Iran vs AS
Harga BBM di AS Meroket Imbas Ulah Trump Perang dengan Iran, Tembus Rp68 Ribu, IMF Beri Peringatan
Harga BBM di AS meroket imbas ulah Trump perang dengan Iran, tembus Rp68 ribu, IMF beri peringatan.
Editor: Listusista Anggeng Rasmi
Ringkasan Berita:
- Harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami lonjakan tajam dalam waktu singkat di Amerika Serikat.
- Per Senin (30/3/2026), harga rata-rata BBM di AS tercatat menembus angka US$4 atau sekitar Rp68.000 per galon.
- Lonjakan ini disebut-sebut berkaitan erat dengan kebijakan Presiden Donald Trump yang melancarkan serangan ke Iran.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kekhawatiran mulai meluas di kalangan warga Amerika Serikat setelah harga bahan bakar minyak (BBM) mengalami lonjakan tajam dalam waktu singkat.
Dari sudut pandang masyarakat, kenaikan ini bukan sekadar angka ekonomi, tetapi langsung berdampak pada kehidupan sehari-hari.
Per Senin (30/3/2026), harga rata-rata BBM di AS tercatat menembus angka US$4 atau sekitar Rp68.000 per galon.
Lonjakan ini disebut-sebut berkaitan erat dengan kebijakan Presiden Donald Trump yang melancarkan serangan ke Iran sejak 28 Februari 2026.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah pun memicu gangguan besar pada rantai pasokan energi global.
Situasi ini dinilai mirip dengan dampak yang terjadi saat Invasi Rusia ke Ukraina 2022, yang sebelumnya juga mengguncang pasar energi dunia.
"Perang yang pecah tiba-tiba ini langsung memukul harga bensin."
Baca juga: Harga BBM 1 April 2026 Tak Jadi Naik, Harga Pertamax hingga Pertalite Masih Seperti Sebelumnya
"Situasinya hampir sama dengan tahun 2022, di mana harga minyak dunia meroket dan cadangan darurat harus mulai dikerahkan," ungkap Pavel Molchanov dari Raymond James, mengutip Reuters.
Bagi warga AS, angka US$4 per galon bukan hanya data statistik, melainkan tekanan nyata terhadap pengeluaran rumah tangga.
Hasil survei Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar 55 persen responden mulai merasakan dampak langsung dari kenaikan harga tersebut.
Bahkan, sekitar 21 persen di antaranya mengaku kondisi keuangan mereka terdampak cukup berat.
Ekonom Jeremy Siegel dari WisdomTree menyebut bahwa harga bensin merupakan indikator ekonomi yang paling mudah dirasakan masyarakat.
Menurutnya, begitu harga melonjak, respons psikologis pasar akan langsung berubah menjadi negatif.
Menghadapi tekanan ini, pemerintah AS mencoba mengambil langkah cepat untuk meredam dampaknya.
Salah satu kebijakan yang diambil adalah penangguhan Jones Act selama 60 hari.