Namun, karena kontur Kota Pasuruan yang sebagian bahkan ada yang lebih rendah dari permukaan laut, lima lokasi makam yang jauh dari permukiman warga itu pun akhirnya tidak bisa digunakan.
Pemkot Pasuruan akhirnya memutuskan memakamkan jenazah di TPU Gadingrejo sebagai TPU terbesar di Kota Pasuruan.
Namun, pemakaman menemui sejumlah kendala.
Di tengah rangkaian pemakaman, sejumlah warga datang berunjuk rasa.
Bahkan, ada yang membawa parang.
• POPULER Video Puluhan Bule Gelar Pesta Saat Corona Mewabah di Bali, Petugas Buka Suara!
• Tak Kuat Tahan Lelah & Lapar, Tim Medis yang Bawa OTG Corona Kecelakaan, Ambulans Ringsek Parah
• Warga Bawa Parang Saat Tolak Jenazah Corona, Plt Walkot Pasuruan Yakinkan Cium Kening Penggali Kubur
Namun, setelah diberi pengertian, warga akhirnya menerima.
Pemakaman baru benar-benar usai pada pukul 01.00, Sabtu (11/4/2020).
”Warga yang terprovokasi datang beramai-ramai."
"Bahkan, ada yang membawa parang."
"Tapi, setelah kami ajak dialog, saya sentuh nuraninya, bahkan saya mencium kening para penggali makam untuk meyakinkan warga, mereka akhirnya mengerti dan bubar,” kata Teno.
Sebelumnya, penolakan pemakaman jenazah pasien Covid-19 juga terjadi di Ungaran, Jawa Tengah.
Jenazah yang ditolak merupakan jenazah seorang perawat.
Penolakan itu berujung penangkapan tiga provokator. (TribunNewsmaker/ *)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Warga Tolak Pemakaman Jenazah Positif Covid-19 di Kota Pasuruan, Ada yang Bawa Parang".
UPDATE: Jumlah Kasus Covid-19 di Indonesia Kini 4.557, Bertambah 316