Kerasnya permainan, kata Febry, dibuktikan dengan 10 pelanggaran yang dilakukan tim futsal Malang.
Kemudian, ada lima kali kesempatan tendangan penalti titik kedua bagi tim futsal Kabupaten Blitar.
Hanya satu dari lima tendangan tim futsal Blitar yang membuahkan gol.
“Gol kelima dicetak oleh Nico Saputra pada menit ke-39 lebih 40 detik melalui tendangan penalti titik kedua, jarak 10 meter dari gawang. Gol inilah kemudian Hanafi bersujud syukur. Tapi, tiba-tiba seorang pemain Kota Malang menendang tubuhnya, kena bagian bahu kanan, bukan kepala ya,” tutur Febry.
Setelah kejadian tersebut, tim futsal Malang meminta maaf.
“Tim Malang, malamnya sama pagi WA minta maaf. Ya, kita maafkan. Karena dari awal kita murni untuk mencetak prestasi. Saya bilang ke anak-anak, jangan terprovokasi. Kalau sampai membalas lawan, akan dapat kartu, nanti enggak bisa main pada pertandingan berikutnya. Ini merugikan tim,” ujarnya.
Tanggapan Wali Kota Malang
Wali Kota Malang Sutiaji turut memberikan tanggapan terkait insiden penendangan tersebut.
Menurut dia, sebelum kontingen Malang diberangkatkan di ajang Porprov Jatim, dirinya sudah mengingatkan para atlet untuk bermain sportif.
"Karena sebetulnya yang dicari dalam sebuah pertandingan, satu semangat, kedua disiplin, ketiga kerja sama, yang tidak kalah penting adalah fairplay, itu yang kami pesankan," katanya, Rabu (20/9/2023).
Sutiaji berharap peristiwa semacam itu tak terulang kembali.
"Saya atas nama Pemerintah Kota Malang, menjadi pembina dari KONI, menyesalkan perbuatan-perbuatan yang demikian," kata Sutiaji.
Diolah dari berita tayang di Kompas.com