Seputar Solo Raya
Emak-emak di Boyolali Teriak Usai Kenaikan BBM Pertamax, Sebut Uang Seperti Tidak Ada Nilainya
Harga BBM non subsidi naik, warga Boyolali keluhkan pengeluaran makin membengkak: 'Uang Seperti Tidak Ada Ajine'.
Editor: Candra Isriadhi
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga BBM non subsidi mulai dirasakan warga Boyolali, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
- Warga mengaku harus lebih ketat mengatur keuangan karena biaya hidup dan operasional usaha semakin meningkat.
- Tini, pelaku usaha ekspedisi di Mojosongo, menilai kondisi ekonomi semakin berat dan mengatakan, "Uang seperti tidak ada ajine (nilainya), cepat habis."
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Tidak hanya dirasakan para pengendara, lonjakan harga BBM juga mulai membebani kalangan ibu rumah tangga hingga pelaku usaha kecil yang harus menghadapi meningkatnya biaya operasional sehari-hari.
Di tengah kondisi harga kebutuhan pokok yang juga cenderung mengalami kenaikan, masyarakat kini dituntut lebih cermat dalam mengatur pengeluaran agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Salah satu warga yang merasakan langsung dampak kenaikan harga BBM tersebut adalah Tini (33), warga Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali.
Perempuan yang sehari-hari menjalankan usaha jasa ekspedisi itu mengaku harus bekerja lebih keras dalam mengelola keuangan rumah tangga sekaligus mempertahankan kelangsungan usahanya.
Menurut Tini, kenaikan harga BBM datang pada saat kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Ia menilai tekanan ekonomi sudah lebih dulu dirasakan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berdampak pada naiknya harga berbagai kebutuhan.
Baca juga: Anggaran MBG Akan Dikurangi, Menkeu Purbaya Siap Jalankan Keputusan Presiden Purbaya: Kita Ikuti
Situasi tersebut membuat pengeluaran semakin besar, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya membaik.
Tini mengaku kini harus lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang karena biaya hidup terasa semakin berat dibandingkan sebelumnya.
“Uang seperti tidak ada ajine (nilainya), cepat habis,” kata Tini saat ditemui, Kamis (11/6/2026).
Keluhan serupa juga dirasakan banyak masyarakat yang harus menyesuaikan anggaran harian akibat bertambahnya biaya transportasi dan operasional usaha.
Bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada kendaraan untuk menunjang aktivitas bisnis, kenaikan harga BBM dinilai dapat berdampak langsung terhadap biaya distribusi maupun layanan kepada pelanggan.
Di sisi lain, masyarakat berharap kondisi ekonomi dapat segera membaik sehingga beban pengeluaran yang terus meningkat tidak semakin menekan keuangan keluarga.
Biaya Kebutuhan dan Operasional Ikut Naik
Tini mengungkapkan bahwa hampir seluruh kebutuhan harian mengalami kenaikan harga, sehingga semakin membebani pengeluaran keluarga.
Kondisi ini membuatnya harus memutar strategi agar usaha dan kebutuhan rumah tangga tetap berjalan seimbang.
Sumber: Tribun Solo
| Emak-emak di Boyolali Teriak Usai Kenaikan BBM Pertamax, Sebut Uang Seperti Tidak Ada Nilainya |
|
|---|
| Tiba-tiba Ada Baliho PB XIV Hangabehi di Klaten, Warga Sekitar Tak Tahu Menahu Siapa yang Pasang |
|
|---|
| Setelah Carut Marut Pengelolaan Dapur MBG di Wonogiri, Sejumlah SPPG Kini Kembali Beroperasi |
|
|---|
| Harga BBM Naik Tajam, Tarif Bus Kota Solo Masih Rp 3.700, Pengguna Wanti-wanti Penumpang Melonjak |
|
|---|
| Imbas Kenaikan BBM Pertamax, Antrean Panjang Pertalite Mengular di SPBU Solo, Klaten hingga Wonogiri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/Ilustrasi-SPBU-Pertamina-di-Jakarta.jpg)