Belajar dari diri sendiri yang kerap mengeluarkan uang Rp200 ribu per bulan untuk laundry baju, pria ini pilih buka usaha sendiri.
Ia melihat adanya peluang usaha laundry.
Apik Primadya lantas patungan dengan teman-temannya untuk membuka usaha laundry.
Saat itu ia dan teman-temannya bermodal Rp20 juta dan membuka usaha laundry pada tahun 2008.
Baca juga: Khusus Lansia! Lowongan Kerja Boga Group, 4 Jam Kerja, Lulusan SMA Bisa Daftar: Dapat Makan Gratis!
"Akhirnya hayuk dijadiin aja dan akhirnya kita buka laundry. Nah, dari situ Rp20 juta beli mesin cuci dan mesin pengering," jelas Apik Primadya.
Meski sudah memiliki modal, Apik Primadya belum mengetahui tips bisnis laundry.
Termasuk segi mencuci, bahkan mengeringkan pakaian.
Sementara terkait penamaan bisnis laundry-nya, Apik Primadya mengikuti trend bahasa pada saat itu.
Namun lagi-lagi Apik Primadya belum menentukan jenis laundry apa yang dijalankan.
"Nah, akhirnya 'apique' lah (nama laundry). Sesimpel itu sebenarnya." jelasnya.
"Abis itu enggak ada tulisan ini laundry apa, ini kiloan kah atau apa," lanjutnya.
Apik Primadya juga masih belum percaya diri untuk mempromosikan bisnisnya saat itu.
Seiring berjalannya waktu, Apik Primadya mulai promosi hingga akhirnya mendapatkan pelanggan.
Karyawan Apik Primadya pun kian bertambah.
Kini Apik Primadya memiliki 300 cabang laundry.
"Ya kalo sekarang 300, dan ini masih berjalan masih 300-an titik lebih." ujar Apik Primadya.
"Jadi tiap minggu kita bisa opening empat lokasi, tiga lokasi," tutur Apik Primadya.
Selain itu ia juga punya tiga swalayan khusus perlengkapan laundry.
Dari sosok yang buta dunia bisnis, kini Apik Primadya bisa mengantongi omzet minimal Rp4 miliar per bulan.
(TribunNewsmaker.com/Dika Pradana)