Iran vs AS
Blokade Laut yang Dilakukan AS Masih Bertahan, Ketua DPR Iran Ancam Tutup Selat Hormuz Lagi
Blokade laut yang dilakukan AS masih bertahan, ketua DPR Iran ancam tutup Selat Hormuz lagi .
Editor: Listusista Anggeng Rasmi
Ringkasan Berita:
- Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait blokade laut di Selat Hormuz.
- Keberadaan armada laut AS yang masih melakukan pembatasan dinilai sebagai bentuk tekanan yang belum berakhir.
- Hal ini memicu respons tegas dari pihak Teheran yang merasa kedaulatan wilayahnya terus diuji.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait blokade laut di Selat Hormuz.
Pernyataan ini muncul di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil meski sebelumnya Iran telah mengumumkan pembukaan kembali jalur pelayaran vital tersebut.
Namun, keberadaan armada laut AS yang masih melakukan pembatasan dinilai sebagai bentuk tekanan yang belum berakhir.
Hal ini memicu respons tegas dari pihak Teheran yang merasa kedaulatan wilayahnya terus diuji.
Ghalibaf menegaskan bahwa keputusan untuk membuka atau menutup selat sepenuhnya berada di tangan Iran sebagai pihak yang memiliki kendali strategis di kawasan itu.
Ia bahkan memberikan sinyal bahwa kebijakan sebelumnya bisa saja berubah jika situasi tidak membaik.
Ancaman penutupan kembali Selat Hormuz pun menjadi perhatian serius dunia internasional.
Melalui akun media sosial X miliknya, Ghalibaf menyampaikan peringatan secara terbuka kepada pihak AS.
"Jika blokade berlanjut, Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka," tulis Ghalibaf pada Sabtu (18/4/2026).
Baca juga: Pelayaran Selat Hormuz Terbatas, Iran Berlakukan Tarif Tol, Negara yang Dianggap Musuh Diblokir
Ia juga menegaskan bahwa ke depan, seluruh aktivitas pelayaran akan berada di bawah pengawasan penuh otoritas Iran.
"Transit di Selat Hormuz akan berlangsung berdasarkan 'rute yang ditentukan' dan dengan 'izin dari Iran'," tegasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa Iran siap mengambil langkah lebih jauh jika dianggap perlu.
Dalam unggahan yang sama, Ghalibaf turut menyinggung pernyataan Donald Trump yang dinilainya tidak akurat.
Ia menyebut Trump telah menyampaikan tujuh klaim dalam waktu singkat yang dianggapnya tidak berdasar.
"Apakah selat itu terbuka atau tertutup, dan aturan yang mengaturnya, ditentukan di lapangan, bukan oleh media sosial," pungkasnya.