Iran vs AS
Iran Tolak Gencatan Senjata Selama 45 Hari: Perang Harus Berakhir Total, Bukan Sekadar Jeda!
Iran tolak gencatan senjata 45 hari, tuntut perang diakhiri total tanpa kompromi!
Editor: Eri Ariyanto
Ringkasan Berita:
- Iran menolak gencatan senjata 45 hari dan menuntut perang diakhiri secara permanen dengan jaminan keamanan.
- AS di bawah Donald Trump meningkatkan tekanan, sementara Israel menyerang infrastruktur ekonomi strategis Iran.
- Komunitas internasional memperingatkan potensi pelanggaran hukum internasional di tengah konflik yang kian memanas.
TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki babak krusial setelah Iran secara tegas menolak usulan gencatan senjata sementara selama 45 hari yang diajukan melalui jalur diplomatik internasional.
Padahal, proposal tersebut tengah dibahas oleh Amerika Serikat bersama sejumlah mediator seperti Pakistan, Mesir, dan Turki sebagai langkah awal menuju penghentian konflik yang lebih luas.
Namun bagi Teheran, jeda sementara bukanlah solusi, melainkan hanya penundaan dari konflik yang belum benar-benar selesai.
Iran menilai skema gencatan senjata berisiko mengulang pola lama, di mana pertempuran bisa kembali pecah sewaktu-waktu tanpa kepastian akhir.
Sikap keras ini juga muncul di tengah meningkatnya korban jiwa dan kerusakan akibat serangan yang terus berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Alih-alih menerima kompromi jangka pendek, Iran menegaskan bahwa satu-satunya jalan adalah penghentian perang secara permanen dan menyeluruh.
Pesan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa posisi Iran tidak akan mudah dilunakkan dalam meja perundingan.
Dengan situasi yang semakin memanas, dunia kini dihadapkan pada pilihan sulit: mendorong perdamaian total atau bersiap menghadapi konflik yang berpotensi semakin meluas.
Baca juga: Ultimatum Donald Trump ke Iran Guncang Dunia, Harga Minyak Melonjak Tembus 113 Dolar AS per Barel
Seperti diketahui, kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa Teheran telah menyampaikan tanggapan resminya melalui Pakistan yang berperan sebagai mediator utama dalam perundingan.
Bersamaan dengan penolakan tersebut, Iran juga mengajukan rencana 10 poin sebagai solusi untuk mengakhiri pertempuran.
“Kami hanya menerima pengakhiran perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi,” ujar Mojtaba Ferdousi Pour, kepala misi diplomatik Iran di Kairo, Senin (6/4/2026).
Ia menambahkan bahwa Iran tidak lagi mempercayai pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, setelah AS dua kali membom Republik Islam tersebut dalam putaran pembicaraan sebelumnya.
Di sisi lain, Trump justru meningkatkan tekanan. Ia mengancam akan menggempur Iran hingga kembali ke “Zaman Batu” jika tidak tercapai kesepakatan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan.
Trump juga menegaskan bahwa batas waktu tersebut, yakni Selasa pukul 20.00 waktu setempat, merupakan tenggat akhir. Ia bahkan menyebut telah memberikan cukup banyak perpanjangan waktu kepada Iran.
“Seluruh negara bisa dilumpuhkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam,” kata Trump, dilansir dari AP News, Selasa (7/4/2026).
AS-Israel targetkan ekonomi Iran
| Ultimatum Donald Trump ke Iran Guncang Dunia, Harga Minyak Melonjak Tembus 113 Dolar AS per Barel |
|
|---|
| Nasib Kapal Tanker Indonesia di Selat Hormuz, Dubes Iran Sebut Perlu Komunikasi: Musuh Tak Diizinkan |
|
|---|
| Nasib Indonesia Belum Jelas, Iran Izinkan Kapal Malaysia Lewati Selat Hormuz Gratis, Dianggap Teman |
|
|---|
| Heboh di AS! Trump Dituding ‘Tak Waras’, Amandemen Ke-25 Diusulkan, Wacana Penggulingan Menggema |
|
|---|
| Harga Plastik Naik Tajam, Meroket Dua Kali Lipat hingga 6 Bulan, Perang Iran-AS Jadi Biang Kerok |
|
|---|