Seputar Solo Raya
Sejarah & Filosofi Janur Kuning, Identik dengan Tradisi Pernikahan di Solo Raya
Sejarah dan filosofi janur kuning, identik dengan tradisi pernikahan di Solo Raya.
Editor: Listusista Anggeng Rasmi
Ringkasan Berita:
- Keberadaan janur kuning hampir selalu menjadi pemandangan yang familiar di acara pernikahan.
- Di balik bentuknya yang sederhana, janur mengandung filosofi, nilai religius, dan pesan kehidupan.
- Sejarah panjang penggunaan janur dalam pernikahan adat Jawa menjadi alasan kuat mengapa tradisi ini tak lekang oleh waktu.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Bagi banyak orang yang pernah menghadiri pernikahan di wilayah Solo Raya, keberadaan janur kuning hampir selalu menjadi pemandangan yang familiar.
Hiasan ini seolah menjadi penanda bahwa sebuah hajatan pernikahan sedang berlangsung.
Dalam tradisi Jawa, khususnya di Jawa Tengah, janur bukan sekadar ornamen pelengkap acara.
Elemen ini telah lama menyatu dengan adat pernikahan dan hadir dalam berbagai wujud.
Mulai dari tarub, kembar mayang, hingga dekorasi di pintu masuk rumah atau gedung resepsi, janur selalu menempati posisi penting.
Keberadaannya mencerminkan warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Jawa.
Meski zaman berubah dan gaya pernikahan semakin modern, penggunaan janur tetap dipertahankan.
Hal ini karena janur memiliki makna simbolik yang mendalam, bukan hanya sebagai pemanis visual.
Di balik bentuknya yang sederhana, janur mengandung filosofi, nilai religius, dan pesan kehidupan.
Baca juga: 5 Kuliner di Solo Jateng yang Wajib Dikunjungi, Ada Bakso Alex & Gudeg Ceker Margoyudan Bu Kasno
Tak mengherankan jika tradisi ini masih lestari hingga kini, terutama di Surakarta (Solo) dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa.
Sejarah panjang penggunaan janur dalam pernikahan adat Jawa menjadi alasan kuat mengapa tradisi ini tak lekang oleh waktu.
Wilayah Solo dan DIY yang berasal dari trah Mataram memang dikenal konsisten melestarikan adat leluhur.
Salah satu kisah yang melatarbelakangi tradisi ini berkaitan dengan tokoh Ki Ageng Tarub.
Ia dikenal sebagai putra Syekh Maulana Maghribi sekaligus sahabat dekat Sunan Kalijaga.
Saat menikahkan putranya di Dusun Tarub, Ki Ageng Tarub meminta Sunan Kalijaga membuatkan tarub sebagai bagian dari prosesi pernikahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/janur-kuning-yang-menghiasi-kawasan-mangkunegaran.jpg)