Breaking News:

PECAH TANGIS Jurnalis di Gaza:'Kemarin Saya Tangisi Anak Orang Lain Tiada, Hari Ini 4 Anakku Tewas!'

Lagi bertugas meliput di Gaza, jurnalis ini dikabari empat anaknya tewas dibom Israel: nangis kejer!

Editor: Dika Pradana
AFP Mahmud Hams
Jurnalis Mohammed Alaloul menangisi tewasnya anaknya dibom Israel 

Terhitung telah 26 hari berlalu, dan memasui awal bulan menjadi waktu untuk sejumlah ibu untuk melahirkan bayinya.

Namun miris, ditengah kekacauan yang terjadi saat ini, para ibu hamil harus menahan sakit yang tak biasa.

Baca juga: PARAH! Warga Gaza Mulai Diusir Israel, Tekan Mesir Terima Pengungsi: Diimingi Penghapusan Utang

Nasib ibu melahirkan di Gaza, caesar tanpa obat bius cuma menggunakan cuka
Nasib ibu melahirkan di Gaza, caesar tanpa obat bius cuma menggunakan cuka (Kolase TribunJatim)

Pasalnya, tim medis terpaksa melakukan tindakan operasi Caesar untuk kelahiran para bayi tanpa memberikan anastesi atau obat bius untuk menahan nyeri kepada sang ibu.

Hal ini dikarenakan menipisnya ketersediaan stok obat dan semakin terbatasnya rumah sakit

Tindakan cepat para dokter ini menjadi kisah yang pilu bagi para ibu, karena harus merasakan sakit demi keselamatan sang bayi.

"Kami telah melakukan operasi caesar pada wanita hamil yang terluka akibat serangan Israel tanpa anestesi " kata direktur Rumah Sakit Nasser di Jalur Gaza, Nahhed Abou Taima.

Pada awal-awal minggu setelah pecah peperangan, sejumlah rumah sakit masih mampu menjalankan operasi dengan baik dan memberikan pelayanan maksimal bagi para ibu hamil.

Namun, dengan seiring bertambahnya korban juga sejumlah rumah sakit yang ikut menjadi sasaran bom, membuat para pasien pun menumpuk di rumah sakit yang masih berdiri.

Tantangan para ibu pun semakin sulit di minggu-minggu selanjutnya.

Dimana sistem kesehatan Gaza mulai mengalami penurunan atau bahkan terpaksa berhenti.

Sebab Israel telah memutus pasokan listrik dan menutup akses perbatasan sehingga bantuan tidak bisa masuk ke Gaza.

Hal ini memicu stok obat-obatan di seluruh rumah sakit di Gaza yang masih berfungsi.

Situasi ini kian memburuk dengan tidsak adanya sumber listrik serta bahan bakar untuk menyalakan generator di RS.

Selain para ibu melahirkan, sejumlah korban luka bakar juga harus mendapat tindakan tanpa anestesi.

"Para dokter terpaksa melakukan operasi caesar pada ibu hamil tanpa obat bius," tutur Direktur CARE untuk West Bank dan Gaza, dilansir dari The I Paper.

Hiba Tibi mengatakan bahwa beberapa rumah sakit telah menjalankan prosedur operasi dengan bahan-bahan yang sangat terbatas.

Para dokter bahkan memutar otak untuk bisa mengobati luka para pasien tanpa cairan pembersih luka.

Seorang dokter di RS Shifa di Gaza yang bernama Ghassan Abu Sittah mengatakan, mereka menggunakan Cuka untuk mensterilkan luka.

Prosedur ini juga dilakukan di operasi, termasuk operasi caesar.

Warga Palestina melintas gerbang perbatasan Mesir dan Gaza di Rafah untuk mengungsi ke wilayah Mesir di bagian Selatan Jalur Gaza setelah Israel membombardir mereka, Rabu 1 November 2023. People walk through a gate to enter the Rafah crossing to Egypt in the southern Gaza Strip, on 1 November 2023
Warga Palestina melintas gerbang perbatasan Mesir dan Gaza di Rafah untuk mengungsi ke wilayah Mesir di bagian Selatan Jalur Gaza setelah Israel membombardir mereka, Rabu 1 November 2023. People walk through a gate to enter the Rafah crossing to Egypt in the southern Gaza Strip, on 1 November 2023 (AFP)

"Mereka merasakan sakit yang luar biasa. Dan kalaupun mereka berhasil melewati operasi yang sangat menyiksa itu, mereka harus melewati proses penyembuhan tanpa pereda nyeri," lanjut Hiba.

Selain itu, dalam kondisi sekarat tak sedikit para ibu yang kehilangan nyawa setelah melahirkan bayinya.

Seorang petugas medis di Gaza yang bernama Fikr Shalltoot bercerita bahwa ada seorang ibu hamil dengan kandungan 32 minggu yang meninggal karena pengeboman dari udara.

Petugas medis menyelamatkan janin yang sedang dikandungnya dan seorang bayi kuat pun lahir dengan selamat.

"Seluruh anggota keluarganya meninggal karena serangan bom.

Satu-satunya yang selamat adalah bayi yang berusia 32 minggu," lanjut Hiba.

UNDP menyediakan puluhan bantuan bagi warga Palestina yang terlantar akibat pemboman Israel di Jalur Gaza, terlihat di Khan Younis pada Kamis, 19 Oktober 2023. Ratusan warga Palestina memadati kamp tenda kumuh di selatan Gaza, sebuah gambaran yang telah membawa dampak buruk bagi warga Palestina. kembali kenangan trauma terbesar mereka. Pembangunan kota tenda yang dilakukan secara dadakan di Khan Younis untuk melindungi sejumlah warga Palestina yang kehilangan atau meninggalkan rumah mereka selama beberapa hari terakhir akibat pemboman hebat Israel telah menimbulkan kemarahan, ketidakpercayaan dan kesedihan di seluruh dunia Arab. (AP Photo/Ashraf Amra, File)
UNDP menyediakan puluhan bantuan bagi warga Palestina yang terlantar akibat pemboman Israel di Jalur Gaza, terlihat di Khan Younis pada Kamis, 19 Oktober 2023. Ratusan warga Palestina memadati kamp tenda kumuh di selatan Gaza, sebuah gambaran yang telah membawa dampak buruk bagi warga Palestina. kembali kenangan trauma terbesar mereka. Pembangunan kota tenda yang dilakukan secara dadakan di Khan Younis untuk melindungi sejumlah warga Palestina yang kehilangan atau meninggalkan rumah mereka selama beberapa hari terakhir akibat pemboman hebat Israel telah menimbulkan kemarahan, ketidakpercayaan dan kesedihan di seluruh dunia Arab. (AP Photo/Ashraf Amra, File) ((AP Photo/Ashraf Amra, File))

Kondisi ini juga memaksa para ibu yang telah berhasil melahirkan bayinya untuk sesegera mungkin meninggalkan rumah sakit 3 jam seletah proses persalinan.

"Aku harus keluar rumah sakit 3 jam setelah melahirkan karena harus bergantian tempat dengan ibu hamil lainnya dan dengan orang-orang yang terluka," ujar seorang ibu di Gaza.

Kondisi riuh ini juga mengancam kestabilan mental para ibu yang harusnya fokus dengan kehamilnnya.

Sebab, tak sedikit para ibu harus melahirkan sang bayi sebelum waktunya.

"Karena keadaan ini, angka kematian ibu hamil dan melahirkan akan lebih tinggi jika pasokan medis dan bahan bakar tidak dikirim ke Gaza," ujar Koordinator Advokat dan Komunikasi ActionAid Palestine, Riham Jafari.

Bayi-bayi prematur tersebut lahir dikarenakan kodisi sang ibu yang mengalami ketakutan ekstrem.

Bagaimana tidak, bom terus berjatuhan tanpa jeda dan semakin intens.

Seringnya, Israel menyasar rumah sakit, perumahan warga, dan yang terbaru adalah menyerang area penampungan perang.

Para ibu hamil di Gaza menghadapi situasi yang sangat sulit dan tak terhindarkan, dan mereka harus melahirkan di tengah ancaman bom dan bisa saja kehilangan nyawa kapan saja.

Artikel ini diolah dari Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Tags:
berita viral hari inijurnalisGazaanakIsraelPalestina
Berita Terkait
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved