Rohmat Sukur Ternyata Cuma Sopir Bos di Jakarta, Susun Tim Intai Gerak-gerik Ilham Kacab Bank BUMN
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Warga di kawasan Semarang Timur, Jawa Tengah, selama ini mengenal sosok Rohmat Sukur hanya sebagai seorang sopir pribadi dari seorang pengusaha di Jakarta.
Penampilannya sederhana, tubuhnya tegap, dengan tulang muka yang kokoh serta sorot mata yang tajam.
Tak sedikit yang menilai Rohmat sebagai pribadi yang rendah hati, mudah bergaul, dan bahkan sering melontarkan guyonan kepada orang di sekitarnya.
Namun, ada sisi lain yang selama ini tak pernah diketahui oleh banyak orang. Di balik sikapnya yang bersahaja, Rohmat ternyata memiliki keterlibatan besar dalam kasus kriminal besar yang mengguncang publik.
Ia diduga kuat menjadi salah satu tokoh kunci dalam kasus penculikan disertai pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta, seorang kepala cabang bank BUMN di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Penyidik dari Polda Metro Jaya berhasil menelusuri jejaknya dan memasukkan nama Rohmat Sukur ke dalam kelompok yang disebut sebagai klaster tim pengintai.
Lebih jauh lagi, Rohmat juga berperan sebagai penyedia dukungan teknologi informasi yang digunakan untuk melacak gerak-gerik korban sebelum aksi penculikan berlangsung.
Dalam penyidikan, polisi membagi para tersangka dalam empat klaster berbeda. Klaster pertama adalah otak intelektual yang terdiri dari Dwi Hartono, YJ, AA, dan seorang pria berinisial C alias Ken.
Tiga di antaranya berhasil diamankan di Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Sementara Ken ditangkap sehari kemudian, tepatnya Minggu 24 Agustus 2025 sore, di sebuah perumahan elite di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.
Klaster kedua adalah tim pengintai, yang di dalamnya termasuk Rohmat Sukur.
Baca juga: Daftar Pelaku Kasus Kacab Bank BUMN, Aksi Tersusun Rapi Ada Pengintai, Penculik, dan Otak Pembunuhan
Selain dirinya, ada seorang pria berinisial F yang disebut-sebut sebagai oknum aparat, meskipun statusnya masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut oleh pihak kepolisian.
Selanjutnya, klaster ketiga adalah tim penculik. Mereka terdiri dari empat orang yakni AT, RS, RAH, dan EW alias Eras.
Tiga dari mereka diringkus saat bersembunyi di sebuah rumah di kawasan Johor Baru, Jakarta Pusat, pada Kamis 21 Agustus 2025 sore.
Sedangkan Eras ditangkap secara terpisah di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, ketika mencoba melarikan diri.