Breaking News:

Ramadan 2025

Puasa Ramadan 2025, Berapa Lama Waktu Puasa di Berbagai Negara? Bisa Mencapai 16 Jam, Ini Daftarnya

Durasi waktu puasa yang berbeda-beda di seluruh dunia, bahkan ada yang sampai 16 jam untuk menahan lapar dan minum.

|
Editor: Sinta Darmastri
Kolase Ilustrasi Tribun Video
DURASU WAKTU PUASA - Di dunia ini memiliki waktu masing-masing, sehingga untuk waktu puasa pun tentunya memiliki durasi berbeda. Inilah negara-negara yang memiliki durasi puasa terlama, ada yang sampai 16 jam. 

Ramadan: Waktu Penuh Berkah dengan Tantangan Durasi Puasa yang Berbeda di Seluruh Dunia

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Bulan suci Ramadan adalah waktu yang sangat dinanti-nanti oleh umat Muslim di seluruh dunia.

Selama bulan ini, umat Muslim menjalankan ibadah puasa, yaitu menahan diri dari makan, minum, merokok, serta menahan hawa nafsu mulai dari fajar hingga senja. 

Puasa ini berlangsung antara 12 hingga 16 jam, tergantung pada lokasi geografis dan waktu matahari terbenam di masing-masing negara.

Mengapa Ramadan Dimulai pada Tanggal yang Berbeda Setiap Tahunnya?

Ramadan tidak jatuh pada tanggal yang sama setiap tahunnya.

Hal ini disebabkan oleh penggunaan kalender lunar dalam penentuan waktu Ramadan, yang lebih pendek dibandingkan dengan kalender Masehi. 

Kalender Hijriah, yang terdiri dari 12 bulan dengan masing-masing bulan berjumlah 29 atau 30 hari, menyebabkan perbedaan antara tahun lunar dan tahun solar.

Karena tahun lunar lebih pendek sekitar 10 hingga 12 hari daripada tahun solar, Ramadan akan bergerak maju setiap tahunnya.

Sebagai contoh, pada tahun 2030, umat Muslim akan merayakan Ramadan dua kali, yakni pada bulan Januari dan bulan Desember.

Sementara pada tahun 2031, Ramadan akan jatuh pada titik balik matahari musim dingin, yang mempengaruhi durasi puasa di belahan bumi utara dan selatan. 

Waktu puasa di belahan bumi utara akan lebih pendek, sementara di belahan bumi selatan, durasi puasa sedikit lebih panjang.

Durasi Puasa di Berbagai Kota di Dunia

Durasi puasa bervariasi secara signifikan antara satu negara dengan negara lainnya, tergantung pada lokasi geografis masing-masing.

Di negara-negara yang terletak di selatan, seperti Chili dan Selandia Baru, umat Muslim akan berpuasa sekitar 13 jam.

Sebaliknya, di negara-negara yang berada di belahan bumi utara, seperti Islandia dan Greenland, durasi puasa bisa mencapai 16 jam atau lebih pada hari-hari terpanjang.

Berikut adalah estimasi durasi puasa rata-rata di beberapa kota di dunia:

  • Nuuk, Greenland: 16 jam
  • Reykjavik, Islandia: 16 jam
  • Helsinki, Finlandia: 15 jam
  • Oslo, Norwegia: 15 jam
  • Stockholm, Swedia: 15 jam
  • Berlin, Jerman: 14 jam
  • London, Inggris: 14 jam
  • New York, Amerika Serikat: 14 jam
  • Beijing, China: 14 jam
  • Paris, Prancis: 14 jam
  • Riyadh, Arab Saudi: 13 jam
  • Kairo, Mesir: 13 jam
  • Jakarta, Indonesia: 13 jam
  • Buenos Aires, Argentina: 13 jam
  • Christchurch, Selandia Baru: 13 jam

Di negara-negara tropis seperti Indonesia dan sebagian besar wilayah Timur Tengah dan Asia Selatan, durasi puasa biasanya sekitar 13 jam.

Sementara itu, negara-negara dengan iklim lebih dingin, seperti Eropa Utara dan sebagian besar Amerika Utara, cenderung mengalami durasi puasa yang lebih panjang.

DURASU WAKTU PUASA - Di dunia ini memiliki waktu masing-masing, sehingga untuk waktu puasa pun tentunya memiliki durasi berbeda. Inilah negara-negara yang memiliki durasi puasa terlama, ada yang sampai 16 jam.
DURASU WAKTU PUASA - Di dunia ini memiliki waktu masing-masing, sehingga untuk waktu puasa pun tentunya memiliki durasi berbeda. Inilah negara-negara yang memiliki durasi puasa terlama, ada yang sampai 16 jam. ((KOMPAS.com/FREDERIKUS TUTO KE SOROMAKING)

Mengapa Durasi Puasa Berbeda di Berbagai Negara?

Perbedaan durasi puasa ini dipengaruhi oleh kemiringan sumbu Bumi dan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari.

Negara-negara yang lebih dekat dengan garis khatulistiwa, seperti Indonesia, India, dan negara-negara di Timur Tengah, memiliki durasi siang hari yang lebih konsisten sepanjang tahun.

Oleh karena itu, durasi puasa mereka tidak banyak berubah.

Namun, negara-negara yang lebih jauh dari khatulistiwa, terutama yang berada di belahan bumi utara atau selatan, mengalami variasi panjang siang dan malam yang lebih signifikan.

Hal ini membuat durasi puasa mereka sangat bervariasi tergantung pada musim saat itu.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Durasi Puasa

  1. Letak Geografis: Negara-negara yang terletak lebih dekat dengan kutub utara atau selatan akan mengalami variasi yang lebih ekstrem dalam panjang siang dan malamnya. Di musim panas, siang hari akan lebih panjang, sementara di musim dingin, siang bisa sangat pendek.

  2. Kalender Lunar: Kalender Hijriah berbasis pergerakan bulan, yang menyebabkan Ramadan bergeser sekitar 10 hingga 12 hari lebih awal setiap tahunnya. Hal ini mempengaruhi durasi puasa yang bisa lebih panjang atau lebih pendek, tergantung pada musimnya.

  3. Perbedaan Musim: Musim panas menghasilkan hari yang lebih panjang, yang menyebabkan durasi puasa menjadi lebih lama. Sebaliknya, musim dingin membawa hari yang lebih pendek, sehingga durasi puasa juga menjadi lebih singkat.

Bagaimana Durasi Puasa Berubah Setiap Tahun?

Setiap tahunnya, durasi puasa akan berubah karena Ramadan yang bergeser lebih awal.

Misalnya, pada tahun 2031, Ramadan akan jatuh pada titik balik matahari musim dingin di belahan bumi utara, yang akan membuat durasi puasa lebih pendek (sekitar 10 hingga 12 jam), jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mungkin lebih panjang.

Bagaimana Ramadan Akan Berubah di Tahun-Tahun Mendatang?

Setelah tahun 2031, Ramadan akan terus bergerak maju.

Di belahan bumi utara, durasi puasa akan bertambah panjang hingga mencapai puncaknya saat titik balik matahari musim panas.

Di sisi lain, negara-negara di belahan bumi selatan akan mengalami pengurangan durasi puasa.

Baca juga: 5 Rekomendasi Mie Ayam di Klaten untuk Buka Puasa, Enak dan Murah!

Tantangan Puasa di Zona Waktu yang Berbeda

Puasa di zona waktu yang berbeda menimbulkan tantangan tersendiri.

Di negara-negara dengan durasi puasa yang sangat panjang, seperti di Skandinavia dan Greenland, umat Muslim perlu merencanakan waktu berbuka dengan sangat hati-hati untuk memastikan kecukupan hidrasi dan gizi.

Sebaliknya, di negara-negara dengan durasi puasa yang lebih pendek, tantangan lebih terfokus pada pengelolaan hidrasi dan nutrisi agar tetap bertenaga sepanjang hari.

Pengalaman Berpuasa di Berbagai Negara

Berpuasa di berbagai belahan dunia menawarkan pengalaman yang sangat berbeda.

Di negara-negara dengan musim yang ekstrem, seperti di Eropa Utara atau sekitar kutub, umat Muslim menghadapi kenyataan bahwa siang hari bisa berlangsung sangat panjang, sehingga durasi puasa menjadi sangat lama.

Sementara itu, di negara-negara belahan bumi selatan seperti Australia dan Afrika Selatan, waktu puasa relatif lebih singkat, memberikan pengalaman yang berbeda pula.

Baca juga: Es Gosrok Pak Amir, Menu Segar untuk Berbuka Puasa di Klaten dengan Harga Murah, Buka Sejak 1957

Menghadapi Ramadan dengan Bijak

Bagi umat Muslim yang berpuasa di negara dengan durasi puasa yang sangat panjang, penting untuk merencanakan waktu berbuka secara bijaksana.

Memilih makanan bergizi dan menjaga asupan cairan dengan baik menjadi kunci untuk menjalani ibadah puasa dengan lancar.

Meskipun tantangan bervariasi, bulan Ramadan tetap merupakan momen penuh berkah yang menjadi kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan serta kedekatan dengan Allah SWT.

(Tribunnewsmaker.com/Serambinews.com)

Tags:
Ramadanpuasanegara
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved