Breaking News:

Berita Viral

Dari Perawat Menjadi CEO Rumah Sakit: Pemimpin yang Memilih Memimpin dengan Pikiran Terbuka

Tak Terbatas oleh Masa Lalu, Mantan Perawat Ini Kini Memimpin Rumah Sakit sebagai CEO.

Tayang:
cna.id
Tak Terbatas oleh Masa Lalu, Mantan Perawat Ini Kini Memimpin Rumah Sakit sebagai CEO. 

Tak Terbatas oleh Masa Lalu, Mantan Perawat Ini Kini Memimpin Rumah Sakit sebagai CEO.

Tribunewsmaker  - Margaret Lee menyadari bahwa perjalanan kariernya di dunia kesehatan tergolong tidak biasa.

Baca juga: Kisah Inspiratif Tangan Kanan Dedi Mulyadi, Cerita Menyentuh Kerasnya Hidup di Balik Keceriaannya

Setelah menjabat sebagai kepala perawat Rumah Sakit Alexandra selama enam tahun dan wakil kepala eksekutif selama satu tahun, Margaret Lee kini menjadi kepala eksekutif baru rumah sakit tersebut, mulai 1 Januari 2026.
Setelah menjabat sebagai kepala perawat Rumah Sakit Alexandra selama enam tahun dan wakil kepala eksekutif selama satu tahun, Margaret Lee kini menjadi kepala eksekutif baru rumah sakit tersebut, mulai 1 Januari 2026. (cna.id)

Berikut kisah inspiratif dari perawat menjadi CEO

Ia adalah salah satu dari segelintir perawat di Singapura yang berhasil menembus jajaran pimpinan tertinggi rumah sakit. Mulai 1 Januari 2026, Lee resmi menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Rumah Sakit Alexandra sebuah pencapaian yang jarang terjadi bagi seseorang dengan latar belakang keperawatan.

“Sangat tidak umum seorang perawat, apalagi yang awalnya tidak pernah bercita-cita bekerja di bidang kesehatan, bisa mencapai posisi manajemen puncak, bahkan menjadi CEO rumah sakit,” ujar Lee kepada CNA Women. “Namun saya tidak membiarkan latar belakang saya yang tidak konvensional menghalangi langkah. Justru sebaliknya, itu menjadi kekuatan karena saya membawa sudut pandang yang mungkin tidak dimiliki orang lain.”

Lee, yang kini berusia 49 tahun, mengaku tidak memiliki awal yang gemilang secara akademis. Nilai ujian O-Level-nya tidak terlalu baik, dan keperawatan hanyalah pilihan kesembilan dalam daftar pendidikan pascasekolahnya.

“Itu termasuk sedikit pilihan yang tersedia dengan hasil O-Level saya,” kenangnya.

Meski demikian, Lee memiliki satu dorongan kuat: keinginan untuk melayani masyarakat. Setelah lulus dari politeknik, ia memulai karier sebagai perawat klinis di Rumah Sakit Universitas Nasional (NUH) pada tahun 2001. Ia bekerja di unit perawatan intensif dan beberapa unit khusus lainnya, menangani pasien dengan kondisi serius.

Awalnya, keperawatan bukanlah profesi yang benar-benar ia minati. Bahkan, Lee sempat mencoba jalur lain. Namun seiring waktu, ia memilih bertahan dan perlahan tapi pasti, menapaki jenjang karier yang lebih tinggi.

Awalnya, keperawatan bukanlah profesi yang dipertimbangkan Lee (kedua dari kiri), tetapi ternyata itu adalah panggilan hidupnya.
Awalnya, keperawatan bukanlah profesi yang dipertimbangkan Lee (kedua dari kiri), tetapi ternyata itu adalah panggilan hidupnya. (cna.id)

Belajar Memimpin dan Mengatasi Keraguan Diri

Kepemimpinan tidak datang dengan mudah bagi Lee. Salah satu peran penting yang pernah ia emban di NUH adalah sebagai koordinator dialisis hati. Selain merawat pasien, ia juga harus mengelola perawat junior, mengurus pengadaan peralatan, serta berkoordinasi dengan vendor eksternal.

Di fase ini, Lee sering diliputi imposter syndrome perasaan tidak pantas atau tidak cukup mampu untuk memimpin.

“Itu masa belajar yang sangat berat,” katanya. “Sebagai perawat, kami terbiasa fokus pada perawatan langsung. Tiba-tiba saya harus mengurus hal-hal manajerial, bahkan ketika saya sendiri belum percaya diri.”

Ia mengenang bagaimana dirinya sering merasa kecil saat duduk dalam rapat bersama pimpinan senior atau pihak luar, dan ragu apakah pendapatnya benar-benar diperhitungkan.

Namun seiring bertambahnya pengalaman, pemahamannya terhadap kondisi nyata di lapangan membuat kepercayaan dirinya tumbuh. Ia mulai melihat bahwa keberanian untuk menyuarakan kebutuhan staf dapat menghasilkan perubahan nyata.

Salah satu contohnya, ketika Lee menyampaikan kekhawatiran tentang jam kerja perawat yang terlalu panjang. Pihak rumah sakit kemudian mencari peralatan dialisis yang lebih efisien, sehingga perawat tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu mengoperasikan mesin dan bisa lebih fokus pada pasien.

Membawa Suara Perawat ke Tingkat Tertinggi

Halaman 1/3
Tags:
berita viralkisah inspiratifperawat
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved