Sosok Tan Malaka, Tokoh Aliran Kiri yang Dipuji Soekarno dan Bung Hatta
Inilah sosok Tan Malaka, tokoh aliran kiri yang dipuji oleh Soekarno dan Bung Hatta padahal awalnya seorang komunis internasional!
Editor: Talitha Desena
Dia mengaku tak mempunyai tulang punggung yang mudah membungkuk, seperti layaknya gaya para anak buah Stalin ketika bertemu sang juragan.
Di Moskow, komunisme Stalin menjadikan ada seorang pemimpin yang berkuasa dan yang lain itu sebagai budak.
Karena itu, Tan Malaka tan mungkin tinggal dan menetap di Moskow meski dia harus mempelajari komunis di negara itu.
"Aku menjauhi lingkungan yang bertentangan dengan komunisme yang sebenarnya.
Aku pergi ke Timur jauh, ikut berjuang di sana untuk kemerdekaan bangsa Indonesia," ujar Tan Malaka saat bertemu Hatta di Berlin tahun 1922.
Hatta yang cerdik tak percaya begitu saja ucapan Tan Malaka itu.
Bung Hatta berujar, "bukankah ditaktor termasuk dalam sistem komunisme?" Karl Marx mengajarkan tentang ditaktor proletariat.
Tetapi, Tan Malaka langsung membantahnya.
Dia mengatakan, diktaktor proletariat dalam teori Karl Marx hanya terdapat pada masa peralihan, mengalihkan kekuasaan kapitalis atas sumber produksi ke tangan masyarakat.
Tan Malaka melanjutkan, kaum buruh yang terbangun dahulu di bawah asuhan perjuangan kelas, menjadi perintis jalan untuk menegakkan keadilan ke jurusan sosialisme dan komunisme yang akan terselenggara dalam produksi oleh orang banyak dan untuk orang banyak di bawah pimpinan badan-badan masyaarakat.
"Ini bertentangan dengan diktaktor orang seorang," ujar Tan Malaka seperti ditulis Bung Hatta.
Tokoh di Balik Layar
Franz Magnis-Suseno dalam buku 'Dalam Bayang-bayang Lenin Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka' menyebut tokoh kelahiran Suliki, Sumatera Barat, 1897 itu sebagai tokoh di balik layar.
Penulis buku Madilog yang hampir 3 tahun menghuni sejumlah rumah tahanan di Indonesia ini seakan-akan selalu berada di bahwa sebuah peristiwa besar.
Hanya sesekali ia muncul ke depan, seperti pada Kongres di Purwokerto, Jawa Tengah, Januari 1946 saat membentuk Pesatuan Perjuangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/tan-malaka.jpg)