Iran vs AS
Ketegangan Meledak Lagi! AS dan Iran Kembali Saling Serang 2 Hari Beruntun, Upaya Damai Gagal Total?
Ketegangan AS-Iran kembali memuncak! Saling serang 2 hari beruntun, ancaman perang besar kian nyata.
Editor: Eri Ariyanto
Ringkasan Berita:
- AS dan Iran kembali terlibat saling serang selama dua hari berturut-turut, membuat situasi di Timur Tengah semakin memanas.
- Presiden Donald Trump mengancam akan melanjutkan serangan jika Iran tidak mau berdamai, sementara Iran mengecam aksi AS sebagai pelanggaran hukum internasional.
- Eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz memicu kekhawatiran dunia akan pecahnya perang yang lebih luas dan mengganggu stabilitas kawasan.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mencapai titik kritis setelah kedua negara terlibat aksi saling serang selama dua hari berturut-turut.
Rangkaian serangan tersebut memicu kekhawatiran dunia internasional akan pecahnya konflik terbuka yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Situasi semakin memanas karena insiden ini terjadi saat berbagai pihak tengah mendorong upaya perdamaian dan deeskalasi konflik.
Namun harapan untuk meredakan ketegangan tampaknya menghadapi jalan buntu setelah masing-masing pihak menunjukkan sikap keras dan saling melancarkan serangan balasan.
Laporan terbaru menyebutkan sejumlah target strategis menjadi sasaran dalam operasi militer yang dilakukan kedua negara.
Aksi saling serang tersebut tidak hanya meningkatkan risiko korban jiwa, tetapi juga mengancam stabilitas keamanan regional.
Negara-negara sekutu dan organisasi internasional pun mulai menyuarakan keprihatinan terhadap perkembangan situasi yang kian memburuk.
Banyak pihak khawatir eskalasi ini dapat menyeret negara-negara lain ke dalam pusaran konflik yang lebih luas.
Lantas, bagaimana kronologi aksi saling serang AS dan Iran selama dua hari terakhir hingga memicu spekulasi bahwa upaya damai telah gagal total?
Baca juga: Donald Trump-Netanyahu Tak Akur, Iran Manfaatkan Celah dan Ambil Alih Kendali Meja Perundingan
Seperti diketahui, Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali bertempur, Kedua belah pihak saling jual-beli serangan udara selama dua hari berturut-turut pada Kamis (11/6/2026).
Baku tembak ini kian mengancam gencatan senjata rapuh yang sempat disepakati pada April lalu, sekaligus memupuskan harapan publik akan berakhirnya perang yang telah pecah sejak akhir Februari tersebut.
Merespons situasi ini, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan ragu untuk melancarkan serangan lanjutan jika Teheran tidak segera menyepakati perjanjian damai.
Ancaman Trump ini langsung memicu gejolak ekonomi, di mana harga minyak dunia melonjak hingga hampir 3 dollar AS dan terus merangkak naik dalam perdagangan di Asia pada Kamis.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan, langkah militer ini diambil demi menekan Iran agar mau naik ke meja perundingan.
"Serangan ini akan memajukan kepentingan militer kami dan juga meningkatkan posisi diplomatik kami," ujar Hegseth kepada wartawan saat mengunjungi Komando Sentral AS atau Central Command (Centcom) di Florida.
| Dampak Mencekam Serangan AS ke Iran, Pasokan Air Kota Dekat Hormuz Terpustus: Kehilangan Akses |
|
|---|
| Iran Kirim Peringatan Keras ke AS: Angkat Kaki dari Timur Tengah atau Hadapi Serangan Besar-besaran |
|
|---|
| Harga Minyak Dunia Naik, Trump Desak Gencatan Senjata, Minta Iran & Israel Segera Hentikan Serangan |
|
|---|
| Iran Sebut AS Biang Kerok Konflik di Timur Tengah: Israel Tak Punya Nyali Bertindak Sendiri |
|
|---|
| Trump Sebut Kemungkinan Bertemu Mojtaba, Klaim Iran Setuju Tak Punya Nuklir: Bisa Berubah Pikiran |
|
|---|