Breaking News:

Berita Viral

Usai Kompak Balas Roastingan Pandji, Tompi Langsung Temui Gibran, Ngaku Bahas Keberlanjutan Program

Kompak balas roastingan Pandji, Tompi langsung temui Gibran. Bukan soal polemik, tapi bahas program berkelanjutan.

Tayang:
Editor: Eri Ariyanto
Instagram/@dr_tompi
TOMPI KRITIK PANDJI - Tompi kritik tajam materi Pandji Pragiwaksono soal mata Gibran, Ptosis bukan bahan lelucon. 

Tompi mengkritik materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan Mens Rea yang menyinggung kondisi mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, karena dinilai menertawakan kondisi medis yang dikenal sebagai ptosis.

Kritik tersebut disampaikan Tompi melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @dr_tompi, setelah Pandji melontarkan guyonan tentang mata Gibran yang terlihat sayu dan dianggap seperti orang mengantuk dalam materi komedinya yang tayang di Netflix.

Gibran Pakai Lagu Pandji

Hingga kini, Gibran belum memberikan tanggapan terkait materi roasting Pandji.

Meski demikian, ada hal menarik di postingan Instagram akun @gibran_rakabuming pada 2 Januari 2026 lalu.

Gibran mengunggah konten dengan memakai lagu berjudul Lagu Melayu yang dirilis Pandji pada 2018 silam.

Dalam konten tersebut, Gibran mendatangi Doss Guava XR Studio di Jakarta Selatan.

'Mampir ke Doss Guava XR Studio, ruang film berbasis teknologi extended reality yang sangat membanggakan' tulis Gibran dalam keterangan video.

'Pemerintah harus mendorong generasi muda dan insan kreatif melalui kolaborasi dan pemanfaatan teknologi'  imbuhnya. 

'Saya yakin sekali, industri film Indonesia akan dapat tumbuh berkelanjutan serta mampu bersaing di tingkat global. Gas!,' pungkasnya.

Tompi: Ptosis bukan bahan lelucon

Tompi menegaskan bahwa kondisi mata yang tampak “mengantuk” bukan persoalan estetika atau ekspresi, melainkan kondisi medis yang memiliki penjelasan ilmiah.

“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” tulis Tompi, seperti dikutip Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Ia menambahkan bahwa kritik, satir, dan humor sah dalam demokrasi, tetapi menyerang kondisi fisik yang tidak bisa dipilih oleh seseorang menunjukkan kemalasan berpikir.

“Merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” lanjut Tompi.

(TribunNewsmaker.com/WartaKotalive.com)

Halaman 3/3
Tags:
Pandji PragiwaksonoGibran Rakabuming RakaTompi
Rekomendasi untuk Anda

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved