Breaking News:

Liga 1

Kerusuhan Kanjuruhan, Alasan Polisi Tembakkan Gas Air Mata, Banyak Orang Terinjak & Sesak Napas

Tragedi kerusuhan Stadion Kanjuruhan, alasan polisi tembakkan gas air mata, picu sesak napas hingga banyak orang terinjak-injak dan meninggal.

Editor: ninda iswara
SURYAMALANG.COM/Purwanto
Tragedi kerusuhan Stadion Kanjuruhan, alasan polisi tembakkan gas air mata, picu sesak napas hingga banyak orang terinjak-injak dan meninggal. 

Akmal pun melihat kerusuhan ini pun akan menjadi perhatian FIFA lantaran Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 pada tahun 2023.

Menurutnya, jika pemerintah dan PSSI tidak segera melakukan evaluasi maka kemungkinan besar FIFA akan mengeliminasi Indonesia sebagai tuan rumah.

Suporter Arema FC, Aremania turun kedalam stadion usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 2022 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022). Aremania meluapkan kekecewaannya dengan turun dan masuk kedalam stadion usai tim kesayangannya kalah melawan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3
Suporter Arema FC, Aremania turun kedalam stadion usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 2022 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022). Aremania meluapkan kekecewaannya dengan turun dan masuk kedalam stadion usai tim kesayangannya kalah melawan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 (Via Surya Malang)

“Bukan mustahil FIFA menyikapi dengan keputusan mengeliminasi Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 di tahun 2023,” katanya.

Hal tersebut, kata Akmal, diperkuat dengan kerusuhan terjadi di lapangan pertandingan dan deretan regulasi yang dilanggar terkait pengamanan.

“Kejadian terjadi di lapangan dan saat masih dalam situasi pertandingan. Artinya pihak pansel tidak siap dalam mengantisipasi kasus ini.”

“Pihak PSSI juga khilaf tidak mensosialisasikan aturan-aturan pertandingan sepakbola,” paparnya.

Diketahui, kerusuhan setelah pertandingan Arema FC vs Persebaya mengakibatkan 127 orang tewas hingga berita ini diturunkan.

Kapolda Jatim, Irjen Pol Nico Afinta menjelaskan kerusuhan terjadi lantaran suporter Arema FC kecewa karena rekor kandang Singo Edan melawan Persebaya harus ternodai.

Seperti diketahui, Arema FC kalah dari Persebaya 3-2.

Pertandingan berakhir ricuh, suporter Arema cari rekannya yang meninggal di IGD RS Wava Husada Malang
Pertandingan berakhir ricuh, suporter Arema cari rekannya yang meninggal di IGD RS Wava Husada Malang (TribunJatim/Erwin Wicaksono/YouTube Kompas TV)

“Dalam peristiwa tersebut 127 orang meninggal dunia. Dua diantaranya anggota Polri.

Yang meninggal di stadion ada 34 (korban) sisanya di rumah sakit saat upaya proses penolongan.”

“Selain itu, 180 orang masih dalam proses perawatan dilakukan upaya penyembuhan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Malang Sanusi mengatakan seluruh biaya perawatan korban luka dalam kerusuhan ini akan ditanggung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

“Saya perintahkan seluruh masyarakat untuk dirawat.

Semuanya rawat, biayanya semuanya yang nanggung (Pemerintah) Kabupaten Malang,” katanya.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)(YouTube Kompas TV)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Tragedi Kanjuruhan Malang, Saksi Mata: Banyak Orang Terinjak Saat Gas Air Mata Ditembakkan dan di Tribunnews.com dengan judul Deretan Pelanggaran dalam Kerusuhan Arema FC vs Persebaya: Gas Air Mata hingga soal Tiket

Sumber: Kompas.com
Tags:
Stadion KanjuruhanArema FCPersebayaMalang
Berita Terkait
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved