Sosok Tan Malaka, Tokoh Aliran Kiri yang Dipuji Soekarno dan Bung Hatta
Inilah sosok Tan Malaka, tokoh aliran kiri yang dipuji oleh Soekarno dan Bung Hatta padahal awalnya seorang komunis internasional!
Editor: Talitha Desena
Partai Murba yang didirikan oleh kawan-kawan dekatnya pun tidak ia masuki.
Bahkan ketika terjadi pemberontakan PKI tahun 1926 yang gagal, dia sedang tidak ada di Indonesia, dan mengaku tak setuju dengan peristiwa itu.
Sejak itu ia meninggalkan PKI dan aktivitasnya di asosiasi komunis internasional.
Tapi, tokoh bernama Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka ini banyak dianggap sebagai tokoh yang sepadan dengan proklamator RI, Soekarno.
Tan Malaka banyak membaca dan belajar dengan Marxisme saat sekolah di Belanda.
Saat itu ia juga tertarik dengan revolusi Oktober di Rusia yang dilakukan oleh Lenin.
Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia aktif di beberapa pergerakan dan tahun 1921 dia menjadi ketua PKI.
Tapi, setahun kemudian dia diusir oleh kolonial Belanda dari Indonesia dan kembali ke Belanda dan hampir menjadi anggota parlemen dari partai komunis di Belanda.
Saat menghadiri Kongres IV Komintern (Asosiasi Komunis Internasional) di Moskow tahun 1923, dia mengkritik sikap organisasi ini yang anti-Panislamisme.
Tan Malaka menuntut agar kaum komunis mau bekerja sama dengan kelompok-kelompok muslim radikal.
Surat Wasiat Soekarno untuk Tan Malaka
Dalam sebuah pertemuan, Soekarno melihat dan berbicara kepada Tan Malaka bahwa jika sesuatu terjadi pada dirinya, Tan Mala harus mengambil alih pimpinan revolusi.
Kemudian, pernyataan Bung Karno itu dibuat secara tertulis dalam sebuah surat yang kemudian disebut juga 'surat wasiat'.
Tetapi, Bung Hatta meminta agar sejumlah tokoh seperti Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, dan Wongsonegoro juga dimasukkan dalam surat wasiat itu.
Pertempuran di Surabaya pada November 1945 meyakinkan Tan Malaka bahwa kemerdekaan tidak dapat diperoleh di meja perundingan, tetapi harus diperjuangkan dalam sebuah revolusi.
Dia kemudian mengeluarkan semboyan yang cukup terkenal, yaitu 'Merdeka Seratus Persen'. dan 'massa aksi'.
Prinsip Tan Malaka itu menyebabkan dia banyak bertentangan dengan politik diplomasi yang dikembangkan pemerintahan Sjahrir.
Lewat organisasi Pesatuan Perjuangan --yang juga beranggotakan organisasi yang dipimpin Bung Tomo dan Jenderal Sudirman-- tahun 1946 terus menggoyang Sjahrir sehingga dia pun jatuh.
Tetapi, sebelum Tan Malaka muncul, Sjahrir kembali berkuasa. Tan Malaka dan beberapa tokohnya setelah kongres Persatuan Perjuangan di Madiun tanggal 17 Maret 1946, ditangkap dan dipenjara.
Menurut Franz Magnis-Suseno, Tan Malaka pada akhir Maret 1949 ditangkap tentara dan kemudian dieksekusi di penjara pada 16 April 1949.
Tan Malaka meninggal dalam usia 52 tahun.
Dia mewarisi sebuah pemikiran yang ditulis dalam beberapa buku, di antaranya yang berjudul Madilog sepanjang 462 halaman.
Madilog (materialisme, dialektika, dan logika) adalah sebuah gagasan agar bangsa Indonesia keluar dari kegelapan irasionalitas dan masuk ke dalam rasionalitas modern.
Dalam pandangan Tan Malaka, bangsa Indonesia terbelakang karena masih terperangkap dalam logika mistika.
"Karena itu, jalan untuk membebaskan diri dari logika mistika adalah madilog," tulis Franz Magnis.
Cara berpikir gaib atau logika mistika adalah mengaitkan suatu peristiwa dengan mengembalikan kepada perbuatan roh di alam gaib yang berada di belakang alam nyata.
Cara berpikir ini tidak menjelaskan sebab akibat sehingga orang tidak akan pernah maju jika berpikiran seperti itu.
(Tribunnewsmaker/*)
Sebagian artikel ini telah tayang di tribun-bangka dengan judul Tan Malaka Tokoh Pejuang Indonesia di Mata Bung Hatta hingga Dapat Surat Wasiat Soekarno
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/tan-malaka.jpg)