Breaking News:

Berita Viral

Warga Bekasi Timur Tak Terima Disebut Ada Ormas Kuasai Perlintasan Kereta Api: 'Ini Relawan Warga'

Penjaga pelintasan sebidang Ampera Bekasi Timur, akhirnya angkat bicara terkait isu yang beredar di medsos.

Tayang:
Editor: Candra Isriadhi
KOMPAS.com/ANTONIUS ADITYA MAHENDRA
TABRAKAN KERETA - Petugas berusaha memindahkan gerbong kereta yang hancur akibat KRL Commuter Line ditabrak oleh kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Penjaga pelintasan Ampera membantah keterlibatan ormas atau preman dalam pengelolaan pelintasan.
  • Penjagaan dilakukan secara swadaya oleh warga setempat sebagai relawan.
  • Kegiatan tersebut bertujuan membantu mengatur lalu lintas dan meningkatkan keselamatan tanpa pungutan resmi.

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Penjaga pelintasan sebidang Ampera yang berada di Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, akhirnya angkat bicara terkait isu yang beredar di masyarakat.

Mereka membantah tegas adanya keterlibatan organisasi masyarakat (ormas) maupun aksi premanisme dalam pengelolaan pelintasan tersebut.

Salah satu penjaga, Erfan (40), memastikan bahwa aktivitas penjagaan selama ini dilakukan secara swadaya oleh warga sekitar tanpa campur tangan pihak lain.

KECELAKAAN KERETA - Kondisi terkini pelintasan sebidang Ampera di Kelurahan Duren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, pasca kecelakaan beruntun yang melibatkan taksi Green SM dengan KRL Cikarang–Jakarta serta tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Jakarta–Cikarang, Kamis (30/4/2026).
KECELAKAAN KERETA - Kondisi terkini pelintasan sebidang Ampera di Kelurahan Duren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, pasca kecelakaan beruntun yang melibatkan taksi Green SM dengan KRL Cikarang–Jakarta serta tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Jakarta–Cikarang, Kamis (30/4/2026). (KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA)

Menurutnya, keterlibatan warga murni didasari kepedulian terhadap keselamatan pengguna jalan yang melintas di perlintasan sebidang tersebut.

“Enggak ada itu (ormas). Ini murni relawan warga sini,” ungkap Erfan saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis (30/4/2026).

Erfan menjelaskan, para relawan secara bergantian berjaga untuk membantu mengatur lalu lintas, terutama saat kereta api melintas.

Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Pengacara, Nadiem Dipaksa Hadiri Sidang Meski Sakit, Jaksa Tegas Membantah

Hal ini dilakukan demi mengurangi risiko kecelakaan di titik yang dikenal cukup padat tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh kegiatan dilakukan secara sukarela tanpa pungutan resmi yang bersifat memaksa.

Dengan adanya klarifikasi ini, warga berharap tidak ada lagi kesalahpahaman terkait keberadaan penjaga pelintasan yang selama ini justru berperan membantu keselamatan bersama.

Menurut Erfan, banyak warga memilih menjadi penjaga pelintasan karena keterbatasan lapangan pekerjaan.

KECELAKAAN KERETA - Taksi hijau Green SM ditabrak KRL di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Senin (26/4/2026).
KECELAKAAN KERETA - Taksi hijau Green SM ditabrak KRL di sekitar Stasiun Bekasi Timur, Senin (26/4/2026). (Dok./Tangkapan layar video akun X TMC Polda Metro Jaya)

Meski demikian, mereka tetap siap mengikuti kebijakan pemerintah maupun PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait rencana penataan ke depan.

“Kami ikut saja kalau nantinya mau dibangun flyover atau apa. Soalnya ini kan lahan mereka,” ujar Erfan.

Ia menilai, kondisi pelintasan saat ini sudah lebih aman dibanding sebelumnya yang hanya menggunakan palang bambu.

Baca juga: Gencatan Senjata dengan AS Segera Berakhir! Iran Siapkan Kejutan Besar di Medan Perang

Namun, risiko tetap ada, terutama akibat tingginya mobilitas kendaraan dan perilaku pengendara yang kerap terburu-buru.

“Ketakutan pasti ada, tapi ini buat perut juga. Ini penghasilan,” katanya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Tags:
kecelakaan krlKRLBekasi Timur
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved