Breaking News:

Berita Viral

Dari Jalur Lari ke Pelukan Lama: Romansa Chris Atlet Adaptif dan Carlie yang Hidup Kembali

Berjuang Tanpa Anggota Tubuh, Chris Koch Juga Menemukan Kembali Cintanya.

Tayang:
AsiaOne
Berjuang Tanpa Anggota Tubuh, Chris Koch Juga Menemukan Kembali Cintanya. 

Berjuang Tanpa Anggota Tubuh, Chris Koch Juga Menemukan Kembali Cintanya.

Tribunnewsmaker - Chris Koch terlahir tanpa lengan dan kaki, namun kondisi itu tidak pernah menjadi penghalang baginya untuk menaklukkan berbagai maraton di seluruh dunia. Dengan papan luncur panjang sebagai alat mobilitasnya, atlet adaptif asal Kanada ini telah menyelesaikan 22 perlombaan internasional, termasuk Standard Chartered Singapore Half Marathon pada Sabtu (6 Desember), dan ia masih berencana mengikuti maraton penuh keesokan harinya—menjadikan total jaraknya mencapai 23 perlombaan.

Baca juga: Kisah Inspiratif Penjual Mukena Raih Penghargaan di Shopee Super Awards 2023

Chris Koch dan pacarnya Carlie berpartisipasi dalam setengah maraton bersama pada hari Sabtu (6 Desember).
Chris Koch dan pacarnya Carlie berpartisipasi dalam setengah maraton bersama pada hari Sabtu (6 Desember). (AsiaOne)

Kisah inspiratif perjuangan atlet adaptif dan kisah cinta yang terukir kembali

Selain dikenal sebagai atlet, Chris juga seorang petani dan pembicara motivasi. Namun, dalam perjalanan maraton terbarunya di Singapura, ada satu hal lain yang membuat pengalaman itu terasa lebih spesial: ia ditemani oleh pacarnya, Carlie, yang untuk pertama kalinya mengikuti lari setengah maraton.

Cinta yang Bertemu Kembali di Jalur Maraton

Hubungan Chris dan Carlie bukanlah kisah cinta yang baru mekar justru sebaliknya. Mereka pernah berpacaran sejak sekolah dasar, sebelum akhirnya berpisah dan kehilangan kontak selama bertahun tahun. Namun takdir membawa mereka kembali bertemu dalam cara yang tak terduga.

Pada Calgary Marathon bulan Mei lalu, Carlie menjadi sukarelawan. Di sanalah ia dan Chris bertemu kembali untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Pertemuan itu kemudian menyalakan kembali kedekatan yang dulu sempat hilang.

Sejak momen itu, hubungan mereka semakin solid. Bagi Chris, kembali bersama Carlie bukan hanya soal cinta lama yang bersemi kembali, tetapi juga soal menemukan seseorang yang benar-benar memahami perjuangan, semangat, dan gaya hidupnya sebagai atlet adaptif.

Saling Mendukung di Jalur Lari

Selama berada di Singapura, Carlie bukan sekadar pendamping ia ikut berlari, ikut merasakan atmosfer lomba, dan memberikan dukungan penuh kepada Chris.

Chris menuturkan bahwa berpartisipasi dalam maraton bersama orang lain memberikan arti berbeda. Ia pernah berlari bersama keponakannya, bahkan mendampingi seorang gadis yang kehilangan kakinya dalam kecelakaan. Namun momen berlari bersama Carlie terasa jauh lebih pribadi dan emosional.

“Yang bersama Carlie ini, justru lebih spesial daripada lomba-lomba yang saya jalani sendirian,” ujar Chris kepada AsiaOne. “Karena Anda ada di sana bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang yang Anda sayangi.”

Humor, Semangat Hidup, dan Filosofi ‘Jika Saya Bisa’

Di balik semua pencapaiannya, Chris tetap dikenal sebagai pribadi humoris. Bahkan sejak hari kelahirannya, keluarganya sudah membangun atmosfer humor neneknya bercanda bahwa ayah Chris “tidak pernah menyelesaikan apa yang ia mulai.”

Pria berusia 46 tahun itu selalu menggunakan humor untuk menghadapi keterbatasan fisik dan tantangan hidup. Ia bercerita tentang bagaimana para pelari di Washington DC pernah bertanya berapa biaya untuk “menumpang papan luncurnya”. Chris dengan santai menjawab, “Mahal sekali,” sambil tertawa.

Moto hidupnya, “Jika saya bisa,” memiliki dua makna:

Jika ia tanpa lengan dan kaki bisa berlari maraton, bertani, dan berkeliling dunia, maka semua orang juga mampu melakukan hal-hal luar biasa.

Halaman 1/2
Tags:
berita viralLari Marathonatlet
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved