Berita Viral
Views Naik Jika Jadi Pria? Membongkar Dugaan Bias Gender dalam Algoritma LinkedIn
Benarkah Algoritma LinkedIn Lebih Menguntungkan Pria? Perlukah Perempuan Mengubah Identitas agar Lebih Terlihat?.
Editor: Tim TribunNewsmaker
Dalam pernyataan resminya, LinkedIn membantah tudingan tersebut. Mereka menyatakan bahwa gender tidak digunakan sebagai sinyal dalam algoritma peringkat konten, dan mengubah gender di profil tidak memengaruhi visibilitas unggahan di pencarian maupun feed.
“Kami secara rutin mengevaluasi sistem kami melalui jutaan unggahan, termasuk meninjau potensi kesenjangan gender, berdasarkan audit internal dan masukan dari pengguna,” tulis LinkedIn.
LinkedIn juga menjelaskan bahwa rendahnya jumlah views bisa saja disebabkan oleh padatnya unggahan. Jumlah postingan di LinkedIn tercatat meningkat 15 persen dari tahun ke tahun, sehingga konten tertentu mudah terkubur oleh unggahan lain yang lebih populer.
Namun, kondisi ini justru membuat perempuan harus bekerja lebih keras agar algoritma “memihak” mereka.
Hambatan Nyata bagi Perempuan
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tantangan visibilitas yang dihadapi perempuan di media sosial bukanlah hal baru. Sebuah studi yang diterbitkan di Nature Communications tahun ini mengungkapkan bahwa akademisi perempuan 28 persen lebih jarang mempromosikan karya mereka di platform X dibandingkan rekan laki-laki.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa banyak perempuan belajar untuk tidak terlalu vokal soal pencapaian mereka, sebagian karena adanya reaksi negatif saat mereka berbicara tentang kesuksesan diri sendiri.
Kombinasi antara sikap menahan diri dan budaya yang kerap membungkam suara perempuan ini menjadi hambatan serius, terutama di LinkedIn—platform profesional yang sangat bergantung pada promosi diri.
Karena itu, banyak pihak menilai LinkedIn perlu melakukan perubahan nyata.
LinkedIn di Persimpangan Jalan
Di saat platform media sosial lain semakin dipenuhi perdebatan kasar dan identitas anonim, LinkedIn justru tampil berbeda. Ini adalah satu-satunya platform besar di mana pengguna dituntut menampilkan identitas asli, sehingga percakapan cenderung lebih sopan dan terkendali.
Namun, di tengah banjir konten hasil AI yang makin mendominasi linimasa LinkedIn, justru cerita-cerita manusiawi dan jujur—tentang kegagalan, keraguan, dan sisi personal kehidupan kerja—yang tampaknya paling menarik perhatian.
Penulis sendiri mengaku bahwa konten LinkedIn paling sukses miliknya di tahun 2025 bukanlah artikel bisnis atau tips karier, melainkan sebuah video sederhana yang direkam dengan ponsel di toilet kantor, saat ia sedang merasa putus asa. Video tersebut ditonton lebih dari 150.000 kali.
Isabel Berwick adalah pembawa acara podcast Working It di Financial Times dan penulis buletin mingguan Working It.
| Jaksa Meyakini Kekayaan Nadiem Tak Wajar, Kenaikan Harta Eks Menteri Tak Seimbang dengan Penghasilan |
|
|---|
| Sikap Josepha Alexandra Usai Polemik Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR Viral di Masyarakat Luas |
|
|---|
| Kata-kata Josepha Peserta LCC 4 Pilar MPR Usai Ketemu Wapres Gibran: Kami Dapat Tips Public Speaking |
|
|---|
| Sosok Adela Kanasya Adies Putri Adies Kadir yang Gantikan Ayah Sebagai Anggota DPR, Karir Mentereng |
|
|---|
| Hasil Pertemuan Trump dan Xi Jinping, Presiden China Berharap Jadi Mitra AS Bukan Malah Saingan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/linkedIn-lebih-menguntungkan-pria.jpg)