Selama memimpin Pelindo, Arif dikenal dengan visi modernisasi dan efisiensi operasional pelabuhan.
Namun, kemacetan di Tanjung Priok membuka ruang kritik terhadap berbagai kebijakan operasional, khususnya yang berkaitan dengan alur logistik dan sistem digitalisasi yang dinilai belum sepenuhnya efektif di lapangan.
Tuntutan Berujung Evaluasi?
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pelindo maupun Kementerian BUMN terkait tuntutan pencopotan ini.
Namun, gelombang kritik dari pekerja lapangan tentu menjadi sinyal penting bahwa sistem dan kebijakan yang berlaku di pelabuhan butuh evaluasi mendalam.
Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas soal bagaimana pengelolaan pelabuhan nasional ke depan.
Apakah perlu pendekatan yang lebih humanis terhadap buruh pelabuhan? Atau mungkin, transformasi digital dan efisiensi logistik juga harus dibarengi dengan keterlibatan aktif para pemangku kepentingan di lapangan?
Yang jelas, kemacetan di Tanjung Priok bukan hanya soal antrean kendaraan, tetapi juga menggambarkan potret kebijakan yang belum menyentuh kebutuhan nyata para pekerja pelabuhan.
Lantas berikut pengalaman kerja Arif Suhartono, mengutip pelindo.co.id:
- Direktur Operasi PT Multi Terminal Indonesia (2010-2012)
- Direktur Komersial PT Multi Terminal Indonesia (2012-2013)
- Direktur Utama PT Terminal Peti Kemas Indonesia (2013-2014)
- Pj. PMO Leader PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC (2014)
- Direktur Utama Rukindo PT Pengerukan Indonesia (2014-2015)
- Direktur Utama PT Pelabuhan Tanjung Priok (2015-2017)
- Direktur Utama PT Pengembang Pelabuhan Indonesia (2017-2019)
- Direktur Komersial PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) (2019-2020)
- Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) (2020 - 2021)
- Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Persero) (2021-Sekarang)
Riwayat Pendidikan:
- S1 bidang Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung (1994)
- S2 bidang Infrastructure Management dari Yokohama National University Jepang (2001)
- S2 bidang Business Administration dari Nanyang Technological University Singapura (2017)
Baca juga: Sosok & Profil Rasamala Aritonang, Diperiksa soal Kasus TPPU Syahrul Yasin Limpo, Dipecat dari KPK
Kemacetan di Tanjung Priok
Kemacetan di kawasan pelabuhan, khususnya di New Priok Container Terminal One (NPCT1) terjadi sejak Rabu (16/4/2025).
Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok, M Takwim, menyebut jika kemacetan panjang itu terjadi akibat lonjakan aktivitas bongkar muat di Terminal NPCT1, menyusul kedatangan tiga kapal kontainer besar secara bersamaan.
“Untuk hari itu memang ada tiga kapal yang tiba bersamaan di NPCT 1, sehingga terjadi peningkatan volume bongkar muat mencapai di atas 4.000,” ujar Takwim dalam konferensi pers, Jumat (18/4/2025).
Volume tersebut hampir dua kali lipat dari kapasitas harian terminal yang hanya 2.500 kontainer.
Akibatnya, antrean truk mengular hingga ke luar pelabuhan dan menyebabkan kemacetan yang turut berdampak pada arus lalu lintas sekitar.