus memproduksi gerabah seni atau art pottery. 

Ia memberi sentuhan khusus seperti carving, ukiran, maupun cover painting agar gerabah bisa bersaing dengan keramik kelas tinggi.

“Melalui seni lah saya dibawa ke industri gerabah. Makanya gerabah yang saya produksi adalah gerabah art, khusus art,” ujarnya.

Baca juga: Masuk API Award Kategori Cendera Mata: Gerabah Melikan Bertahan Sejak 1901, Ciri Khas Putaran Miring

Menurut Lek Waris, hasil karya dengan sentuhan seni mampu meningkatkan nilai jual hingga lima kali lipat. 

Jika gerabah polos dijual murah, maka setelah diberi motif dan finishing khusus bisa dihargai jauh lebih tinggi.

PRODUK LOKAL SOLO - Pengrajin gerabah menggunakan alat putaran miring, yang menjadi satu-satunya di dunia.
PRODUK LOKAL SOLO - Pengrajin gerabah menggunakan alat putaran miring, yang menjadi satu-satunya di dunia. (TribunSolo/Zharfan)

“Dari sisi harga, minimal bisa naik lima kali lipat lebih,” jelasnya.

Produk yang dibuat Lek Waris beragam, mulai dari peralatan dapur sederhana seharga Rp2 ribu hingga guci dengan hiasan seni yang mencapai Rp2,5 juta.

Karya-karyanya kini banyak diminati. Bahkan, beberapa produk miliknya dipajang di etalase Kabupaten Klaten, termasuk lobi kantor Bupati Klaten.

“Kalau dulu posisi gerabah itu, maaf, sudut pandang orang kotor dan tidak menonjol. Sekarang gerabah posisinya di etalase,” katanya.

Lek Waris mengakui perjalanannya tidak mudah. Sebelum tahun 2010, ia sempat mendapat cibiran saat mencoba menambahkan motif pada gerabah polos. 

Namun kini hampir semua pengrajin di Melikan sudah mengikuti jejaknya dengan memberi motif carving, ukiran, hingga lukisan.

“Seiring perjalanan, setelah tahun 2000-an sampai sekarang, enggak ada produk yang enggak ada motifnya. Semua di carving, semua di gores, semua di ukir,” tuturnya.

Transformasi itu membuat gerabah Melikan semakin diminati pasar, baik lokal maupun internasional. (*) 

Sumber: Tribun Solo
Tags:
KlatenPemkab KlatenMelikangerabahAPI Award 2025
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved