Berita Viral
Views Naik Jika Jadi Pria? Membongkar Dugaan Bias Gender dalam Algoritma LinkedIn
Benarkah Algoritma LinkedIn Lebih Menguntungkan Pria? Perlukah Perempuan Mengubah Identitas agar Lebih Terlihat?.
Editor: Tim TribunNewsmaker
Benarkah Algoritma LinkedIn Lebih Menguntungkan Pria? Perlukah Perempuan Mengubah Identitas agar Lebih Terlihat?.
Tribunnewsmaker - Platform jejaring profesional LinkedIn, yang selama ini dikenal tenang dan minim drama, kini justru menjadi bahan perdebatan publik. Di antara unggahan soal promosi jabatan, pencapaian karier, atau kisah sukses membangun bisnis dari nol, muncul tren baru yang mengejutkan: perempuan yang mengaku berpura-pura menjadi laki-laki di LinkedIn.
Baca juga: Begini Cara Cuan dari LinkedIn: Bukan Cuma Cari Kerja, Bisa Jadi Mesin Uang
Berikut apakah benar algoritma LinkedIn lebih menguntungkan pria?
Yang membuatnya semakin menarik, unggahan para perempuan ini justru mengalami lonjakan popularitas setelah mereka mengubah identitas gender di profilnya.
“Menjadi Laki-laki” agar Lebih Terlihat
Sejumlah pengguna perempuan mengungkapkan bahwa mereka melakukan apa yang disebut gender swap, yakni mengganti pilihan gender di profil LinkedIn menjadi “laki-laki” atau menggunakan kata ganti he/him. Langkah ini dilakukan bukan tanpa alasan.
Dalam beberapa bulan terakhir, muncul dugaan bahwa algoritma LinkedIn lebih menguntungkan pengguna laki-laki, terutama dibandingkan perempuan, terlebih lagi perempuan kulit berwarna. Singkatnya, dengan “menjadi laki-laki” di LinkedIn, konten seseorang diyakini akan lebih sering muncul di feed dan dilihat lebih banyak orang.
Eksperimen ini mulai ramai dibicarakan setelah Megan Cornish, seorang konsultan strategi untuk merek kesehatan mental, memperhatikan banyak perempuan mengeluhkan penurunan drastis jumlah tayangan unggahan mereka.
Cornish lalu mencoba eksperimen sendiri. Ia mengubah gender di profil LinkedIn-nya menjadi laki-laki dan meminta bantuan AI untuk menulis ulang ringkasan karier serta unggahan lamanya dengan gaya bahasa yang lebih maskulin.
Hasilnya mengejutkan. Jumlah views unggahannya melonjak hingga 400 persen.
Muncul Gerakan Protes Terorganisir
Beberapa minggu kemudian, terbentuklah kelompok kampanye bernama Fairness in the Feed. Mereka meluncurkan petisi yang menyerukan “visibilitas yang adil untuk semua pengguna LinkedIn” dan mendesak platform milik Microsoft itu agar lebih transparan serta melakukan perbaikan.
Contoh lain datang dari Aceil Haddad, pendiri sebuah agensi PR. Setelah mengganti pronoun di bio-nya menjadi he/him selama tiga minggu, ia melihat jumlah views unggahannya naik hingga 175 persen. Jika sebagian perempuan hanya melakukan gender swap secara sementara, Haddad justru berniat mempertahankannya.
“Kita selalu diberi tahu bahwa platform ini setara. Namun data dan pengalaman nyata menunjukkan sebaliknya,” ujarnya. “Di dunia bisnis yang persaingannya makin keras, kita perlu memanfaatkan semua peluang yang ada.”
Bantahan dari LinkedIn
LinkedIn sendiri merupakan satu-satunya platform media sosial yang secara khusus difokuskan untuk jejaring profesional. Dengan sekitar 1,3 miliar pengguna di seluruh dunia, platform ini memiliki kepentingan besar untuk tetap relevan bagi pencari kerja, perekrut, dan pelaku bisnis.
Namun, jika suara sebagian penggunanya tidak terdengar, lalu apa gunanya berada di platform tersebut?
| Pekerjaan Asli Nisya Pramugari Gadungan Batik Air, Beli Baju & Koper Online, Kini Menyesal Tipu Ortu |
|
|---|
| Alasan Nisya Jadi Pramugari Gadungan & Numpang Batik Air: Agar Ortu Percaya Jika Dirinya Sudah Kerja |
|
|---|
| Jawaban Menohok Yai Mim Usai Jadi Tersangka Kasus Pornografi, Saya Siap Dipenjara Kapan Saja! |
|
|---|
| Nasib Nisya Pramugari Gadungan Batik Air Lolos dari Jerat Hukum, Minta Maaf, Niat Ingin Ortu Bangga |
|
|---|
| Pramugari Gadungan Ikut Batik Air Palembang-Jakarta, Ditanya Tugas Awak Kabin Malah 'Ngangngong' |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/newsmaker/foto/bank/originals/linkedIn-lebih-menguntungkan-pria.jpg)