Berita Viral

Nasib WNI Korban Sindikat Penipuan di Myanmar, Jika Tidak Ada Uang Tebusan, Pelaku Ancam Membunuh

Editor: Eri Ariyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Nasib WNI korban sindikat penipuan di Myanmar

Sementara di Bandung, Yulia Rosiana, mengungkapkan nasib kakaknya pada aksi Kamisan yang digelar di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (21/3/2024).

Kakak Yulia, Bima (bukan nama sebenarnya) yang berusia 37 tahun itu awalnya ditawari bekerja di perusahaan manufaktur perakitan telepon seluler di Thailand.

Menurut Yulia, Bima sebetulnya berniat bekerja di Korea Selatan. Bahkan sudah belajar bahasa Korea dan kursus di bidang manufaktur di sebuah lembaga pelatihan kerja (LPK) di Sukabumi.

Sayangnya, impian itu kandas karena pandemi Covid. Dia pun kemudian mendapat tawaran untuk kerja di Thailand dengan gaji Rp 17 juta.

Dengan kondisi sudah sekian tahun bekerja sebagai guru honorer, Bima menyambut tawaran tersebut dan mengeluarkan Rp 20 juta untuk mengurus berbagai dokumen.

Setruman, cambukan, dan pukulan jika tidak mencapai target

Dibantu seorang kerabat, Nurmaya akhirnya mulai menyambangi Kementerian Luar Negeri dan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia di Jakarta dengan bantuan LSM Migrant Care.

Sayangnya, hingga kini masih belum membuahkan hasil.

Hati Nurmaya berontak karena suaminya mengaku mendapat siksaan mulai dari setruman, cambukan, dan pemukulan apabila tidak mencapai target pendapatan yang diminta ‘perusahaan’.

“Harus dapat korban untuk dapat income (pendapatan). Mereka mengerjakannya walaupun bertentangan dengan hati nurani mereka,” tutur Nurmaya yang menyebut suaminya hanya bisa tidur maksimal lima jam setiap malam –sisanya hanya bekerja, bekerja, dan bekerja layaknya “perbudakan zaman modern”.

“Saya tunggu enam bulan… setahun…sekarang dua tahun, tapi hasilnya belum ada,” ujar Nurmaya dengan suara tercekat.

Dia mengaku masih tetap harus bekerja untuk biaya hidup. Meski kedua anaknya sudah bekerja, tetap saja tidak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Di Bandung, Yulia mengatakan kakaknya dan sejumlah WNI lainnya di Myanmar “tidak bisa melawan, tidak bisa kabur karena mereka diawasi oleh militer bersenjata”.

“Keluarga kami dipaksa 15 jam-18 jam bekerja tanpa henti, tanpa libur, setiap hari. Mereka dipaksa bekerja, mereka disiksa, mereka dipukul, dicambuk, dijemur, hingga disetrum hampir setiap hari,” ujar Yulia kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Sama seperti Asep, Bima malah dipaksa bekerja sebagai scammer tanpa digaji, disiksa jika tidak memenuhi target, dan diperjualbelikan dari perusahaan satu ke perusahaan lain.

Halaman
1234