Potongan harga ini berlaku selama dua bulan penuh, waktu yang berbarengan dengan puncak musim liburan anak sekolah.
Pemerintah melihat insentif di sektor transportasi sebagai langkah krusial untuk menggenjot konsumsi rumah tangga, terlebih dalam kondisi saat ini di mana tak ada lagi momen besar seperti Natal, Tahun Baru, atau Lebaran.
Tanpa perayaan besar tersebut, konsumsi masyarakat cenderung melambat, sehingga dibutuhkan pemicu baru agar roda ekonomi tetap berputar.
Data pada kuartal sebelumnya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mampu menyentuh angka 4,87 persen, lebih rendah dibandingkan capaian kuartal I 2024 yang berada di angka 5,11 persen.
Penurunan ini menjadi sinyal bahwa diperlukan langkah cepat dan terukur untuk menjaga target pertumbuhan tetap berada di atas ambang 5 persen.
Menambah kekhawatiran, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan terbarunya bertajuk World Economic Outlook (WEO) edisi April 2025, bahkan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
IMF memperkirakan ekonomi nasional hanya akan tumbuh 4,7 persen pada 2025, dan stagnan di level yang sama hingga 2026.
Angka ini berada di bawah ambang psikologis pertumbuhan 5 persen yang selama ini menjadi acuan optimisme ekonomi nasional.
Dengan tantangan global dan domestik yang semakin kompleks, pemerintah berharap insentif di sektor transportasi ini bisa menjadi pemicu bagi meningkatnya mobilitas, konsumsi, dan pada akhirnya menyumbang terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan inklusif.
(Tribunnewsmaker.com/Darma)