Demo Buruh

Jerome Polin Bongkar Buzzer Bayaran Pemerintah Rp 150 Juta, Tegakkan Keadilan: Gak Takut Dimusuhin

Editor: ninda iswara
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BAYARAN BUZZER PEMERINTAH - Demi tegakkan keadilan, Jerome Polin bongkar buzzer bayaran pemerintah Rp 150 juta, tak takut kehilangan teman.

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Situasi sosial dan politik di Indonesia belakangan ini tengah berada dalam sorotan tajam.

Ketegangan yang semakin memuncak membuat banyak warga merasa pilu dan prihatin terhadap arah bangsa.

Salah satu peristiwa yang memicu gelombang emosi publik terjadi pada Kamis malam, 28 Agustus 2025, di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.

Sebuah demonstrasi yang digelar di tengah meningkatnya keresahan masyarakat berujung duka mendalam ketika seorang driver ojek online, Affan Kurniawan, kehilangan nyawanya setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) milik satuan Brimob.

Kabar tragis ini menyebar luas dan membakar amarah netizen.

Baca juga: Pernyataannya Picu Demo, Kemana Para Anggota DPR? Eko Patrio Belanja di China, Sahroni ke Singapura

Kesedihan pun berubah menjadi kemarahan ketika muncul informasi mengejutkan bahwa pemerintah diduga menawarkan bayaran fantastis hingga Rp150 juta untuk satu kali unggahan di media sosial dalam kampanye bertajuk "ajakan damai."

Isu ini menjadi perbincangan panas setelah diungkap secara terbuka oleh kreator konten dan influencer ternama, Jerome Polin.

Melalui akun Instagram pribadinya, @jeromepolin, Jerome membeberkan bahwa dirinya mendapat tawaran dengan nilai fantastis tersebut untuk mendukung narasi damai di tengah situasi memanas.

Padahal, sosok Jerome dikenal memiliki jaringan pertemanan luas, termasuk di kalangan artis dan bahkan orang-orang dalam lingkaran parlemen.

Namun, ia memilih untuk tidak diam.

Dikenal lewat kepiawaiannya di bidang matematika, Jerome menunjukkan sikap tegas.

Ia tak gentar menghadapi konsekuensi sosial dari keberaniannya bersuara.

“Kalau untuk kebenaran dan keadilan, aku gak takut dimusuhin dan kehilangan teman,” ujar Jerome, dikutip dari Tribunnews, Sabtu (30/8/2025).

Bagi pria kelahiran 1998 itu, kehilangan teman bukanlah hal yang menakutkan dibanding kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: integritas dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Aku lebih milih kehilangan teman daripada kehilangan integritas dan hak asasi manusia,” tandasnya.

Halaman
12