Klaten Dibanjiri Pengemis Asal Jogja, Wonogiri, Solo, Sukoharjo, Jadi Badut dan Manusia Silver
Klaten dibanjiri pengemis, mayoritas bukan asli Klaten melainkan asal Wonogiri, Solo, Yogyakartam Sukoharjo, ada yang jadi badut dan manusia silver
Editor: Agung Budi Santoso
Klaten dibanjiri pengemis, mayoritas bukan asli Klaten melainkan asal Wonogiri, Solo, Yogyakarta, Sukoharjo, ada yang jadi badut dan manusia silver, kini mereka dalam incaran Satpol PP Damkar Kabupaten Klaten
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pemerintah Kabupaten Klaten melalui Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP Damkar) melaksanakan operasi penertiban terhadap Pengemis, Gelandangan, dan Orang Terlantar (PGOT) pada Selasa (29/4/2025).
Operasi ini bertujuan menciptakan ketertiban di ruang publik, serta sebagai bentuk penegakan Peraturan Daerah Kabupaten Klaten Nomor 3 Tahun 2018 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis, serta Perda Nomor 12 Tahun 2013 tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan.
Sebanyak 17 personel gabungan diterjunkan dalam kegiatan ini. Mereka terdiri dari unsur Satpol PP, TNI, Polri, serta Dinas Sosial P3APPKB (Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, Kesatuan Bangsa dan Politik, serta Keluarga Berencana) Klaten.
Kepala Bidang Penegakkan Perda dan Perbup Satpol PP Damkar Klaten, Sulamto, menyampaikan bahwa sasaran utama operasi adalah para pengamen jalanan, manusia silver, badut, hingga pengemis boneka yang beraktivitas di lampu-lampu lalu lintas dan lokasi strategis lainnya.
"Mulai dari Prambanan hingga Tegalgondo, sepanjang jalur nasional kami sisir semua lampu merah.
Hasilnya, ada 14 PGOT yang kami amankan—13 laki-laki dan satu perempuan," kata Sulamto saat dikonfirmasi.
Dari 14 PGOT yang terjaring, terdiri atas berbagai jenis, yakni dua anak-anak, dua penyandang disabilitas, dua orang dewasa, dua manusia badut, dua manusia silver, serta dua pengemis boneka.
Usia mereka bervariasi, mulai dari 13 tahun hingga 55 tahun.
"Menariknya, sekitar 70 persen dari mereka bukan warga Klaten. Mereka berasal dari daerah lain seperti Wonogiri, Sukoharjo, Solo, dan Yogyakarta. Beberapa di antaranya tinggal di indekos sekitar lokasi mengamen, sementara yang lain pulang-pergi setiap hari," tambahnya.
Setelah ditertibkan, seluruh PGOT tersebut dibawa ke Rumah Singgah milik Dinas Sosial P3APPKB Klaten untuk menjalani pembinaan dan asesmen sosial. Bagi anak-anak, upaya lebih lanjut diarahkan pada pendidikan dan pelatihan keterampilan.
"Ada dua anak, kakak beradik. Sang kakak perempuan sudah lulus SMP dan akan kami arahkan ikut pelatihan menjahit atau make-up artist.
Adiknya yang masih kelas 5 SD putus sekolah. Orang tua mereka sudah kami panggil dan ternyata mereka warga Klaten yang hidup dalam keterbatasan ekonomi," ujar Sulamto.
Sementara itu, Pengemis di Kediri Kedapatan Simpan Uang Puluhan Juta Rupiah
Sementara itu, peristiwa mencengangkan terjadi di Kota Kediri, Jawa Timur. Seorang kakek berinisial AR (70), yang biasa mengemis di Simpang Empat Jalan Kawi, Kecamatan Mojoroto, diketahui menyimpan uang tunai hingga Rp 40 juta hasil dari aktivitasnya meminta-minta di jalanan.
| Misteri Kerangka Manusia di Rembang, Polisi Kejar Petunjuk dari Bau Menyengat yang Menghebohkan |
|
|---|
| Sarwendah Singgung Nafkah, Ruben Onsu Balas Menohok: Kalau Ga Sanggup, Serahkan Anak-anak ke Saya |
|
|---|
| Sosok Demon, Pemalak Mobil Pelat B di Dago Bandung Jawa Barat, Ciut saat Berhadapan dengan Polisi |
|
|---|
| Akhirnya Cair! Gaji ke-13 ASN & Pensiunan Dibayarkan Pada 2 Juni 2026, Ini Daftar Hak yang Diterima |
|
|---|
| Pembatasan Gadget Terhadap Anak Didukung DPRD Sukoharjo, Ini Alasannya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/PENGEMIS-DI-KLATEN.jpg)